FUTIKAH MUNAWAR,  BAHAGIA KETIKA YANG LAIN BAHAGIA

FUTIKAH MUNAWAR, BAHAGIA KETIKA YANG LAIN BAHAGIA

05 Jan 2021 17:08

Tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran bukan berarti tak bisa terjun di dunia usaha bidang medis. Futikah Munawar (64) membuktikan hal  tersebut dan bahkan meraih sukses. Berbekal niat, semangat, intuisi, dan dukungan suami—yang awalnya tidak setuju—Futikah memutuskan untuk mendirikan sebuah klinik PBDS (Praktik Bersama Dokter Spesialis) Binawaluya di Jl. TB Simatupang No. 71, Jakarta Timur. Klinik tiga lantai yang memberikan layanan medis untuk spesialisasi anak, kandungan, dan jantung ini berdiri pada 5 Januari 2004. 

Dukungan suami menjadi sangat berarti dalam menjalankan kliniknya dan membuat kepercayaan diri Futikah menguat. Sangat beralasan, sebab sang suami, DR. dr. M. Munawar, SpJP(K), FIHA, FESC, FAAC, adalah salah satu dokter spesialis jantung ternama di negeri ini. Ia menjadi tim dokter kepresidenan di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Dan setidaknya ilmu akuntansi yang saya punya bermanfaat juga, karena saya yang memegang urusan keuangan,” kilah Futikah yang pernah mengenyam pendidikan di Akademi Akuntansi dan Perbankan Yogyakarta ini. 
 

MENJADI YANG PERTAMA
Dan perjalanan pun tak terhenti seiring waktu. Dua tahun sejak berdiri, tepatnya pada 10 September 2006, klinik Binawaluya bertransformasi menjadi RS Jantung Binawaluya sekaligus mengukuhkan dirinya menjadi RS jantung swasta pertama di Indonesia. Meski gedung sederhana, layanan dan fasilitas yang ditawarkan sudah lengkap termasuk kesiapan tenaga medis dan paramedis. Hampir semua tindakan dilakukan di sini, termasuk tindakan pembukaan penyempitan pembuluh darah tanpa operasi dengan teknik intervensi koroner perkutan (Percutaneous Coronary Intervension/PCI).

Futikah menjelaskan, keberadaan RS Jantung Binawaluya banyak membantu masyarakat Jakarta, terutama yang berdomisili di wilayah timur Jakarta. Sebab sebelum itu, satu-satunya rumah sakit jantung adalah RS Harapan Kita yang berada di Jakarta Barat. 
 

Awal-awal beroperasinya rumah sakit menjadi hari-hari yang melelahkan bagi Futikah. Ia harus banyak berhemat karena pengeluaran untuk membeli peralatan medis, pemeliharaan, dan gaji karyawan tidak bisa dibilang sedikit. “Semua ditanggung dari pendapatan bulanan kami,” katanya. Namun kelelahan itu tak perlu berlama-lama karena buah nikmatnya segera ia petik.

Dalam perjalanannya, RS Jantung Binawaluya tercatat mendapatkan dua kali akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), salah satunya adalah akreditasi bintang lima Paripurna sebagai akreditasi tertinggi dalam kualitas pelayanannya. 

Tak hanya itu, RS Jantung Binawaluya juga menjadi rumah sakit rujukan di Indonesia untuk gangguan jantung dan menjadi satu-satunya rumah sakit swasta di Indonesia yang ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan khusus spesialis jantung. Para dokter spesialis yang mengikuti fellowship di sini tak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri, seperti India dan Vietnam.  

Kini, selain peralatan medis yang mutakhir, RS Binawaluya dilengkapi dengan hostel (hospital hotel), khusus untuk memudahkan keluarga pasien dari luar daerah, atau untuk pasien yang ingin beristirahat lebih nyaman. 

JEDA DI MASA PANDEMI
Futikah mengaku, pandemi Covid-19 sekarang ini membuat usahanya mengalami kesulitan. Tren kunjungan pasien ke rumah sakitnya menurun lumayan banyak. “Di awal pandemi banyak yang takut datang ke rumah sakit, dan sebaliknya, para dokter pun harus ekstra hati-hati menangani pasien yang datang,” kata ibu tiga orang anak yang dua di antaranya menjadi dokter spesialis jantung di RS Binawaluya ini. “Kalau dulu satu dokter bisa melayani 60 pasien per hari, sekarang total pasien yang datang paling banyak 30 per hari.”
 
