EMILY SUBRATA, BADAI PASTI BERLALU

EMILY SUBRATA, BADAI PASTI BERLALU

05 Jan 2021 16:50

Bak sepotong surga, pesona alam Indonesia sungguh memukau. Banyak wilayah yang menjadi incaran wisatawan, khususnya kawasan timur Indonesia, seperti Bali, Lombok, Pulau Komodo, hingga Papua. Sayangnya, serbuan virus Corona memorakporandakan pariwisata tanah air dan seluruh dunia. Sejak awal tahun 2020, jumlah kunjungan wisatawan terus menurun hingga mencapai titik nol karena seluruh tempat wisata terpaksa harus ditutup sementara.

Bisnis perhotelan termasuk yang terpukul hebat akibat pandemi Covid-19 sebab bersinggungan langsung dengan dunia pariwisata. Hal itu turut dirasakan oleh Emily Subrata (36), Direktur PT Griya Utama yang menangani Sudamala Resort. “Unfortunately, right now the world is battling Covid-19. Pariwisata saat ini sangat struggle. Namun, saya mencoba untuk tidak berpandangan terlalu pendek. Kalau ada sesuatu yang kurang pas pada bisnis, kita harus memikirkan solusi ke depannya. Badai pasti berlalu,” ujar Emily ketika ditemui di Sudamala Suites & Villas, Sanur, Bali, beberapa waktu lalu. 
 
        
 
MEMADUKAN SENI DAN LOCAL EXPERIENCE
Sudamala Resort dirintis pertama kali pada tahun 2011 oleh Benyamin Subrata yang tak lain adalah ayah Emily. Kecintaan sang ayah pada Pulau Dewata diwujudkan dengan membangun Sudamala Suites & Villas di Sanur. Dengan mengusung konsep art boutique hotel, Ben—sapaan akrab Benyamin Subrata—memadukan tiga unsur budaya: Bali, Tiongkok, dan kolonial. Tebaran benda-benda seni mulai dari lobi hingga ke setiap kamar memanjakan setiap mata para tamu yang bertandang ke Sudamala Suites & Villas.
 
   

Seiring waktu, Sudamala Resort terus berekspansi. Selain di Sanur, kini Sudamala juga sudah beroperasi di Amed-Bali, Lombok-NTB, Seraya-Flores, dan Labuan Bajo-NTT. Semua hotel tersebut dikemas dengan perpaduan antara seni dan local experience. Yang di Bali misalnya, memiliki kelebihan dari sisi seni sehingga para tamu dapat berinteraksi dengan benda-benda dan aktivitas seni. Sementara di Lombok, para tamu akan dimanjakan dengan suasana pantai lengkap dengan pemandangan sunset yang spektakuler. Untuk hotel di Labuan Bajo, letaknya berdekatan dengan Taman Nasional Pulau Komodo serta dikelilingi dive site yang keren sehingga menyajikan pengalaman berlibur yang berkesan.
Menariknya lagi, para tamu tak sebatas menikmati fasilitas hotel yang artistik dan cozy, tapi juga diajak untuk merasakan local experience. Selama berada di dalam hotel, para tamu bisa mengikuti kegiatan yang mengeksplorasi pengalaman budaya setempat. Dikatakan Emily, bisnis hospitality berkaitan erat dengan pelayanan sehingga ia berupaya memperlakukan para tamu layaknya tamu pribadi.
 
      

“Kami ingin menjadi jembatan antara tamu dan lokasi di mana mereka berada. Kita mau tamu-tamu kita menikmati experience dengan pilihan waktu berlibur mereka yang tidak lama. Sebagai contoh, ketika kita kedatangan teman dari luar, kita pasti memberikan yang terbaik, mulai dari kamar tidur, makanan, destinasi, dan lain sebagainya. Pesan tersebut kami sampaikan kepada seluruh tim di Sudamala Resort,” jelas Emily.
 
