TETTY SINUHADJI

TETTY SINUHADJI

23 May 2022 18:09

 

Dari berakit-rakit ke hulu menjual baju door to door, 

kini Tetty sudah menikmati hasilnya: mengantarkan Njonjah Poenja keliling dunia.  

 
 


Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa tidak satu negara pun mampu mengalahkan Indonesia dari sisi kekayaan budayanya. Luas wilayah negeri dan keberagaman suku bangsa menjadikan negara kita juara dalam hal tersebut. Dan salah satu karya budaya leluhur yang mengagumkan adalah kain tradisional atau yang kita sebut dengan wastra nusantara. 

Sayangnya kesadaran tersebut tidak diimbangi dengan tingginya kepedulian masyarakat Indonesia akan wastra nusantara. Masih banyak yang memproduksi kain hasil produksi mesin, bukan asli produksi tangan pengrajin. Dan celakanya, pembelinya pun banyak. Inilah yang menjadi kekhawatiran Tetty Sinuhadji (57), pemilik brand Njonjah Poenja yang memproduksi wastra batik dan tenun nusantara. 

Tetty mengakui, jika dibandingkan dengan masa-masa awal ia membuka usaha, sekarang kesadaran masyarakat akan wastra asli Indonesia sudah banyak meningkat. “Tapi kampanyenya harus tetap digalakkan. Sebab kesadaran akan cinta wastra tanah air itu seringkali tidak diikuti dengan aksi membeli,” serunya. 

 

TERPAKSA JATUH CINTA

Kecintaan Tetty dengan wastra nusantara begitu besar. Tapi perempuan kelahiran Brastagi, Sumut, ini mengaku rasa cinta itu tidak muncul seketika. Kisahnya diawali dengan sebuah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai seorang perantau di Jakarta. Pada tahun 2011 tempat kerjanya, Universitas Atma Jaya, Jakarta, menghentikan program Pusat Pemberdayaan Masyarakat (PPM) karena suatu alasan. Tetty yang waktu itu sudah membina para pengrajin batik di daerah mendapat keluhan dari mereka karena para pengrajin itu tidak tahu lagi ke mana menjual produknya.     

Antara merasa bersimpati dengan para pengrajin dan juga dipaksa kondisi untuk menambah penghasilan hidup, Tetty pun memutuskan untuk meneruskan PPM itu dengan uangnya sendiri. Ia pun nekat meminjam uang di koperasi sebesar Rp20 juta untuk modal. Dengan nama brand Njonjah Poenja, Tetty menjual koleksi kain dan busana batik yang ia beli dari pengrajin batik binaannya di Klaten, Jateng. “Tak ada strategi penjualan lain waktu itu selain jemput bola, mendatangi rumah-rumah dan kantor yang berada di kawasan Sudirman dan Kuningan,” kenang single parent dengan dua orang anak ini. 

Harapan Tetty waktu itu hanyalah produknya dikenal dan disukai semua kalangan. Doa ini pula yang disematkan dalam nama brand Njonjah Poenja. “Njonjah itu sebutan yang diberikan ibu saya untuk kalangan perempuan pada zaman kemerdekaan,” jelas Tetty. “Beliau dulu berjualan hasil panen dari rumah ke rumah nyonya-nyonya besar itu. Jadi dengan nama Njonjah Poenja harapannya koleksi saya dimiliki tak hanya oleh ‘nyonya-nyonya’ berada, tapi juga dari semua kalangan, dari atas sampai bawah.” 

Itu pula sebabnya Tetty tidak mengklaim produknya hanya milik segmen tertentu, meski harga yang dipatok berkisar satu hingga lima juta rupiah. “Semua kalangan berhak mengenakan wastra nusantara asli. Saya yakin dengan kampanye kesadaran yang terus menerus, semua orang mau mengenakan batik tulis dan tenun tangan, karena harga yang dipasang memang sudah sepadan dengan proses pembuatannya yang bisa sampai bulanan,” urai pemilik nama asli Rohayati Sinuhadji ini. 

Tetty sendiri mengaku mencapai kesadaran tersebut ketika ia berkeliling ke berbagai daerah untuk mempelajari kain-kain tradisional yang memang sangat beragam dan sangat indah, termasuk proses pembuatannya. “Saya makin jatuh cinta setelah melihat para pengrajin itu memproduksi kain. Mereka membuatnya dengan hati,” ucap Tetty.  

 

DARI THAMCIT HINGGA LA

Pada awal menjalankan usaha ini pada 2012 lalu, Tetty menyewa satu unit kios di Thamrin City, Jakarta, tempat yang diklaim sebagai Pusat Batik Nusantara. Tapi ia harus memendam kecewa karena pada tiga bulan pertama neraca keuangannya berat sebelah. Tokonya nol transaksi. “Pesaingnya banyak. Harga produk saya paling rendah Rp500 ribu, sementara toko-toko lain Rp100 ribu bisa dapat tiga potong,” kenangnya. 

Meski sempat merasa ketar-ketir, Tetty mencoba bertahan. Ia mencoba strategi lain, yaitu mendatangi toko-toko di sana dan menawarkan jasa jahit baju untuk kain-kain jualan mereka. Hasilnya, ada lima toko yang menerima tawaran tersebut. 

Bulan-bulan berikutnya peruntungan Tetty mulai nampak. Pembelinya terus bertambah banyak. Hingga kini Njonjah Poenja sudah punya delapan toko di Thamrin City dan dua toko di Surabaya. Koleksi batik dan tenunnya kini meliputi jenis batik dan tenun dari hampir seluruh daerah Indonesia kecuali Papua. Bahkan beragam koleksinya juga beredar di Los Angeles dan Houston, AS. “Banyak warga AS yang mengagumi koleksi Njonjah Poenja, termasuk Beyonce,” kata Tetty bangga. 

Sementara di dalam negeri juga sudah banyak public figure yang merasakan keanggunan dan keindahan koleksi Njonjah Poenja di badan mereka. Dari direksi bank-bank nasional, termasuk Mandiri, Jaksa Agung, Panglima TNI, hingga Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo.  
 

 
 
 


SWAMANAJEMEN

Meski mempunyai 40 karyawan untuk potong dan jahit, Tetty mengaku hingga kini ia memegang sendiri manajemennya. “Kadang dibantu oleh anak saya, tapi selagi masih bisa  dipegang sendiri, ya saya jalan sendiri,” kata perempuan yang mengaku saat ini juga mencoba berinvestasi saham dan kripto ini. 

Begitu pula untuk pemasaran, Tetty mengaku masih menggunakan metode tradisional, dibantu dengan beberapa platform media sosial. Ia yakin, strategi pemasaran paling jitu adalah promosi dari mulut ke mulut. Tetty masih menyimpan impian produknya dikenakan oleh seluruh karyawan instansi pemerintah. “Ini bisa menjadi bentuk promosi sekaligus kampanye hebat. Bayangkan, berapa pengrajin yang terbantu jika hal itu terwujud,” kata pengidola Presiden Joko Widodo ini. 

Kini, setidaknya Njonjah Poenya sudah lolos kurasi dari Kementerian Koperasi dan UKM dan akan mengikuti berbagai event pameran di dalam dan di luar negeri. Dan satu lagi, Tetty tengah menunggu hasil kurasi dari sebuah event organizer internasional untuk mengikuti event yang diikuti lebih dari 100 negara di New Mexico, AS. “Doakan mudah-mudahan Njonjah Poenja terpilih, ya,” pintanya.

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190