CHARLES

CHARLES

23 May 2022 14:04

 

Yang dimaksud Charles bukanlah Indeks Prestasi (IP) akademik, 

tapi ‘Ilmu Pendekatan’ yang harus mumpuni.  

 
 

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Charles (62) selama mengelola usaha Mitra Indah Lestari (MIL) Group, Balikpapan, Kaltim. Berkat IP yang bagus itulah kini ia memiliki banyak bidang usaha seperti kontraktor pertambangan, penyewaan alat berat, transportasi, general supplier, dan perhotelan. Barangkali berkat IP itu pula Charles berhasil mematahkan mitos bahwa dalam bisnis keluarga, generasi ketiga menjadi perusak bisnis yang sudah dibangun.

Semua berawal dari tahun 1980 ketika ayah Charles menyerahkan urusan bisnis kepada dirinya. Waktu itu sang ayah menjalankan usaha angkutan kota (angkot) yang juga merupakan warisan dari kakeknya. Ketika pemerintah kota memberlakukan aturan peremajaan angkot, Charles malah menelurkan ide membeli truk untuk disewakan. Ia melihat peluang dari banyaknya pengusaha yang membuka lahan di hutan. Dan usahanya ini mendulang sukses. 

Tak puas dengan itu, Charles melirik peluang lainnya, yaitu transportasi bus antarkota. “Pada awalnya saya membeli bus bekas yang sudah rusak, saya perbaiki, dan nebeng trayek perusahaan otobus (PO) lain,” kata sulung dari tujuh bersaudara ini. Empat tahun menjalankan usaha transportasi Charles berhasil memiliki delapan unit bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Bersama ketiga saudaranya ia pun mendirikan PO Samarinda Lestari Transport. Dan hingga kini Charles sudah memiliki 10 PO dengan sekitar 150 unit bus. Rute trayek yang dilayani antara lain Balikpapan-Samarinda, Balikpapan-Bontang, dan Balikpapan-Banjarmasin.

Ketika krisis moneter melanda negeri pada 1998, usaha PO milik Charles tidak tergoyahkan. “Kalimantan menjadi tujuan banyak penduduk Jawa untuk mencari penghasilan, terutama di perkebunan kelapa sawit. Waktu itu dalam satu hari saya bisa memberangkatkan 20 bus ke Samarinda,” papar Charles. 

Kesuksesan Charles mengelola bisnis transportasi diakuinya karena ia menerapkan pengelolaan bisnis dari hulu ke hilir untuk menekan operational cost. Ia mengerjakan sendiri dari pembuatan karoseri, perawatan suku cadang, bahkan mencetak tiket. 

Pada tahun 2002 tren naik bus mulai turun. Orang-orang banyak beralih ke sepeda motor pribadi karena aturan kepemilikan motor sudah sangat mudah. Tapi Charles tidak tinggal diam. Usaha PO tetap jalan, tapi di sisi lain ia melirik usaha penyewaan alat berat, mengingat waktu itu pertambangan batubara sedang booming. Sekali lagi, kekuatan insting bisnisnya terbukti. 

Charles membeli satu unit eskavator untuk disewakan. Kliennya waktu itu adalah perusahaan tambang batubara, konstruksi bangunan, dan perkebunan. Hanya dalam waktu tiga tahun Charles berhasil memiliki 40 unit alat berat. Ia pun membuka perusahaan kontraktor pengolahan batubara dengan bendera PT Mitra Indah Lestari (MIL).
 

 
 
 


TAMBANG JUGA, HOTEL JUGA  

Kesuksesan Charles di bidang kontraktor tambang memicu jiwa bisnisnya untuk kembali melakukan diversifikasi usaha. Kali ini yang dilirik adalah bidang perhotelan. Pada tahun 2013 Charles mendirikan sebuah hotel berbintang empat, Hotel Platinum Balikpapan. Di awal berdirinya banyak yang meragukan keberhasilan hotel yang berdiri di kawasan pinggiran utara kota Balikpapan ini, mengingat lokasinya jauh dari pusat kota dan daerah macet akibat sering dilalui kendaraan berat. 

