JOSEPH THEODORUS WULIANADI,  MENJUAL KEBAHAGIAAN ALA MR. JOGER

JOSEPH THEODORUS WULIANADI, MENJUAL KEBAHAGIAAN ALA MR. JOGER

05 Jan 2021 16:39

Banyak hal yang bisa dihasilkan dari olah kata-kata. Memancing tawa, membuat orang berintrospeksi diri, memacu motivasi, mengaduk emosi, dan sederet hal  lainnya. Kalau ingin bukti, coba saja tengok produk olahan kata-kata karya Joger Jelek. 

Mandiri Prioritas kembali memperoleh kesempatan berkunjung ke kantor dan outlet Joger yang terletak di Jalan Raya Kuta, Bali beberapa waktu silam. Keunikan langsung bisa dirasakan sejak pertama kali menjejakkan kaki di Joger. Para pengunjung akan disapa dengan deretan kalimat-kalimat humor dan menyentil yang bertebaran di sekeliling outlet hingga kantor. Nah jika selama ini kita familiar dengan kalimat “pusat oleh-oleh”, maka di Joger Anda akan menemukan kalimat “pusat tolah toleh” yang terpajang di depan outlet.

Beberapa waktu lalu Joseph Theodorus Wulianadi atau yang akrab dipanggil Mr. Joger ditemani sang istri tercinta, Rr. Ery Koesdarijati, menyambut hangat Mandiri Prioritas dan dengan senang hati menjadi tour guide kami menjelajah setiap sudut kantor dan outlet Joger. 

Alih-alih menyebutnya sebagai pusat merchandise khas Bali, Mr. Joger memilih ‘pabrik kata-kata ketiga di dunia’ sebagai identitas Joger. Lalu, siapa yang pertama dan kedua? “Justru yang pertama dan kedua tidak ada, kami jadi berani mengaku yang ketiga, ha ha ha,” gurau Mr. Joger. 

BERSAING DENGAN DIRI SENDIRI
Pabrik kata-kata Joger dirintis sejak tahun 1980, berawal dari sebuah toko sederhana pemberian orang tua Mr. Joger yang terletak di Jl. Sulawesi, Denpasar. Namun secara de facto, Joger lahir pada 19 Januari 1981. Nama Joger sendiri merupakan gabungan dari penggalan nama Joseph dan Gerhard. Gerhard Seeger adalah teman Mr. Joger semasa bersekolah di Jerman Barat pada periode 1970-an yang pernah memberi hadiah pernikahan berupa uang sebesar USD20.000 ketika Mr. Joger kembali ke Indonesia.

Joger menyasar target pangsa pasar lokal pada saat semua pengusaha membidik turis mancanegara. Hal ini menjadi keputusan piawai dari seorang Mr. Joger. Terbukti tren bisnisnya terus meningkat. Hingga kini, Joger hanya memiliki dua outlet, di Jalan Raya Kuta, Denpasar, dan Teman (Tempat Penyaman) Joger di Luwus, Tabanan.
 

Sebenarnya, banyak permintaan ke Mr. Joger untuk membuka cabang di tiap kabupaten. Bahkan pihak-pihak dari luar Bali dan luar negeri pun menawarkan perluasan bisnis Joger. Namun semua itu belum bisa dipenuhinya. “Joger  tidak boleh dijual di luar outlet kami. Sejauh ini, kami tidak memiliki reseller. Selain itu, kami juga belum terpikirkan untuk menjual secara online. Kami kan menjual kebahagiaan. Saya merasa bahagia kalau bisa melayani para tamu secara langsung,” ungkap pria kelahiran Denpasar, 9 September 1951 ini.

Nama besar Joger menjadi santapan empuk bagi para penjiplak yang hendak meraup keuntungan besar. Bukan cuma sebatas desain dan tulisan yang dimiripkan, tanda tangan yang menjadi ciri khas Joger pun tidak luput ditirunya. Bahkan brand oleh-oleh ternama pun turut pula meniru tanpa malu-malu. Menyikapi hal tersebut, Mr. Joger berkata dengan enteng, “Kan Anda sendiri yang bilang mereka mirip Joger. Artinya, mereka bukan pesaing, tapi pengekor. Masa kami bersaing sama ekor sendiri.”