         

Meski begitu, di sisi lain kondisi ini memunculkan berkah bagi Futikah. Kesibukan berkurang dan dengan begitu ia bisa melakukan upgrade beberapa peralatan medis rumah sakit. Dan kini, setelah diberlakukannya new normal, kondisi sudah  mulai kembali membaik. Pasien yang datang sudah paham bagaimana melindungi diri dari paparan virus Corona, dan rumah sakit pun memberlakukan protokol kesehatan yang ketat untuk keamanan pasien dan tenaga medis.

Di masa new normal ini RS Binawaluya juga mengadakan pemeriksaan medis secara virtual. Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk mencegah penularan virus. “Biasanya kita lewat Zoom, dan ini dilakukan untuk pemeriksaan tertentu yang tidak memerlukan kehadiran pasien ke rumah sakit,” jelas Futikah. 
 
TIDAK BISA DIAM
Menjadi pebisnis bukanlah cita-cita perempuan pengagum Presiden Joko Widodo ini. Bermimpi menjadi guru sejak kecil, kemudian mengubah cita-cita menjadi bankir, tapi ternyata akhirnya menikmati hidup sebagai seorang pengusaha. Bahkan, saat ini Futikah juga menjalankan bisnis properti, khususnya tanah. “Mungkin karena orang tua dulu juga menjadi pengusaha batik, jadi sedikit banyak saya ada ketertarikan di dunia bisnis,” ungkapnya.

Meski begitu ibu yang punya hobi menyanyi ini merasa pencapaiannya belumlah selesai. Ia mengaku tidak bisa diam sejak kecil dan akan selalu mencari kesibukan. “Tentu kesibukan yang positif dan bermanfaat,” kilahnya. Seperti sekarang ini, ia tidak bisa diam dan akan terus mengembangkan rumah sakitnya sehingga akan lebih banyak masyarakat yang tertolong. 
 

Membantu orang lain memang merupakan salah satu hal yang membuat Futikah merasa bahagia. “Saya bukan siapa-siapa. Karena itu saya merasa pencapaian saya sekarang ini berkat orang lain di sekeliling saya, termasuk masyarakat sekitar. Dan saya ingin mereka berbahagia bersama saya,” ucap pemilik motto hidup ‘bahagia dunia akhirat’ ini.

Salah satu upaya berbagi kebahagiaan itu ia wujudkan dengan memberangkatkan umrah sejumlah karyawan RS Binawaluya. Dan ini akan menjadi program rutin selama ia mampu. Karena ia merasa keberhasilan RS Binawaluya bukanlah berkat dirinya saja, melainkan juga berkat dukungan kuat keluarga dan kekompakan seluruh karyawan. 

Futikah juga menyebutkan peran Bank Mandiri yang selama ini menemani dan mendukung perjalanan bisnisnya hingga sekarang. “Sejak awal rumah sakit berdiri hingga sekarang, kami memercayakan sejumlah urusan keuangan kepada Bank Mandiri. Selain dekat dengan domisili saya, Bank Mandiri juga sudah teruji kredibilitasnya,” kata Futikah memberi alasan. 

ANTISTRES DENGAN MENYANYI 
Hingga di usianya yang sudah lebih dari setengah abad sekarang ini, Futikah masih terlihat aktif. Kegiatan sosialnya bersama teman-teman dekat masih terus berjalan. Bahkan saat perlu pergi ke luar kota pun ia mengendarai mobil sendiri, tanpa sopir. Barangkali itu pula yang membuat ia merasa jarang mengalami stres. “Harus banyak bersenang-senang,” katanya. 

     

Satu hal yang juga membuat hidupnya jadi lebih enteng adalah bernyanyi. Futikah memang sudah gemar bernyanyi sejak kecil, menjadi “biduanita kamar mandi”. Hingga sekarang pun ketika ada waktu luang di rumah ia berkaraoke di rumah. Pun, ketika berkumpul bersama teman-teman atau sedang di tengah acara, suaranya ikut menghibur hati orang lain.

Bahkan, seakan tidak mau kalah dengan anak-anak muda, Futikah mencoba mendokumentasikan suara merdunya melalui Youtube di kanal Futikah Munawar.  “Kalau ini cuma iseng aja, atas dorongan dari anak saya,” kilah ibu yang menyukai semua genre musik ini.

Ada keinginan menjadi youtuber atau penyanyi? “Ah, jauh laaah… ha ha ha,” katanya.
 
    

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190

image title image title image title image title



Mandiri Call 14000
man[email protected]
terms & condition