  

JATUH HATI DENGAN HOSPITALITY
Tahun 2012 Emily kembali ke tanah air setelah selama 15 tahun tinggal di Australia untuk bersekolah dan merintis karier di dunia pendidikan. Emily sempat menjadi asisten peneliti dan bekerja di Holmes Institute, Sydney, Australia. Dengan latar belakang industri edukasi, bukan hal mudah baginya berkecimpung di hospitality. Emily pun mengikuti training di tiga hotel—dua di Bali dan satu di Jakarta—guna mempelajari bagaimana operasional hotel. Selesai training, wanita lulusan University of Sydney, Australia, ini lanjut ‘terbang’ ke Swiss untuk meraih gelar MBA. 

Tahun 2014, Emily pulang dari Swiss dan secara resmi bergabung di Sudamala Resort. Dia mendapati perbedaan yang cukup signifikan antara industri hospitality dengan manajemen pendidikan yang selama ini menjadi concern-nya. Namun hal itu malah membuatnya merasa tertantang dan akhirnya jatuh hati pada dunia hospitality.

“Secara konsep, antara hospitality dan edukasi berbeda sekali namun ada kesamaan, yakni service. Di dunia pendidikan, yang saya hadapi adalah orang-orang yang menjalankan training untuk sertifikasi. Sekarang saya melayani orang-orang yang sedang menikmati liburan. Oleh karenanya saya harus belajar lagi untuk mendalami seluk-beluk bisnis hospitality. Dan kedua bidang ini punya tantangan masing-masing,” papar Emily.
 
      

Emily memiliki pandangan yang optimis terhadap dunia pariwisata di Indonesia. Setidaknya selama enam tahun mengelola Sudamala Resort, putri sulung pasangan Ben Subrata dan Niluh Rosye Peny Subrata ini telah mendapati tren pertumbuhan pada bisnisnya sejalan dengan makin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke wilayah-wilayah di Indonesia.

“Secara umum, tanpa melihat situasi Covid-19 seperti saat ini, saya sangat excited, karena Indonesia itu banyak sekali area-area yang belum banyak tereksplorasi dan sangat menarik untuk dikunjungi. Bicara soal wisatawan, wisatawan dosmetik saja jumlahnya sangat besar. Saat ini semua orang bisa naik pesawat layaknya naik bus, banyak pilihan dan harga sangat kompetitif. Jadi dunia hospitality dan dunia pariwisata itu sangat potensial,” terangnya. 

Fasilitas dan layanan yang memanjakan para tamu, kata Emily, adalah komitmen dalam industri jasa. “Sama halnya dengan Bank Mandiri, perusahaan jasa dengan fasilitas yang banyak. Buat saya, menjalin hubunga dengan Bank Mandiri sangat menguntungkan. Akses dan fasilitas selalu tersedia, serta adanya kesinambungan antara personal dan bisnis,” kata Emily, memuji layanan Bank Mandiri.

AYAH SEBAGAI PANUTAN
Kiprah Emily dalam menjalankan roda bisnis keluarganya tentu tidak terlepas dari peran sang ayah. Beruntung bagi Emily memiliki seorang ayah yang memberi kebebasan dalam memilih jalan kariernya. Sebagai pebisnis andal yang memiliki beberapa perusahaan, ayahnya bisa saja memaksa Emily untuk segera terjun sejak lulus bersekolah.
 

“Saya memang memiliki passion di bidang edukasi, tapi ketika saya masuk ke hospitality, sama sekali tidak ada tekanan dari orang tua. Ayah memberi kebebasan kepada saya dan adik saya, Karla Subrata, untuk memilih jalur yang disukai,” ungkap Emily.

Diberi kepercayaan untuk terlibat dalam mengelola perusahaan, Emily tidak menampik bahwa ada kesenjangan pola pikir dan gaya kepemimpinan dengan sang ayah. Namun begitu, ia tetap memosisikan ayahnya sebagai panutan. “Ayah adalah orang yang tidak neko-neko, he is very logical. Kalau pandangan beliau memang benar dan baik, saya pasti melakukannya. Saya juga ingin seperti ayah yang bisa mengembangkan dan menjaga perusahaan sampai ke generasi berikutnya,” pungkas Emily. 
 
   
 
  
  

          

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190