SERVASIUS BAMBANG PRANOTO, BERKAH YANG TAK PERNAH PUTUS DARI MINYAK KUTUS KUTUS

SERVASIUS BAMBANG PRANOTO, BERKAH YANG TAK PERNAH PUTUS DARI MINYAK KUTUS KUTUS

21 Oct 2020 16:57

Awalnya, Servasius Bambang Pranoto adalah seorang profesional yang memiliki karier cemerlang di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Merasa jenuh dengan rutinitas yang sudah dijalaninya selama 25 tahun,  dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan meninggalkan segala kemapanan untuk kemudian memilih menetap di Bali sejak tahun 2002 dan menikmati hidup dalam kesederhanaan.

Hidup memang tak bisa ditebak. Dari memilih hidup sederhana dan meninggalkan semua harta benda, kini, nama Bambang Pranoto malah dikenal sebagai pengusaha sukses dengan omzet milyaran rupiah setiap bulan dari bisnis minyak Kutus Kutus. Tim Mandiri Prioritas beruntungbisa bertemu sekaligus menimba ilmu dengan pengusaha nyentrik ini di pabrik sekaligus kantor Kutus Kutus di Desa Bitra, Gianyar.
 

BENCANA MEMBAWA BERKAH
Perjalanan bisnis Bambang—sapaan akrab—dalam mengembangkan minyak balur yang di kemudian hari terkenal sebagai minyak Kutus Kutus ibarat bencana membawa berkah. Pasalnya, minyak Kutus Kutus tercipta karena insiden terperosoknya Bambang di jalan yang nyaris setiap hari dilaluinya. Hal ini terjadi pada tahun 2011 hingga menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Lewat meditasi yang memang sudah rutin dilakukannya, dia memperoleh inspirasi membuat minyak balur berbahan minyak kelapa dan 49 herbal, mulai dari akar, batang, buah, bunga, hingga daun, yang terdapat di sekeliling rumahnya. Kesabarannya pun berbuah manis. Dalam waktu tiga bulan, Bambang berhasil sembuh dari kelumpuhan berkat minyak olahannya yang dibalurkan rutin di sekujur tubuh, terutama di bagian kaki. “Itulah cikal bakal minyak Kutus Kutus, minyak yang menyembuhkan saya dari kelumpuhan,” kata pria kelahiran 13 Mei 1955 ini.

Kutus Kutus berasal dari bahasa Bali yang berarti 88, dan dimaknai sebagai produk minyak balur berlambang angka 8 yang paling indah dan sakral. Angka 8 mirip lambang infinity, artinya tanpa batas. Dalam dunia penyembuhan, angka 8 mewakili makna penyembuhan tanpa batas; penyembuhan yang paling powerful.
 
  

Sejak 1988, pria asal Klaten ini berkomitmen meninggalkan obat kimia dan percaya bahwa tubuh sudah mempunyai energi yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Setiap bahan baku jamu juga dipercaya memiliki energi masing-masing yang kemudian membentuk sinergi yang seimbang dengan tubuh. “Sinergi 49 bahan baku itulah yang menyembuhkan penyakit,” ungkap Bambang.

Keluarga dan kerabat dekat Bambang pun turut memakai ramuan minyak yang diracik secara sederhana itu dan merasakan manfaatnya, yakni sembuh dari penyakit yang dideritanya. Dari situlah mereka mulai mendesak Bambang untuk memproduksi Kutus Kutus lebih banyak dan menjualnya sehingga banyak orang yang akan memperoleh manfaat. Hampir dua tahun mengalami kebimbangan, hingga suatu malam ketika hendak melakukan ritual pembersihan diri di Pura Tirta Empul Tampaksiring bersama teman-temannya, Bambang didekati sosok laki-laki yang tiba-tiba muncul dan membisiki agar segera menjual dan menamai minyak racikannya “Kutus Kutus”.

PELAYANAN TERBAIK UNTUK SEMUA
Pada pertengahan 2013, Bambang dengan bantuan seorang teman, mulai memasarkan perdana Kutus Kutus sebanyak 500 botol kemasan 250 ml. “Dan, tidak ada yang laku,” kenang Bambang diiringi tawa lepas. Dia pun belajar dari kegagalan itu. “Saya coba mengubah kemasan. Dari yang semula dikemas dalam botol kaca menyerupai produk spa, akhirnya dikemas ulang dengan botol plastik isi 100 ml, dan bisa laku. Ternyata, packaging is very important,” katanya.

Pada pertengahan Desember 2013, Bambang memperkenalkan minyak Kutus Kutus lewat media sosial Facebook (FB). Sebulan berjalan, pada pertengahan Januari 2014 mulai terlihat hasilnya. Perlahan tetapi pasti, pesanan mulai berdatangan. Pada Oktober 2014, dengan dua puluh reseller rata-rata terjual dua ribu botol per bulan dan sejak Desember 2014 sudah mampu menjual lima ribu botol setiap bulan.

Namun di tengah keberhasilan meningkatkan penjualan minyak racikannya, Bambang terpaksa harus memutus hubungan dengan mitra bisnis yang berlaku curang. Kecurangan mitra bisnis tersebut adalah mengoplos hingga memalsukan minyak racikan Bambang lalu dijual dengan harga lebih murah dibandingkan harga resmi (Rp230 ribu per botol 100 ml). “Saya harus tegas karena ini menyangkut kepercayaan dan kesehatan orang banyak,” kata Bambang serius.
 