Tapi lagi-lagi, naluri bisnis Charles menang. Bahkan kini Hotel Platinum sudah beroperasi di Yogyakarta sejak 2016, juga di Surabaya yang proses pembangunannya sudah selesai. “Kondisi pandemi Covid-19 memaksa opening hotel di Surabaya ditunda. Kami menunggu situasi kondusif,” katanya. 

Charles mengaku, pandemi saat ini memberikan dampak kepada usahanya, terutama di bidang angkutan dan perhotelan. Meski begitu ia tidak satu pun melakukan PHK terhadap karyawannya. “Saya bersyukur masih bisa membayar gaji dan upah karyawan pada perusahaan yang terdampak pandemi dengan melakukan subsidi silang dari lini bisnis yang lain,” aku suami Yenny dan ayah tiga orang anak (William, Yunita, dan Jimmy) ini.

Bahkan kakek lima orang cucu ini sudah punya wacana usaha lain yang akan ia tekuni, yaitu pelabuhan dan workshop untuk reparasi alat-alat berat. Charles juga masih punya obsesi mewujudkan mimpinya memiliki 2.000 kamar hotel. Ini artinya ia perlu membangun total 8-10 hotel. 

Bagi Charles, merugi itu biasa dalam bisnis. Ia menjelaskan, bukannya tidak pernah jatuh bangun selama menjalankan usahanya. Ditipu orang, proyek tidak dibayar, itu sudah biasa ia alami. Tapi Charles belajar dari situ dan bangkit. Ia menganggap semua kerugian adalah proses untuk menuju sukses. Dan terbukti hal tersebut benar adanya.

 

BEKERJA SAMPAI TUA  

Pria kelahiran 9 Juli 1959 ini memiliki motto hidup “bergerak untuk maju”. Jadi Charles memilih untuk selalu memanfaatkan waktu dan peluang selagi masih bisa diambil dan selagi masih bisa bergerak. Itu sebabnya ia mengaku tidak punya rencana lain di masa tua selain terus bekerja. “Kalau masih bisa bekerja kenapa harus berhenti,” dalihnya sambil menambahkan bahwa bekerja itu merupakan ‘hiburan’ baginya. Hiburan yang menghasilkan, tentunya.  

Meski begitu bukan berarti Charles tidak memiliki waktu spesial untuk diri sendiri dan untuk keluarga. “Saya selalu berusaha pulang pukul 6.30 sore dan setelah itu tidak memikirkan pekerjaan,” akunya. Di luar urusan bisnis ia masih bisa meluangkan waktu bersama keluarga. Juga, setiap hari Minggu ia berolahraga jalan atau lari cross country bersama beberapa teman. Bahkan, Charles mengaku masih mampu berlari marathon 10K. 

Charles juga gemar berorganisasi. Ia pernah menjadi pengurus Organda Kaltim, pembina di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kaltim, pengurus Paguyuban Guang Zhou Balikpapan, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Balikpapan. 

Kini, seperti yang juga sudah dilakukan oleh para generasi pendahulunya, Charles pun berusaha mewariskan usahanya kepada generasi penerusnya. Ia sudah memulai hal tersebut di bisnis perhotelan dengan melibatkan anak-anak dan cucunya di jajaran manajemen. 

Ada beberapa kunci sukses dalam berbisnis yang digenggam oleh Charles. Jujur, komitmen kuat, dan IP harus mumpuni. “Ilmu Pendekatan (IP) itu penjabarannya adalah kita harus tahu bagaimana berkomunikasi dengan siapa pun—klien maupun mitra usaha—sehingga kita paham betul kebutuhan, masalah, dan apa yang harus kita lakukan,” urainya. 

Dan satu lagi, pesan Charles sebelum mengakhiri perbincangan: “Jangan berpolitik!”

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190