KUS MARINDI

KUS MARINDI

23 May 2022 17:47

 

Bermodal kerja keras, jujur, dan fokus, Kus Marindi membuktikan 

mampu membangun kerajaan bisnisnya benar-benar dari nol.

 
 

Kerja keras, kejujuran, dan fokus pada hal yang dikerjakan menjadi faktor penentu bagi Kus Marindi (70) untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Satu faktor lagi yang juga tak kalah berpengaruh adalah keberuntungan—yang ia selalu menyebutnya sebagai ‘kecelakaan’.

 Tanda-tanda ‘kecelakaan’ itu diawali dari rasa bosan hidup di kampung halamannya di Surabaya. Kus Marindi yang waktu itu berusia 18 tahun, ikut seorang temannya yang mencari peruntungan ke Samarinda. Di Ibu Kota Kaltim ini Kus—begitu ia disapa—bekerja serabutan, dari menjadi pekerja kasar hingga tenaga survei untuk perusahaan perminyakan. 

Kus hanya bertahan setahun di Samarinda dan memutuskan pindah ke Balikpapan. Pengalaman kerjanya di Samarinda menjadi bekal berharga baginya, sehingga ia kembali menjadi helper di sebuah perusahaan perminyakan. Kembali, Kus merasa masih kurang puas dengan hasil kerja yang didapatnya. “Setiap kali mendapat pekerjaan baru, saya selalu merasa kurang cocok,” katanya. “Saya merasa ide-ide saya sulit tersalurkan dan pengusaha kurang menghargai karyawan. Tapi kalau mau menjadi pengusaha, saya juga belum siap mental. Jadi saya lebih menunggu kesempatan saja.”

Menjelang tahun 80-an, Kus mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan airline cargo di bandara Sepinggan, Balikpapan. Meski bergaji kecil, Kus senang bekerja di sini karena bertemu banyak orang asing, baik pekerja maupun pengusaha, yang dengan mereka ia menimba banyak ilmu. 

Suatu hari di tahun 1984 sebuah peluang mendatanginya. Seorang teman asing kenalannya menawari Kus untuk menangani pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan. Saat itu sedang terjadi insiden kebakaran (blowout) di sebuah sumur pengeboran minyak di daerah Tunu, Samarinda. “Tentu saja saya tolak karena itu butuh dana yang sangat besar, baik untuk menyewa puluhan pesawat, import duty, dan lain-lain.”

Tapi temannya tetap memaksa dan memintanya membuat perincian biaya untuk proyek tersebut. Dan ketika diajukan, proposalnya langsung disetujui. Karena merupakan proyek besar perdananya, Kus tidak mau proyek ini mengecewakan. Ia pun fokus dan bekerja siang malam untuk memastikan pekerjaan tersebut selesai seperti yang diharapkan. Hasilnya, kurang lebih 10 hari proyek tersebut akhirnya selesai dan klien merasa sangat puas. 

Kus Marindi mendapatkan blessing in disguise—atau yang ia sebut sebagai ‘kecelakaan’ itu. Insiden oil-well blowout di Samarinda membawa keberuntungan bagi dirinya. “Dari sini saya berhasil membeli mobil pertama saya. Dan tentu, terbukanya peluang-peluang usaha berikutnya,” kata bapak tiga anak ini.
 

 
 
 


PORTOFOLIO MULAI TERSUSUN

Kus Marindi mengaku tidak pernah merencanakan apa pun untuk mulai membuka usaha. Semua datang begitu saja, termasuk ketika sebuah perusahaan jasa kargo dari Singapura menawari dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Bagi Kus, ini merupakan tantangan yang tidak boleh disia-siakan. Bersama adik iparnya, Kus akhirnya mendirikan perusahaan pertamanya.     