  

Hanya sebulan sejak memutuskan hubungan kerja sama, Bambang berhasil mendongkrak penjualan hingga10 ribu botol per bulan dan menutup tahun 2016 dengan memproduksi 50 ribu botol per bulan, kemudian meningkat lagi menjadi 100 ribu botol per bulan sepanjang 2017 dan 350 ribu botol per bulan di tahun 2018. “Saya masih tetap hanya menggunakan kekuatan media sosial FB. Nyaris tidak ada dana khusus untuk promosi karena habis untuk produksi. Strategi marketing terbaik adalah memberi pelayanan yang terbaik kepada semua. Bisnis akan bekerja dengan baik kalau ditunjang dengan produk yang baik juga. Sebesar apa pun mengeluarkan budget untuk marketing, kalau produknya tidak baik juga percuma,” jelas Bambang mengungkap strategi promosinya.

Strategi Bambang terbukti berhasil. Bisnis Kutus Kutus pun melaju pesat. Desember 2018, Bambang mulai mengoperasikan bisnisnya dari pabrik sekaligus kantor tiga lantai di atas tanah seluas 2.800 m2 di Desa Bitra, Gianyar. Dari pabrik ini, dibantu 90 karyawan, dia mampu memproduksi 24 ribu botol setiap hari. Dengan 5.000 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia, produksi hariannya nyaris tak bersisa karena terserap pasar. “Reseller saya beri kebebasan penuh memasarkan minyak Kutus Kutus, asal harganya tidak boleh lebih murah dari Rp230 ribu per botol,” katanya. Melalui reseller inilah produk Kutus Kutus diekspor langsung ke luar negeri.

Dengan cara pemasaran menyerupai multilevel, Bambang membuka kesempatan reseller-nya memperoleh pendapatan sebesar-besarnya dengan sistem bagi hasil dan reward yang diperoleh dari hasil penjualan masingmasing. Tahun 2018 lalu, Bambang memberikan reward berupa jalan-jalan ke Eropa. Sementara karyawan di pabriknya dihargai berdasarkan bonus pencapaian produksi sehingga bisa memiliki penghasilan hingga 2 x UMR setiap bulan.

BISNIS YANG TUMBUH BERSAMA
Untuk membuat racikan Kutus Kutus, pria lulusan Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini membeli bahan baku langsung ke petani dan pedagang di pasar tradisional dengan harga premium sehingga diharapkan makin banyak yang memperoleh manfaat dari kehadiran minyak Kutus Kutus. “Saya sengaja tidak menanam sendiri bahan bakunya karena ingin bisnis ini juga bisa membawa manfaat bagi banyak pihak. Perusahaan besar adalah perusahaan yang didukung shareholder, pegawai, pembeli, dan penjual. Mari kita tumbuh bersama,” ungkapnya.
 
 
 
Meski sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, Bambang masih harus menghadapi tantangan setiap waktu, yaitu berita hoaks dan pemalsuan. Nyaris setiap hari minyak Kutus Kutus menjadi viral karena berita-berita hoaks di media sosial. “Hal ini malah saya jadikan promosi gratis,” ujar Bambang. Minyak Kutus Kutus, lanjutnya, bukan minyak sakti yang mampu menyembuhkan segala penyakit. “Baluran minyak memang bisa membantu merangsang kekuatan tubuh dalam menyembuhkan diri sendiri. Tidak ada mistik, magic, atau mantra dalam proses pembuatan,” tuturnya.

Sifat minyak Kutus Kutus bukan mengobati, tetapi menumbuhkan kekuatan dari dalam untuk bisa mengobati sendiri. Jadi, tidak ada batasan pemakainya, mulai dari bayi hingga lansia bisa menggunakan minyak ini. Sebagai produk jamu, minyak Kutus Kutus juga sudah lolos uji Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 

KUTUS KUTUS GO INTERNATIONAL
Ada satu mimpi Bambang yang akan segera diwujudkan, yaitu membuka kantor di Amsterdam, Belanda. Menurut Bambang, penerimaan orang luar negeri terhadap Kutus Kutus sangat bagus. “Di mana pun berada, Kutus Kutus selalu ada,” ungkapnya. Hal ini memacu Bambang untuk lebih semangat membawa Kutus Kutus ke seluruh dunia. “Sukses selalu menjadi target saya. Dan baru bisa dikatakan sukses bila sudah berguna untuk orang banyak. Saya akan selalu berusaha memberi manfaat sekaligus menjadikan Kutus Kutus solusi kesehatan manusia modern,” kata Bambang yang juga bermimpi suatu saat Kutus Kutus bisa menjadi sponsor balapan Formula 1.
 
   

Dengan bisnis yang melaju pesat, tentu Bambang sangat membutuhkan pengelolaan keuangan yang terencana dengan baik. “Selama ini saya percayakan pengelolaan keuangan ke Bank Mandiri. Selain karena pelayanannya yang sangat kekeluargaan, Bank Mandiri juga menawarkan berbagai alternatif investasi yang menguntungkan,” pungkas Bambang sambil memberikan pujian kepada Bank Mandiri.
    

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190