TATKALA SENI DAN TEKNOLOGI MENYELARAS

TATKALA SENI DAN TEKNOLOGI MENYELARAS

13 Jan 2021 16:41

Sebagai kalangan yang tech-savvy, para milenial menempatkan teknologi bukan cuma sekadar tools yang mempermudah dalam beraktivitas dan berinteraksi,  tetapi juga mencari inspirasi. Tak heran jika instalasi digital menjadi sebuah karya seni yang sangat diminati kalangan ini.

Sesuai namanya, instalasi adalah sebuah karya seni yang berkaitan dengan pemasangan (instalasi) sesuatu untuk dipamerkan. Mediumnya bisa berwujud dua atau tiga dimensi yang menciptakan realitas bermakna ketika melihatnya. Namun, tidak seperti seni lukis atau patung, seni instalasi harus dipasang dan disusun terlebih dahulu karena melibatkan banyak komponen benda seni bahkan di luar seni rupa. 

Dari sejarahnya, seni instalasi diyakini sudah ada sejak tahun 1950-an dan berkembang di Amerika Serikat di tahun 1970-an yang merupakan bagian dari aliran pop art, ditandai dengan fenomena karya Judy Pfaff yang membuat taman di bawah laut dari ribuan jenis sampah.

Di Indonesia, seni instalasi juga hadir di era yang tidak jauh berbeda, tepatnya tahun 1975-an yang digawangi seniman FX Harsono, Nyoman Nuarta, Munni Ardhi, dan sebagainya. 

FAVORIT MILENIAL
Dengan kemajuan teknologi, seni instalasi kini makin eksploratif tanpa batasan fisik dan transeden yang melibatkan kolaborasi seniman dengan para geek, seperti animator, arsitek, hingga programmer.

Menurut Leo Silitonga, Fair Director Art Moments Jakarta, kalangan milenial memang cenderung menyukai instalasi digital karena merupakan kalangan yang familiar dengan teknologi. Selain itu, dari sisi komersial kalangan ini memiliki potensi besar. "Bagi Art Moments Jakarta sendiri, kalangan milenial itu pangsa pasar yang besar, ada sekitar 50% dari jumlah penduduk di Indonesia. Kalau tidak dirangkul dari sekarang, 10 tahun ke depan kita tidak akan dikenal," ujarnya.
 
  
Leo Silitonga

Itulah sebabnya, Leo melanjutkan, sebisa mungkin galeri atau pameran seni harus melibatkan milenial. Dalam hal ini, Art Moments Jakarta sampai berkolaborasi dengan Jakarta Sneakers Day yang dikenal di kalangan milenial.

Meskipun techno-savvy, Leo beranggapan, pameran seni untuk kalangan milenial tidak disarankan untuk digelar secara virtual, sekalipun dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini sesuatu yang virtual memang menjadi alternatif yang aman dalam menggelar berbagai pertunjukan termasuk pameran seni. "Selain butuh infrastruktur yang tidak murah, seni instalasi agak sulit dijadikan sebagai virtual exhibition karena kalau sudah berwujud 3D butuh pengalaman ruang yang agak sulit didapatkan secara virtual," ungkapnya.

Apalagi, menurut dia, menghadiri pameran seni saat ini merupakan ajang unjuk eksistensi yang membutuhkan interaksi dan sorotan dari orang lain. Sementara pada virtual exhibition mandiri prioritas mandiri prioritas tidak ada interaksi sehingga tidak ada persaingan dan permainan ego dari penikmati seni. “Jadi yang namanya virtual itu tidak ada greget-nya, tidak bisa memainkan ego pengunjung,” dalih pria berkacamata ini.

INSTALASI DIGITAL DI DUNIA DAN INDONESIA
Sebagai benchmark dari kecanggihan seni instalasi digital, terdapat beberapa galeri di dunia. Di antaranya, Barbican's Curve Gallery di London, Inggris yang merupakan satu contoh sempurna display seni instalasi digital. Di sini pengunjung bisa merasakan sensasi hujan-hujanan tanpa kebasahan berkat spotlight yang besar untuk menciptakan pengalaman psikologis.

Selain itu, ada juga Whitney Museum of American Art di New York, AS yang merupakan agen seni digital terkemuka yang "mendaur ulang" karya seni dari 50 tahun ke belakang dengan melibatkan coding dan komputasi untuk menciptakan seni konseptual dari akhir tahun 1960-an.

Mundur ke belakang, di tahun 2013, Leo Villareal meluncurkan proyek instalasi termegah pada masanya yang membuat jembatan San Fransisco-Oakland Bay Bridge bertambah gemerlap dan indah sepanjang malam. Proyek yang bertitel "The Bay Light" ini berlangsung hingga dua tahun dengan menggunakan sebanyak 25.000 lampu LED yang terprogram secara individual untuk menghadirkan gerakan dan kerlap-kerlip yang membentuk pola tertentu.
 
        

Melakukan pemindaian alias scanning QR code lewat perangkat smartphone memang sudah menjadi umum sekarang ini. Tapi sebelum penggunaannya massal, seorang desainer Sergei Tchoban menghadirkan proyek bertitel "Russian Pavillion" di 2012 Architechture Bienalle yang digelar di Venisia. Tchoban berhasil mengubah sebuah paviliun kuno penuh dengan QR code di bagian dinding, lantai, hingga atap. Pengunjung bisa melakukan pemindaian QR code tersebut untuk mendapatkan informasi megenai Kota Skolkovo, Rusia.

Bagaimana dengan Indonesiafi Negara ini memang terbilang sudah tidak awam dengan seni instalasi digital. Beberapa pameran telah diselenggarakan dan sejumlah galeri juga menampilkan karya-karya seniman yang memiliki pakem ini. Salah satu yang tersohor dan viral belakangan ini adalah Museum Macan (Modern and Contemporary Art in Nusantara) yang berada di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. Di sini terdapat sekitar 90 karya seni rupa modern Indonesia dan
juga kontemporer dari seluruh dunia.

Di antara koleksi yang ada, karya seniman Jepang, Yayoi Kusama yang bertitel "Infinity Mirrored Room" menjadi yang terpopuler. Pengunjung bisa merasakan sensasi interaktif di dalam ruangan yang penuh dengan lampu-lampu berwarnawarni reflektif.
 
          
 
MENGHAPUS KERAGUAN
Dengan begitu, apakah seni instalasi digital sepopuler itu? Tidak juga. Dengan potensinya yang besar, banyak museum dan galeri seni yang masih ragu menghadirkan instalasi digital sebagai salah satu display-nya. Hal ini dikarenakan masih ada keraguan mengenai kelestarian dari teknologi yang erat dengan perputaran zaman, selain kerumitan yang lebih sekadar dari proses produksi karya seni.

Padahal jika dilihat dari potensi kalangan milenial, seharusnya tidak ada lagi keraguan itu. Apalagi, di Indonesia sendiri saat ini sedang mengalami bonus demografi milenial, di mana usia produktif 15-64 tahun lebih banyak dibandingkan usia 15 tahun ke bawah dan 64 tahun ke atas. Dari kacamata ekonomi, tentu saja demografi ini bisa mendatangkan potensi komersial. Dan seni instalasi digital bisa menjadi salah satu jalannya. 
 
       

       

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190