CIRI KHAS: UNIK DAN NYELENEH 
Banyak keunikan yang dilakukan Mr. Joger dalam menjalankan bisnisnya. Misalnya, ia membatasi pembelian produk maksimal 12 buah saja untuk satu orang pembeli. Padahal Joger menyediakan lebih dari 15 ribu item produk. “Supaya yang lain bisa kebagian, ha ha ha,” dalih Mr. Joger yang menggelari dirinya BAA, BSS. 'Bukan Apa-apa, Bukan Siapa-siapa’.
 

 
Tahun lalu, Mr. Joger kembali membuat kejutan—dan sudah pasti nyeleneh tapi unik, yaitu meluncurkan produk jam tangan yang berjalan mundur. “Jam tangan mundur adalah bentuk inovasi dan diperuntukkan bagi orang-orang yang berpikiran maju,” katanya—kali ini serius.

Mr. Joger memiliki kebiasaan ‘buruk’, yakni selalu menurunkan perkalian keuntungan ketika omzet bisnisnya terus menanjak. “Saya bukan tipe orang yang ketika omzet naik, perkaliannya terus dinaikkan. Kami memilih optimal, bukan maksimal. Optimal artinya kita mendapatkan yang sebaik-baiknya, sewajar wajarnya, semerdeka mungkin,” jelas kakek dari dua orang cucu ini.

Berbagai ‘kenyelenehan’ dari cara Mr. Joger menjalankan bisnis berangkat dari konsep dispromotion yang dianutnya. Artinya, berpromosi dengan tidak mempromosikan. Dalam dispromotion, tidak hanya diuraikan kebaikan produk/jasa yang ditawarkan, tapi secara jujur juga senantiasa memaparkan kejelekan dan kelemahannya.

“Kami bukan tidak mencari keuntungan, tapi mengontrol keuntungan. Binis kami kan happiness oriented, bukan profit oriented. Memang banyak yang bilang munafik kalau ada pengusaha yang tidak mencari keuntungan. Lho, bagaimana kalau pengusahanya yang malah dicari oleh keuntungan? He he he,” kata Mr. Joger, mengajak berpikir.
 

Ketika ditanya soal target bisnisnya ke depan, Mr. Joger menjawab bahwa hal itu menjadi urusan putranya, Armand Setiawan (38). “Kepada Armand saya bilang, target kita adalah tetap menjadi diri kita sendiri yang sedikit lebih baik, sehingga lebih jujur, lebih ramah, lebih rajin, lebih bertanggung jawab, lebih berimajinasi, lebih berinisiatif, kemudian lebih bersyukur, lebih bermanfaat, lebih tekun, lebih tahu diri. Ini target setiap tiga detik, bukan setiap tahun,” ungkap pria yang pada tahun 2009 dinobatkan sebagai The President of Word oleh Insight Bali Magazine ini. Hmm… bukan Mr. Joger kalau tidak unik dan filosofis!

MENANAM MODAL AKHIRAT
Mr. Joger merasa beruntung bahwa dirinya ‘dipilih’ untuk menyelamatkan kata-kata. Ia prihatin karena masih banyak yang ‘menganiaya’ kata-kata sehingga menggunakannya secara sembarangan. Dikatakan oleh Mr. Joger bahwa ada sekitar 3.000 orang yang menjadi keluarga besar Joger dalam menghidupkan bisnis dengan menempatkan kata-kata secara wajar. Hal ini masih ditambah lagi dengan pembinaan sekitar 300 UMKM sebagai mitra produksi Joger.

Selain itu, diakui Mr. Joger bahwa Bank Mandiri juga berperan penting dalam perjalanan usahanya. “Sudah sejak lama Bank Mandiri terlibat dalam perkembangan bisnis Joger. Mulai dari penyediaan mesin EDC hingga menempatkan mesin ATM-nya di outlet kami,” ujarnya.
 

Sebagai bentuk terima kasih kepada Sang Pencipta, Mr. Joger kerap menggelar berbagai program sosial, seperti pengobatan gratis, pembangunan jalan, sekolah, irigasi, rumah sakit, dan sebagainya di daerah-daerah yang membutuhkan. Untuk mengimbangi PMDN (Penanaman Modal Dunia Nyata) melalui usahanya, Mr. Joger menyertakan juga PMA (Penanaman Modal Akhirat) melalui Garing (Tiga Piring), sebuah gerakan sosial yang ia sebut sebagai niat swadaya masyarakat, bukan LSM. “Garing itu kan filosofi yang mengarahkan jiwa ke surga tapi dengan kaki tetap berpijak di bumi. Kita boleh saja berfilosofi atau berangan-angan, bercita-cita setinggi langit, tapi pilihlah langit yang realistis,” tandasnya.
 
   





 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190