SEBUAH SPIRIT BARU BERNAMA SPORT TOURISM

SEBUAH SPIRIT BARU BERNAMA SPORT TOURISM

21 Oct 2020 17:26

Ya, di saat pengejaran gaya hidup sehat, tren olahraga kekinian, fashion athleisure, dan hobi traveling berkelindan di era 4.0, kita pun sulit untuk tidak terbawa dalam sebuah gairah baru bernama: sport tourism!

SENSASI SPORT TOURISM
Barangkali kita masih terkenang pada komik Asterix & Obelix di era 90-an, yang salah satu edisinya, Asterix di Olimpiade, menampilkan imaji komikal rombongan masyarakat yang berbondong-bondong menuju Yunani untuk menonton Olimpiade. Ilustrasi tersebut nyata adanya! Tradisi peradaban kuno, dimana masyarakat bepergian ke Yunani hingga sekian lama demi menonton kontingen bangsanya bertanding di Olimpiade Yunani dicatat oleh sejarah sebagai cikal-bakal sport tourism di dunia.
 

Di dunia modern, lanskap pegunungan Swiss yang menjadi kanvas sempurna untuk pengalaman ber-ski disebut-sebut sebagai pionir sport tourism modern. Ya, sport tourism adalah pengelanaan ke destinasi tertentu yang kita lakukan dengan tujuan utama berpartisipasi ke sebuah ajang olahraga atau demi ikut menyaksikan sebuah perhelatan olahraga di tempat tersebut. Mengingat betapa pesatnya tren ini berkembang di seluruh dunia, bisa jadi Anda pun tanpa sadar telah berpartisipasi di dalamnya. Berdasarkan data United Nation World Tourism Organization (UNWTO) di 2015, tercatat sport tourism mengambil porsi 25 persen dari penerimaan industri perjalanan dan pariwisata global.

Demikian signifikannya tren sport tourism, sampai-sampai Kanada pun memiliki kementerian khusus untuk sport tourism, yakni The Ministry of Heritage, Sport, Tourism and Culture Industries. Kementerian yang merupakan hasil penggabungan kementerian kebudayaan dan kementerian pariwisata ini diresmikan pada 2011 atas kesadaran para pemangku kepentingan di sana bahwa pariwisata dan olahraga makin lengket beriringan sebagai gaya hidup masyarakat luas.
 
    

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?
Harus diakui, olahraga dan pariwisata memang sangat berpotensi secara industri ketika digabungkan. Jelang akhir tahun lalu kita menyaksikan Borobudur Marathon, perlombaan lari bertaraf internasional terbesar di Jawa Tengah yang memiliki 3 kategori perlombaan: Marathon (42,195 km), Half Marathon (21,095 km), dan 10K (10 km). Acara tahunan ini menjadi sangat autentik karena para pelari (bahkan keluarga dan teman pelari yang tidak ikut berkompetisi sekalipun) dimanjakan dengan pertunjukan budaya, kuliner lokal, dan keramahtamahan warga desa lokal. Sebuah ‘perkawinan’ antara pengalaman berolahraga dan berwisata yang terintegrasi dengan paripurna!
 

Sport tourism di Indonesia turut didukung oleh fenomena makin mudanya usia para pengelana; milenial dari berbagai negara dan bangsa kini menempatkan prioritas yang besar pada budgeting pribadi mereka untuk berkelana ke tempat-tempat eksotis dan mengunggahnya ke media sosial mereka. Sport tourism mendapat suntikan energi dari hasrat untuk dilihat dan melihat ini. Secara fisik? Ya, tentu segmen ini yang paling siap untuk melakukan sport tourism dibanding segmen usia 50 tahun ke atas yang cenderung melakukan aktivitas non-intens dan rileks di destinasi wisatanya.

