Kendalikan Gelombang Pandemi, Pulihkan Ekonomi

Kendalikan Gelombang Pandemi, Pulihkan Ekonomi

30 Jun 2021 15:27

Tak terasa sudah satu tahun kita hidup berdampingan,
beradaptasi, dan berupaya menjadi penyintas di tengah pandemi,
bersama dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.
Mari bangkitkan lagi spirit kita agar 2021 tidak menjadi 2020 versi kedua!

Terbentur, terbentur, terbentuk. Nampaknya inilah rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan situasi kita di Q1 tahun 2021 ini. Sedari awal pandemi Covid-19, para pemangku keputusan strategis terkait ekonomi di dunia seakan sepakat untuk membiarkan perekonomian sementara berada dalam status ‘koma’, dengan rencana mulia menyelamatkan banyak nyawa. Setelah puncak pandemi terlewati, sama seperti seorang pasien yang dibius untuk operasi, maka diharapkan perekonomian siuman. Kenyataannya? Tidak semudah itu.

 
Saving Lives vs Saving Livings
Kita semua tentu memiliki kontribusinya masing-masing dalam merawat dan menjaga perekonomian Indonesia tetap berputar di masa pandemi. Baik mereka yang berada di manajemen korporasi maupun berkarya sebagai entrepreneur sama-sama paham, betapa 2020 diisi dengan tarik-menarik yang menyakitkan antara “saving lives” dan “saving livings”.  Kita bersyukur, resiliensi dan inisiatif kita nampaknya tidak sia-sia. Perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan yang signifikan pada triwulan III 2020.
   “Pada triwulan III 2020, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar -3,49% (YoY); membaik dari triwulan sebelumnya yang sebesar -5,32% (YoY). Hal ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah (turning point) dari aktivitas-aktivitas ekonomi nasional menunjukkan ke arah zona positif. Seluruh komponen pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi pengeluaran mengalami peningkatan, maupun dari sisi produksi. Perbaikan kinerja perekonomian didorong oleh peran stimulus fiskal atau peran dari instrumen APBN di dalam penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional,” papar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada Press Statement Menteri Keuangan terkait Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III.
   Bagaimana dengan tahun 2021--apa yang bisa kita ekspektasikan? Mari simak sejumlah prediksi dari para pakar:
World Bank: Tumbuh positif 4.4%
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita: Tumbuh positif 4.5-5.5%
Direktur Treasury and International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Panji Irawan: Tumbuh positif 4.4%
   Walau secara makro di ASEAN memang perekonomian 2020 minus 4.1%, namun Oxford Economic memprediksi akan adanya pertumbuhan ekonomi yang baik di seluruh negara ASEAN pada 2021, bahkan diprediksi hingga 6.2%.
   "Kami meyakini bahwa perekonomian Indonesia akan mampu melewati pandemi ini dengan pemulihan yang mungkin bisa kita lihat pada kuartal kedua tahun 2021. Kami memperkirakan pada kuartal I tahun 2021 perekonomian Indonesia sudah bisa balik kembali tumbuh positif, sehingga secara full year akan dapat tumbuh sebesar 4,4 persen," ujar Panji Irawan, Direktur Treasury and International Banking PT Bank Mandiri (Persero).

