RENI SITAWATI SIREGAR, MENEMUKAN TITIK BALIK DI BISNIS LOGISTIK

RENI SITAWATI SIREGAR, MENEMUKAN TITIK BALIK DI BISNIS LOGISTIK

22 Oct 2020 11:31

Bisnis logistik kian memikat saja. Sektor e-commerce disebut-sebut sebagai pemicu melambungnya penggunaan jasa layanan pengiriman barang. Melihat peluang pasar yang besar di Indonesia, pemain baru atau startup logistik pun bermunculan.

Di antara sekian banyak perusahaan logistik di tanah air, tersebut nama Nusantara Card Semesta (NCS) yang sudah 25 tahun beroperasi. Di bawah komando Reni Sitawati Siregar (52), owner sekaligus CEO, NCS menjelma sebagai perusahaan logistik yang diperhitungkan. Mulai merintis dengan 5 orang kurir dan menyewa garasi sebagai kantor, kini NCS mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan yang tersebar di ratusan kantor cabang di seluruh Indonesia.
 
 

“Bisnis jasa perlu kekuatan, keuletan, dan fokus. Selain itu, juga mengandalkan kepercayaan. Artinya, ketika orang sudah percaya kepada kita, kita harus komitmen dengan kepercayaan tersebut,” ungkap Reni perihal bisnis NCS yang tetap berjaya saat ditemui di Kantor Pusat NCS, Jalan Brigjen Katamso, Palmerah, Jakarta Barat.

GONTA-GANTI BISNIS
Lahir dan dibesarkan oleh ayah yang berprofesi sebagai pedagang serta ibu yang seorang guru sekaligus pengusaha konveksi turut membangun mental berbisnis pada diri Reni. Sejak kecil, wanita kelahiran Simalungun, 10 September 1967 ini sudah terbiasa membantu kedua orang tuanya berjualan di pasar. Sering pula ia membantu sang ibu menyelesaikan pakaian pesanan pelanggan.

“Alhamdulillah, mental melayani dan menawarkan produk sudah terbentuk semenjak saya kecil. Dari kelas 4 SD, saya sudah jagain toko orang tua. Jadi, saya sudah pegang uang dari kecil, ha…ha…ha….,” kisah Reni berseloroh.
 

Usai lulus dari Akuntansi Keuangan Universitas Sumatera Utara (USU), Reni memulai debut bisnisnya di Jakarta. Tahun 1994, ia mengawali bisnis NCS dengan menjual telepon seluler (ponsel) dan pager (radio panggil/penyeranta). “Awal mula bisnis NCS bukan logistik, tapi menjual ponsel dan pager. Karena saya tidak punya modal yang cukup, orang yang mau beli ponsel atau pager harus membayar di muka. Saya mendapat keuntungan 500 ribu rupiah dari setiap unit yang terjual,” Reni berkisah.

Berkat kegigihannya, Reni pun dipercaya menjadi authorized sales agent untuk ponsel Motorola dan pager Indolink. Sayang, bisnisnya ini tidak awet. Produk black market ‘merusak’ pasar ponsel ketika itu dan Reni akhirnya memilih untuk ‘mundur’ kemudian beralih menjual kartu nomor ponsel (SIM card) perdana, voucer hotel, dan lainnya.

Seiring waktu, Reni mengalihkan usahanya menjadi authorized agency kartu kredit. Dibantu dengan lima karyawan, Reni melayani 16 bank dengan tugas, antara lain menyortir surat pengajuan kartu kredit, melakukan survei, dan pengiriman dokumen.

Melihat cara kerja Reni, salah satu bank memintanya untuk melakukan pengiriman dokumen kepada nasabah. Wanita yang murah senyum ini tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan. Dari sinilah NCS mulai melayani pengiriman dokumen. Dari satu bank, Reni kemudian berhasil menjalin relasi dengan banyak bank di Jakarta.

“Menurut pandangan klien, saya termasuk orang yang mau belajar dan mendengar. Diberi pekerjaan apa saja, pasti saya terima, termasuk yang sulit sekalipun. Dari situ saya bisa belajar kan? Nah ketika layanan pengiriman dokumen mulai stabil, saya tinggalkan bisnis yang lain. NCS fokus di jasa pengiriman dokumen saja,” ujar istri dari Budi Agustono (59) ini.

JAGOAN DOKUMEN
Kesukesan memang bukan tercapai dalam semalam. Reni menyadari hal itu sehingga menikmati proses kerja keras yang dilakukannya. Untuk mendukung bisnisnya yang mulai berkembang, ia pindah kantor, lagi-lagi dengan menyewa di wilayah Tomang, Jakarta. Reni pun tidak sungkan naik kendaraan umum untuk menemui klien. “Di awal merintis bisnis, hanya ada satu mobil jenis minibus. Kalau mobilnya sedang digunakan, saya naik bajaj saja ke klien atau untuk urusan yang lain, ha…ha…ha…,” kenang ibu dari Ghina Audryni (19), anak semata wayangnya.
 

Dalam kurun waktu tidak lama, bisnis Reni menemukan titik balik yang positif. Di awal terbentuknya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), NCS berhasil memenangi tender pengelolaan dokumen lembaga tersebut. Reni sangat menjaga betul amanah yang didapatnya ini karena menyangkut kredibilitas lembaga negara dan NCS. Sejak menangani dokumen KPK, nama NCS melejit. Beberapa klien dari lembaga plat merah lainnya juga menggunakan jasa NCS.

Dengan bisnis yang terus menggelinding mulus, tahun 2002 Reni membeli lahan untuk dibangun sebuah kantor—cikal bakal kantor pusat. Tahun 2005, pembangunan selesai, NCS pun resmi pindah ke kantor barunya yang terbilang megah. Di sisi lain, klien NCS makin ‘menggunung’. Saking banyaknya klien yang memercayakan pengiriman dokumen, NCS pun mendapat julukan “jagoan dokumen”. Nyaris seluruh bank dan perusahaan asuransi menggunakan NCS untuk pengiriman dokumen, termasuk Bank Mandiri.
 

“Sejak Bank Mandiri ada, NCS sudah menjalin kerja sama. Bagi saya, Bank Mandiri bukan hanya tempat saya menjadi nasabah. Saya besar bersama Bank Mandiri. Saya banyak dibantu dengan produk dan fasilitas yang diberikan oleh Bank Mandiri sampai saat ini,” Reni menuturkan.
   

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190