Dari sini peluang demi peluang terus mengalir dan membuat usahanya terus berkembang. Hingga pada tahun 1988, ia mendirikan PT Intipratama Group dengan bidang usaha utamanya bidang logistik. Hingga kini Kus memiliki tujuh perusahaan yang bergerak di bidang logistik, fabrikasi, pelabuhan, dermaga, SPBU, general supply, dan yang baru didirikan adalah container depo

“Sebetulnya tiga tahun yang lalu saya sudah tidak berencana untuk mengembangkan usaha lagi. Lebih memilih untuk mengelola yang sudah ada saja. Tapi seorang teman menawarkan tanah lelang, dan ketika saya survei, saya pun tertarik. Sayang kalau tidak diambil,” Kus menceritakan awal berdirinya perusahaan teranyarnya, yaitu container depo di bawah PT Intipratama Terminal Container. Sampai sekarang, ia melanjutkan, pembangunan masih berlangsung, tapi tempatnya sudah bisa dioperasikan.

 

TAK PUNYA HOBI, TAK PUNYA UTANG

“Jangan tanya hobi saya, karena saya tidak punya hobi selain kerja, ha ha ha….” Ini jawaban Kus ketika ditanya tentang hobi. Passion pria kelahiran Surabaya ini memang bekerja. Kalau sedang fokus pada satu pekerjaan, ujarnya, ia harus mengerjakannya sampai tuntas. 

Namun begitu Kus mengaku, bekerja tidak membuatnya stres. Sebab ia menikmatinya. “Dari dulu saya tidak suka nongkrong di luar. Lebih senang kerja cari duit atau diam di rumah. Kalau tidak momong cucu, ya membaca buku,” papar suami Endang Artini ini. Kus dihadiahi enam cucu dari tiga anak perempuannya, Erliani Bekti Lestari, Yunita Ariani, dan Heny Artanty.

Kus Marindi mengaku dirinya sebagai sosok yang unik. Bukan hanya karena hobi bekerjanya, tapi juga karena ia sudah mematahkan anggapan umum bahwa menjadi pengusaha itu harus berutang. “Saya tidak pernah berutang sepeser pun. Perusahaan pertama saya dirikan dari hasil kerja saya, bukan dari utang atau pinjaman. Bahkan saya pernah diberi modal untuk membuka usaha,” katanya. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini menduga, mungkin hal ini karena ia selalu memegang prinsip jujur dan kerja keras, sehingga orang percaya dengan dirinya.

Sosok Kus yang jujur dan pekerja keras juga diakui oleh anak perempuannya, Yunita (39). “Bapak itu seorang pekerja keras, konsisten, disiplin, dan hemat. Sangat hemat,” urainya. “Banyak hal dari Bapak yang membuat beliau jadi panutan kami anak-anaknya.” 

Di rumah, Yunita menambahkan, Kus adalah seorang yang penyayang. Ia juga cukup keras dalam mendidik anak-anaknya. “Dan satu hal lagi yang kami kagumi dari Bapak adalah beliau sangat menghargai waktu,” katanya.
 

 
 
 


KELUARGA PETANI 

Kus tidak diwarisi jiwa bisnis dari orang tuanya. Ia murni belajar bisnis secara otodidak. Kus dibesarkan di dalam lingkungan keluarga petani di sebuah desa di perbatasan Kota Surabaya dan Lamongan, Jawa Timur. Ayahnya adalah seorang tuan tanah dan pejabat desa yang cukup terpandang di desanya. “Itulah mengapa ketika saya merantau ke Kalimantan saya merasa kesepian. Tidak ada yang mengenal saya, sementara di kampung, saya sangat dikenal, ha ha ha,” Kus mengisahkan. 

Kini Kus mewariskan kerajaan bisnisnya kepada anak-anaknya. Ia menempatkan ketiga putrinya di beberapa perusahaan miliknya sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang mereka miliki. Kus berdalih, hal ini bukanlah kemauannya. “Pada dasarnya saya tidak mengharuskan anak-anak terjun ke bisnis. Jalan menuju masa depan adalah pilihan mereka sendiri. Tapi begitu saya ajak mereka mengenal usaha orang tuanya, ternyata mereka tertarik untuk mencoba menjalani bisnis,” jelas Kus. 

Sekarang, di masa tuanya, Kus sudah bisa merasa tenang karena sudah ada orang yang bisa dipercaya untuk melanjutkan kerajaan bisnisnya. “Setidaknya apa yang sudah saya lakukan hasilnya sudah bisa dinikmati oleh anak-anak saya,” ujarnya.

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190

image title image title image title image title



Mandiri Call 14000
[email protected]bankmandiri.co.id
terms & condition