New Year, New Me Normal
Di tengah banjir informasi terkait pandemi, mungkin kita pun belajar untuk menghindari berbagai hoaks hingga teori konspirasi yang beredar. Namun salah satu yang banyak didengar oleh pelaku bisnis adalah bahwa kemajuan teknologi kita sendirilah yang mengakibatkan pandemi ini begitu mengglobal. Maka, untuk mengatasinya, kita harus mende-globalisasi dunia, yakni dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, mengurangi perdagangan. Benarkah?
   Nyatanya, pandemi lain dalam catatan sejarah dunia, seperti Flu Spanyol atau the Black Death, tetap merenggut nyawa dalam jumlah yang bahkan lebih dahsyat dari Covid-19 hari ini, meski perjalanan internasional di kala itu bukanlah hal yang umum.
   Ya, kita tetap memerlukan sejumlah pembatasan—yang sekarang kerap disebut PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)—sebagai  ikhtiar demi pemutusan penyebaran virus Covid-19; namun satu prinsip gaya hidup yang perlu kita terapkan di muka pandemi ini adalah, keterbatasan seharusnya memercikkan kreativitas.
   Jangan sampai kita terlupa, era kolaborasi yang dicetuskan oleh ledakan ekonomi digital Indonesia masih berlangsung hingga saat ini. Satu contoh yang cukup menjadi buah bibir adalah berita mergernya dua unicorn Indonesia di tengah pandemi. Dari mereka kita dapat menarik pelajaran, bahwa kunci untuk pulih dan bangkit bersama adalah bukan dengan segregasi, melainkan kooperasi.
   Dunia sains pun sepaham. Menurut ilmuwan Yuval Noah Harari, Covid-19 memaksa kita untuk menggandakan upaya melindungi manusia lain. Tak hanya dengan menjalankan protokol 3M yang sudah jamak dibicarakan; hal ini juga dapat kita kerjakan dengan cara menjaga produktivitas diri dan organisasi kita.
   Berlawanan dengan cerita lama di dunia profesional, kini lahir berbagai norma baru yang unik di tengah pekerjaan kita. “Ini pertama kalinya dalam hidup saya mendengar seseorang berkata, ‘Kalau kamu sakit, lebih baik tetap di rumah,’” demikian menurut Adia Benton, seorang antropolog dari Universitas Northwestern.
   Pandemi telah menjadi katalisator perubahan di dunia kerja; kita boleh bangga jika masyarakat umum, sektor bisnis dan institusi pendidikan di Indonesia telah mengalami momen pivot-nya masing-masing, dan kini resmi mengadopsi praktik-praktik yang sebelumnya hanya menjadi konsep yang asing: bekerja dari rumah, meeting daring, lahirnya kesadaran para HR (human resource) akan pentingnya menjaga kesehatan mental pekerja (sama pentingnya seperti menjaga fisik mereka), opsi gaya kerja yang lebih fleksibel, dan banyak hal lain yang tentu sudah sama-sama kita rasakan setahun ini.
 
   Kewajiban menjaga jarak secara fisik bukan penghalang untuk kita berkolaborasi dan melahirkan ide-ide kreatif bersama. Hal ini tentu dilandasi oleh rasa saling percaya yang baik. Untuk mengendalikan gelombang pandemi dan memulihkan ekonomi, kita perlu percaya para ilmuwan, percaya kepada otoritas publik, dan di skala makro, tiap negara perlu saling percaya.
   Budayawan Arundhati Roy menyebut pandemi ini sebagai sebuah portal, sebuah pintu gerbang menuju dunia berikutnya. Mari pastikan kita berjalan melewati pintu itu, sebagai sosok yang lebih baik dari sebelumnya.
   Siapakah di antara kita yang memiliki anak atau cucu di tahun ini? Sadarkah kita, tiap anak yang lahir pada tahun 2020 hingga hari ini,  telah menjadi bagian dari sebuah generasi baru yang terlahir di kehidupan masyarakat yang telah banyak berubah karena Covid-19? Sejumlah ilmuwan menjuluki mereka Generasi C.
Pertanyaannya, mentalitas apa yang mau kita wariskan pada Generasi C? Narasi besar apa yang mau kita tanamkan di benak mereka? Semoga mereka akan bertumbuh dewasa dengan sebuah cerita mengenai sebuah bangsa yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan bangkit untuk mengendalikan gelombang pandemi.

Apa Kabar Vaksin Covid-19?

Vaksin telah hadir. Apa artinya bagi hidup kita saat ini? Kami berbincang dengan Aroem Naroeni, DEA, Ph.D, selaku anggota Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi (PRVKP) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan dr. Karina Anindita, M. Biomed, Sp. PD selaku Internis, Satgas Covid Siloam Hospital Mataram terkait bagaimana kita menata hidup kembali setelah menerima vaksinasi.
   “Saat ini, karena kami terbiasa bekerja dengan deteksi molekuler PCR, maka selama pandemi berubah jadi diberi tugas untuk melakukan diagnostik & pengembangan vaksin untuk Covid-19. Sehari-hari, kami menerima kurang lebih 2.000 lebih sampel dari Jabodetabek dan kami bekerja dari jam 7 pagi sampai 12 malam nonstop 7 hari untuk melakukan pemeriksaan. Dan akhir-akhir ini, terus terang semua lab kebanjiran sampel setelah musim liburan,” tutur Aroem. “Kami juga terlibat dalam pengembangan Vaksin Merah-Putih, karena untuk Indonesia akan lebih baik memang jika memiliki vaksin sendiri yang diproduksi di Indonesia.”

