TETAP UNGGUL & TANGGUH DI ERA DISRUPSI

TETAP UNGGUL & TANGGUH DI ERA DISRUPSI

06 Jan 2021 11:30

Menjadi fokus agenda pembangunan lima tahunan terakhir dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025, pembangunan sumber daya manusia (SDM) sudah seharusnya dilaksanakan secara menyeluruh. Fisik maupun nonfisik (baca: mental dan spiritual). Keselarasan antara fisik, mental, dan spiritual inilah yang akan membentuk diri manusia yang unggul, tangguh, kompeten, dan adaptatif, sehingga daya saingnya pun tinggi. Sudah terwujudkah hal itu?

Sayangnya, seperti yang pernah dinyatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, posisi daya saing SDM Indonesia malah turun ke peringkat 50 dunia pada tahun lalu, anjlok lima level dari tahun 2018. Salah satu penyebabnya, kualitas pendidikan yang masih harus ditingkatkan.

Tentu tidak hanya itu yang harus dipersiapkan. Ignatius Untung, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDEA), seperti dikutip dari laman wantimpres.go.id, mengatakan, kebijakan penyiapan SDM dibagi menjadi tiga tahapan sesuai dengan jangka waktunya. Untuk jangka pendek, calon tenaga kerja yang sudah siap kerja harus dibekali pengetahuan cukup melalui pendidikan vokasi. Untuk jangka menengah, transformasi kurikulum perguruan tinggi harus disesuaikan dengan kebutuhan industri. “Perlu diperhatikan, penyesuaian kurikulum ini akan makan waktu lama, sehingga pasti akan ketinggalan dengan perkembangan industri,” katanya.

Sementara untuk jangka panjang, perlu adanya kebijakan nasional yang mendorong masyarakat memiliki wawasan memadai mengenai profesi-profesi baru yang dihasilkan Revolusi Industri 4.0, sehingga mereka pun tertarik mendorong anak-anaknya untuk menimba ilmu dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan Industri 4.0.

DISRUPSI DI REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Perubahan besar terjadi begitu muncul Revolusi Industri 4.0 dampak dari terobosan teknologi yang terjadi. Dari perubahan cara hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain. Dari bidang industri hingga kondisi sosial. Dan sesungguhnya, semua perubahan tersebut menawarkan peluang beserta tantangan demi mencapai masa depan yang gemilang. Karenanya, sumber daya manusia merupakan salah satu determinan utama yang menentukan keberhasilan sebuah organisasi dalam memanfaatkan peluang dari Revolusi Industri 4.0.

Kita semua paham, dari berbagai pengaruhnya terhadap sektor bisnis, dengan begitu era 4.0 membutuhkan kecepatan, sesuatu yang customized, lebih khusus, dan lebih spesifik. Yang tak kalah penting, dibutuhkan perubahan mindset, di antaranya harus fleksibel dan tidak kaku. Penyewaan film ternama seperti Blockbuster sampai bangkrut dan terpaksa menutup 129 gerainya pada awal 2013 setelah kalah bersaing dengan Netflix dan iTunes. Raksasa penyewaan buku, Barnes & Noble juga kewalahan menghadapi persaingan dengan toko buku online seperti Amazon.com. Terlebih, maraknya situs digital yang menyediakan file buku berbentuk PDF dan ebook turut memengaruhi perubahan dalam sektor bisnis tersebut.

Salah satu ‘symptom’ dari Era 4.0 adalah terjadinya disrupsi, gangguan yang mengakibatkan keterkejutan dunia industri karena bermunculannya kompetitor baru yang jauh lebih efisien dan efektif, serta penemuan teknologi baru yang mengubah peta bisnis. Kondisi ini memaksa para pemain lama harus berpikir ulang bagaimana menggodok sekaligus mengimplementasikan strategi baru dalam era disrupsi ini. Dalam dua dekade terakhir, evolusi teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan perubahan fundamental di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktik bisnis modern.

Perubahan yang cepat dari lingkungan bisnis serta kebutuhan pelanggan, membuat tantangan baru bagi pelaku bisnis agar dapat beradaptasi dan bertransformasi dengan lingkungan baru. Jika tidak dilakukan, bukan tidak mungkin kejadian Blockbuster dan Barnes & Noble akan menimpa bisnis Anda.

MENGHADAPI ERA DISRUPSI
Salah satu strategi penting dalam menghadapi era disrupsi ini adalah mempersiapkan human capital dengan membekali ilmu baru sesuai perkembangan zaman. Dengan pesatnya perubahan lini kehidupan menjadi serba digital, bukan tidak mungkin robot akan menggantikan pekerjaan manusia. SDM sebaiknya didorong untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuannya mengenai teknologi, karena tenaga kerja yang mampu mengaplikasikan dan mengontrol teknologilah yang mampu terus bergerak maju. Tentu, melek teknologi saja tidak cukup. Memiliki cara berpikir yang berbeda atau out of the box juga diperlukan, sehingga mampu membuat terobosan-terobosan baru atau penyesuaian pada bisnis agar lebih sesuai juga sangat diperlukan dalam era 4.0.