Meski demikian, sport tourism di Indonesia pun jika kita telusuri akarnya, bukan sekadar ‘tren baru’ di industri olahraga. Dengan fenomena serupa Swiss, namun output yang berbeda, lanskap kepulauan Indonesia memang menjadi ‘taman bermain’ layaknya surga bagi para pencinta olahraga. Sebut saja Bali, tahun 1924. Era ketika sang surga baru mulai terkuak ke mata wisatawan internasional; era ketika pelayaran mingguan oleh perusahaan Kerajaan Belanda mulai melayani penumpang antara Singapura, Batavia, Semarang, Surabaya, dan singgah di Bali. Pelayaran pionir itu disambut dengan antusias oleh para pelancong; dari tahun ke tahun, angka turis yang datang ke Bali naik secara teratur. Tak butuh waktu lama, tiga tahun kemudian nama Bali sebagai destinasi penuh petualangan sudah menjadi buah bibir di majalah Tourism in Netherlands East Indies edisi 8 Februari 1927.
 

SELEKSI MENU MENGGIURKAN SPORT TOURISM
Meski identik dengan pengelana milenial yang senang bertualang dengan gaya hidup hipster, pada dasarnya sport tourism ramah untuk semua segmen. Inilah sejumlah varian sport tourism:

Berbasis Peserta
- Active sport tourism
Kegiatan berkelana yang dilakukan dengan agenda untuk berpartisipasi secara langsung di sebuah perhelatan olahraga, misalnya tim sepak bola dari negara A yang terbang ke negara B (beserta dengan tim manajemennya) untuk sebuah pertandingan penting.

- Passive sport tourism
Kegiatan berkelana yang dilakukan dengan agenda untuk menyaksikan sebuah pertandingan/perhelatan olahraga atau berkunjung ke sebuah stadion/museum terkait olahraga. Contohnya turis yang membeli tiket untuk menonton SEA Games 2019 langsung di Filipina.

Berbasis Acara
- Hard sport tourism
Wisata olahraga yang dilakukan ketika ada acara perlombaan olahraga yang diselenggarakan secara reguler. Contohnya: Asian Games, Olimpiade, World Cup, dan SEA Games.

- Soft sport tourism
Wisata olahraga yang lebih bersifat mengikuti tren gaya hidup, seperti lari atau bersepeda.

Berbasis Geografis
- Marine sport tourism
Wisata olahraga terkait kawasan perairan, seperti diving, snorkeling, berselancar, dan lain sebagainya.

- Winter sport tourism
Wisata olahraga di negara bersalju, dengan aktivitas olahraga khas musim dingin seperti ski.

- Terrain sport tourism
Wisata olahraga dengan atraksi utama adalah lanskap alam berupa dataran yang potensial untuk aktivitas olahraga seperti panjat tebing atau hiking.

- City sport tourism
Wisata olahraga ke kota tertentu dengan fasilitas teknologi gym terbaru atau sirkuit balapan tercanggih misalnya.

MEMANDANG MASA DEPAN SPORT TOURISM
Bayangkan sebuah industri yang membawa kebaikan dan sukacita, mulai dari penyedia jasa hingga konsumennya. Inilah wajah sport tourism di Indonesia hari ini; barangkali ini pulalah yang menjadikannya salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan terpesat di negara kita. Menurut data majalah SWA, per 2018 sport tourism di Indonesia telah menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, yaitu 6 persen per tahun atau sekitar 600 miliar dolar AS per tahun.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sendiri sejak beberapa tahun terakhir telah menyiapkan konsep pemasaran wisata Indonesia dengan menggandeng sport tourism. Jika dilihat dari situs resmi kementerian, pesona.travel, konsep pariwisata Indonesia disajikan dengan bendera 5 Keajaiban Indonesia: Petualangan, Alam, Budaya, Kuliner, dan Rekreasi. Dalam klasifikasi ini, sport tourism masuk dalam kategori Petualangan.