 
       

   Sampai saat ini memang terdapat beberapa jenis vaksin yang tersedia, dan jenis yang digunakan dalam proses vaksinasi tahap pertama di negara kita ialah Sinovac. “Selain Sinovac, ada NovaVac & GAVI dari Bill & Melinda Gates Foundation, cukup untuk 20% populasi Indonesia. Vaksin tersebut kita peroleh secara gratis, sedangkan sisanya sedang dalam proses negosiasi agreement dengan AstraZeneca dan Pfizer untuk memenuhi target 426 juta dosis vaksin,” paparnya. Negosiasi untuk mendapatkan vaksin secepatnya, seiring dengan proses pengembangan Vaksin Merah-Putih, menjadi prioritas utama.
   “Tidak usah bingung soal brand vaksin apa yang paling baik, karena tujuannya sama-sama untuk herd immunity,” tambah dr. Karin. “Vaksinasi Covid-19 memang ada 4 macam, misalnya Pfizer yang memakai RNA alias materi genetik virus itu sendiri, maupun Sinovac yang lebih tradisional, yaitu memakai virus yang dimatikan. Ada juga yang memakai Protein Subunit dan Viral Vector. Tujuannya sama-sama untuk merangsang respons imun tubuh kita.”  Dengan banyaknya jumlah orang yang sudah mendapatkan vaksin, maka membentuk imunitas yang banyak juga sehingga orang yang terinfeksi akan kesulitan untuk menulari mereka yang imunnya rendah.
   “Sejauh ini efek samping yang timbul masih tergolong ringan: nyeri di tempat penyuntikan, sakit kepala, dan nyeri otot. Efek samping berat itu kalau terjadi syok anafilaksis, sampai tidak bisa beraktivitas. Namun sejauh ini tidak ada efek samping berat yang dilaporkan,” ujar dr. Karin.

Melalui vaksinasi, kita mewujudkan bentuk mengasihi sesama, melindungi orang sekitar kita dari bahaya pandemi ini. “Kematian karena virus sudah banyak, sedangkan kematian disebabkan vaksin belum ada,” tandas dr. Karin. “Ingat, vaksinasi itu lebih nyaman daripada infeksi.”

Q & A
Masih ada kegamangan dan rasa ingin tahu kita seputar vaksin Covid-19, sebelum kita memutuskan menerimanya. Apa saja itu?

Q: Saya adalah orang yang sudah pasang ring karena pernah penyumbatan jantung. Apakah saya tergolong orang yang eksklusi terhadap vaksin?

A: Tidak masalah, selama gula darah terkontrol sehingga respons imun cukup.

Q: Saya agak ragu dengan vaksin baru ini, bagaimana jika saya vaksin pneumonia atau influenza saja?

A: Ya, ada kekebalan tertentu dari vaksin flu yang bisa meng-cover sedikit virus Covid-19, tetapi tidak 100%. Vaksin untuk Covid-19, tentunya memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi untuk membentuk imun terhadap virus ini, dibandingkan vaksin lainnya.

Q: Penerima vaksin, apakah terbebas 100% dari paparan Covid-19?

A: Saat ini jawabannya iya, namun kita tidak tahu perkembangan mutasi virus. Hal ini tentunya perlu dilihat melalui studi di kemudian hari. Setelah vaksinasi masih ada kemungkinan terjangkit paparan virus walaupun persentasenya kecil. Oleh karena itu jangan lepas dari 3M. Orang yang sudah sembuh dari Covid-19 pun bisa terjadi reinfeksi, maka risiko itu pun tetap ada. Vaksinasi berguna agar infeksi virus tidak menyebabkan risiko paparan menjadi lebih parah.


 
 
 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190