Perusahaan harus mampu menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. Ini sebagai perwujudan dari tiga solusi pintar dalam menghadapi revolusi industri 4.0, yaitu smart foundation, smart process, dan smart connectivity.

Tapi lebih daripada itu, yang paling penting adalah mengubah pola pikir dan memiliki kesadaran untuk lebih cepat dalam mengadaptasi perubahan. Seluruh SDM dalam organisasi harus cepat beradaptasi dengan perubahan, karena efek disrupsi dapat mengubah segala hal, termasuk budaya organisasi dalam melakukan proses bisnisnya.

PERLUNYA REVOLUSI MENTAL
Presiden Soekarno, pada Pidato Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956 mengatakan, “Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.”

Membangun suatu negara tak hanya pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya membangun jiwa bangsa. Inilah yang disebut sebagai gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo. Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Jiwa merdeka yang disebut Presiden Jokowi sebagai positivisme.

Jadi, meski di era 4.0 banyak hal diotomatisasi, internet of things, digitalisasi, tapi soft skill orang tak bisa tergantikan mesin-mesin. Bagaimana interaksi, perasaan tidak bisa diganti dengan mesin. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri dan lingkungannya. Kemudian bagaimana ia mengelola hubungan dengan teman-temannya, lingkungan, dan sosialnya. Itu yang dinamakan social intellegence. Revolusi ini sangat dibutuhkan. 

KARAKTER 360
Manusia yang berkarakter adalah yang dibutuhkan bangsa ini untuk mempersiapkan human capital yang unggul dan tangguh. Tapi karakter seperti apakah itu? Pakar pengembangan diri, Erbe Sentanu, menjawab dalam bukunya Karakter 360, yaitu manusia yang selain memiliki semangat, kemauan, kerja keras, ketekunan, dan kebahagiaan, juga bersifat adaptatif dan lentur. “Manusia yang menyadari bahwa dalam dirinya sudah terinstalasi superintelligent software—yaitu hati nurani dan jiwa—dan paham bagaimana menggunakannya,” kata Erbe. “Itulah manusia berkarakter utuh, seperti lingkaran penuh—360 derajat.”

 

Dengan kesadaran itu, ia melanjutkan, apa pun perubahan yang terjadi di luar diri kita, akan mampu kita terima, pahami, dan sikapi. Dengan menggunakan superintelligent software tersebut kita akan mudah menangkap “pesan Tuhan” dalam disrupsi yang terjadi. “Tuhan meminta kita harus cepat berubah, karena kita selama ini masih ‘terlalu santai’ sehingga ketinggalan dengan yang lain,” paparnya. “Tapi tentu untuk berubah kita juga harus menggunakan hati nurani, sehingga perubahan itu punya manfaat yang besar buat orang lain dan lingkungan.”

Jadi, kata penulis buku Quantum Ikhlas dan The Miracle of Zona Ikhlas ini, bukannya gampang menyerah dan putus asa, namun sebaliknya, kesadaran akan hati nurani dan jiwa ini akan membuat kita bangkit dan mengejar ketertinggalan, dan sekaligus memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan bersama.
SOFT SKILLS YANG DIPERLUKAN DI ERA 4.0

COMPLEX PROBLEM SOLVING
Kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks serta belajar darinya untuk menjadi lebih baik.

CRITICAL THINKING
Mampu berpikir kritis, masuk akal, kognitif, dan membuat strategi untuk meningkatkan hasil. Berpikir dengan tujuan yang jelas, beralasan, dan berorientasi pada sasaran.

CREATIVITY
Kemampuan terus berinovasi dan bermanfaat bagi masyarakat serta lingkungan. Mampu mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi lebih baik.

PEOPLE MANAGEMENT
Memiliki kemampuan untuk mengatur, memimpin, dan memanfaatkan sumber daya manusia secara tepat sasaran dan efektif.

COORDINATING WITH OTHER
Kemampuan bekerja sama dengan tim ataupun dengan orang di luar tim. 

EMOTION INTELLIGENCE
Kemampuan untuk mengatur, menilai, menerima, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

JUDGMENT AND DECISION MAKING
Kemampuan menarik kesimpulan atas situasi yang dihadapi dan mengambil keputusan dalam kondisi apa pun, termasuk saat sedang berada di bawah tekanan.

SERVICE ORIENTATION
Memiliki keinginan untuk membantu dan melayani orang lain sebaik mungkin tanpa mengharapkan penghargaan semata.

NEGOTIATION
Kemampuan berbicara, bernegosiasi, dan meyakinkan orang dalam aspek pekerjaan.

COGNITIVE FLEXIBILITY
Kemampuan menyusun suatu pengetahuan secara spontan, dalam banyak cara, memberi respons penyesuaian diri untuk secara radikal mengubah tuntutan situasional.

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190