KREDIT INVESTASI KOLEKTIF DANA INVESTASI INFRASTRUKTUR  (DINFRA)

KREDIT INVESTASI KOLEKTIF DANA INVESTASI INFRASTRUKTUR (DINFRA)

Mandiri Investasi, sebagai Manajer Investasi bersama dengan Bank Kustodian membentuk Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (“KIK DINFRA”) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. KIK DINFRA saat ini telah berinvestasi dengan memiliki 53,8% saham PT Jasamarga Pandaan Tol yang memegang konsesi jalan tol di Rute Gempol – Pandaan (“JPT”) melalui SPC yang dikuasai DINFRA dan juga berinvestasi dalam MTN yang diterbitkan oleh JPT.

Rencananya, selain berinvestasi pada JPT, DINFRA juga berencana untuk berinvestasi pada saham-saham Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang terintegrasi dalam ruas tol Transjawa sebagaimana tercermin pada gambar di samping. Investasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan setoran modal masing-masing BUJT dari waktu ke waktu maupun karena alasan lainnya.

Struktur Investasi pada aset infrastruktur
  • Mandiri Investasi & Bank Kustodian telah membentuk suatu Dana Investasi Infrastruktur berbentuk Kontrak Investasi Kolektif dengan nama DINFRA Toll Road Mandiri-001 sebagai wadah untuk menggalang dana melalui penerbitan Unit Penyertaan yang akan ditawarkan kepada Pemodal. Pemodal selanjutnya akan membeli Unit Penyertaan dari DINFRA Toll Road Mandiri-001 dan menjadi pemegang Unit Penyertaan dengan demikian tunduk pada ketentuan dalam Kontrak Investasi Kolektif;
  • DINFRA Toll Road Mandiri-001 memiliki total pengelolaan sebesar Rp. 1,010T atas pengelolaan tersebut DINFRA Toll Road Mandiri-001 telah berinvestasi pada PT Jasamarga Pandaan Tol dengan melakukan pembelian atas penerbitan saham baru PT Jasamarga Pandaan Tol dengan nilai Rp. 300 Miliar dan membeli kepemilikan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebesar Rp. 479,886 Miliar dan sehingga total investasi DINFRA Toll Road Mandiri-001 pada PT Jasamarga Pandaan Tol sebesar Rp. 779,886 Miliar. Dengan dilaksanakannya transaksi-transaksi tersebut komposisi pemegang saham pada PT Jasamarga Pandaan Tol menjadi: PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sekurang-kurangnya 40%; PT Jalan Tol Kabupaten Pasuruan sekurang-kurangnya 6%; dan DINFRA Toll Road Mandiri-001 53,8%, selain itu DINFRA Toll Road Mandiri-001 telah berinvestasi pada efek/aset lainnya yang bergerak pada pengusahaan jalan tol dan kas setara kas.
  • Unit Penyertaan DINFRA Toll Road Mandiri-001 akan dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Risiko Investasi Yang Terkait Dengan Kinerja Underlying Aset DINFRA TOLL ROAD MANDIRI-001 Antara Lain:

Risiko Perubahan Kondisi Ekonomi, Politik dan Peraturan
Volume lalu lintas berpengaruh langsung pada pendapatan Perusahaan Pemilik Aset Infrastruktur. Volume lalu lintas yang ramai akan berdampak positif pada pendapatan Perseroan. Namun, Perusahaan Pemilik Aset Infrastruktur juga menghadapi risiko volume kendaraan tidak sesuai dengan prediksi, terutama pada jalan tol yang baru beroperasi. Hal ini dapat terjadi karena proyeksi yang terlalu optimis dan kebijakan-kebijakan yang tidak terpadu. Penurunan volume kendaraan juga dapat terjadi pada jalan tol yang sudah beroperasi akibat kenaikan BBM, melambatnya pertumbuhan ekonomi, perubahan tata ruang, pembangunan jaringan jalan baru tersedianya alternatif transportasi lain seperti kereta api, kenyamanan dan waktu tempuh jalan non-tol.

Risiko Terputusnya Konstruksi Jalan Tol 
Jalan tol baik yang dalam proses konstruksi maupun yang telah beroperasi dapat terputus karena beberapa hal, antara lain berada pada zona yang tidak aman, tanah rendah, atau area potensi longsor. Bila konstruksi jalan tol tidak memungkinkan untuk diteruskan atau terputus, maka hal ini akan berdampak bertambahnya biaya konstruksi dan tertundanya pendapatan Perusahaan Pemilik Aset Infrastruktur. Sedangkan untuk jalan tol yang telah beroperasi akan berdampak pada berkurangnya pendapatan Perusahaan Pemilik Aset Infrastruktur.

Risiko Penyesuaian Tarif
Berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2005 sebagaimana diubah terakhir berdasarkan peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2017, Pemerintah berkewajiban untuk melakukan penyesuaian tarif tol untuk setiap jalan tol yang dioperasikan Perseroan setiap dua tahun sekali berdasarkan angka inflasi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Namun demikian, ada risiko penyesuaian tarif tertunda atau besarannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tertundanya penyesuaian tarif bisa disebabkan oleh belum terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan penolakan masyarakat. Tertundanya penyesuaian tarif akan membawa dampak negatif terhadap tingkat keuntungan, arus kas, kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek usaha Perusahaan Pemilik Aset Infrastruktur.

Risiko Operasi Terkait Dengan Pendapatan Aset Infrastruktur
DINFRA Toll Road Mandiri-001 dihadapkan pada risiko terkait dengan sektor infrastruktur, seperti (i) siklus penurunan kondisi perekonomian, (ii) kebutuhan perbaikan dan peningkatan kualitas aset yang berkala, (iii) perubahan tingkat upah, harga, biaya bahan bakar dan biaya konstruksi serta pemeliharaan yang disebabkan oleh inflasi, kebijakan pemerintah, perubahan suku bunga dan fluktuasi tingkat nilai tukar mata uang, (iv) ketersediaan sumber pembiayaan untuk kegiatan operasional atau belanja modal, (v) peningkatan biaya operasional yang disebabkan oleh inflasi yang tidak selalu dapat diimbangi dengan kenaikan pendapatan, dan (vi) faktor-faktor lain termasuk wabah penyakit, aksi terorisme, bencana alam, kekurangan tenaga kerja, aksi mogok dan perselisihan buruh.

Hubungi Bank Mandiri untuk keterangan lebih lanjut.

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190