Menurut sejumlah operator wisata di timur Indonesia, dari Raja Ampat sampai Sumba, mayoritas wisatawan yang menyesaki destinasi petualangan di lanskap alam mereka adalah turis asing dari Asia dan Eropa. Diprediksi, pergeseran gaya hidup kelas pekerja secara global akan makin menyokong tren ini meningkat. Mengapa? Tren bekerja yang makin tidak terikat kantor fisik dan jam kerja mendorong makin banyak milenial berkelana sambil berkomunikasi dengan kantornya alias ‘workliday’.

Di sisi lain, korporasi besar pun makin mengurangi jam kerja bagi karyawannya, seperti Microsoft Jepang yang baru-baru ini menjadi viral karena mengurangi hari kerja karyawannya dari lima hari seminggu menjadi empat hari (sebuah keputusan yang lantas malah menaikkan produktivitas karyawannya hingga 40%). Perkembangan teknologi komunikasi dan produk fashion athleisure yang terus berlangsung pun dipandang akan makin mendorong orang menjelajah dan berolahraga di tempat-tempat eksotis—apalagi berbagai platform dan startup hadir mempermudah semua orang untuk mendapatkan pengalaman berwisata yang autentik.

INDAHNYA MENJADI TUAN RUMAH
Ketika kesempatan menjadi tuan rumah sebuah perhelatan olahraga internasional seperti Piala Dunia menjadi perebutan, tentu alasannya bukanlah prestise semata. Jika dikelola dengan tepat dan profesional, memang dampaknya signifikan pada sosial-ekonomi masyarakat; meningkatnya okupansi hotel, transaksi di restoran, retail, dan sebagainya. Secara sosial, kesempatan terlibat dalam sport tourism seperti menjadi tuan rumah sebuah perhelatan olahraga membantu menguatkan spirit berkomunitas warga setempat, sembari juga mengokohkan karakter dan identitas bangsa sambil memperkenalkannya ke masyarakat dunia.
 
 

Dari sisi pembangunan infrastruktur, kita menyaksikan berdirinya sejumlah infrastruktur olahraga dan transportasi yang lebih baik di saat sebuah negara menjadi tuan rumah. Indonesia ketika menjadi tuan rumah Asian Games, mendapatkan akselerasi pembangunan fasilitas transportasi LRT di Jakarta dan Palembang, beserta pemugaran atau pembangunan fasilitas olahraga baru dengan memakai teknologi terbaik.

Mumpung kita sudah menyinggung soal Asian Games, Channel News Asia melaporkan keuntungan ekonomi yang diraih Indonesia dari perhelatan internasional tahun 2018 tersebut: USD2.8 M. Semoga kita masih akan terus menyaksikan geliat yang menarik dari industri sport tourism di Indonesia!


MAU KEMANA? AGENDA SPORT TOURISM INDONESIA 2020

JANUARI
Tahura Trail Running Race
Half-marathon dan full-marathon dengan setting di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang terletak di tengah-tengah Bandung.

APRIL - MEI
Krui World Surfing League
Kompetisi selancar internasional di Pesisir Barat, Lampung, yang populer dengan 21 titik surfing.

JUNI
Rinjani 100 Ultra

Trail run dari 27K hingga 117K di Lombok (NTB) yang menggabungkan panorama laut yang indah hingga puncak gunung

JULI
Mantra Summits Challenge

Lari trail melintasi empat gunung di Kaliandra Eco Resort & Farm, Pasuruan,  Jawa Timur.

AGUSTUS
Sanur Village Festival

Festival layang-layang, parade budaya, kompetisi jukung, Sanur Run, dan Sanur Village Cycling Tour.

Iron Men Bintan
Berenang, bersepeda, dan berlari di setting kepulauan yang eksotis.

OKTOBER
Aceh International Diving Festival

Perlombaan fin-swimming dan berbagai aktivitas diving lainnya.

NOVEMBER
Borobudur Marathon

Kompetisi lari terbesar di Jawa Tengah dengan standar internasional.
 
   

 

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190