THE RAISING  SUSTAINABLE FASHION

THE RAISING SUSTAINABLE FASHION

13 Jan 2021 17:11

Saat ini, kata sustainability menjadi topik hangat dibicarakan atau digunakan dalam industri gaya hidup. Namun, sayangnya, konsep ini sekarang makin kehilangan maknanya dan terkesan sekadar menjadi sebuah slogan demi kepentingan pemasaran. 

Keprihatinan tersebut diungkapkan oleh desainer kenamaan Stella McCartney yang telah lama menyuarakan dan menjalankan praktik sustainable fashion kepada Vogue Global Conversations. “Tiba-tiba sustainability menjadi kata yang sangat terlalu sering digunakan dan ironisnya banyak orang tak lagi memahami benar arti sebenarnya,” keluhnya. Padahal, seharusnya, sustainable yang berarti ‘berkelanjutan’ bukan sekadar mengganti kantung plastik dengan kantung ramah lingkungan, menggunakan sedotan kertas atau stainless, serta bukan juga mengharamkan tas kulit asli. Ada makna yang lebih dalam dari itu.
 
Stella McCartney's Fashion Show  
 
                    Stella McCartney
 
Fenomena ini memunculkan istilah baru, yaitu greenwashing. Ini untuk menyebut penggunaan stempel sustainability hanya untuk kepentingan pasar sementara praktiknya tidak sustainable. Sebutan kasarnya, “pura-pura ramah lingkungan”. Greenwashing meningkatkan kesadaran kepada konsumen akan praktik berkelanjutan namun tidak yakin produk yang dibeli benar-benar dapat membuat perubahan. Karena itu pentingnya transparansi produsen yang mengklaim dirinya atau produknya berkelanjutan sangat dibutuhkan oleh konsumen.
 

Pusat daur ulang garmen di dunia terletak di Panipat, kota di utara New Delhi, India
 
Terdapat sebuah fakta menarik hasil survei yang dilakukan oleh McKinsey Amerika terkait sustainability. Sebanyak 66 persen (dengan 75 persen generasi millennial) responden mengatakan untuk mempertimbangkan wacana sustainability saat berbelanja barang mewah. Namun, hanya 31 persen dari Gen-Z dan 12 persen generasi baby boomers yang rela membayar lebih untuk produk sustainable. Hal tersebut membuktikan bahwa konsumen tidak mengerti secara pasti arti sustainability atau cara mengidentifikasikan brand yang melakukan praktik tersebut. 
 
SUSTAINABLE FASHION
Sustainable sendiri menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah “pengembangan pemenuhan kebutuhan masa sekarang tanpa mengkompromikan kebutuhan  generasi mendatang”. Sementara sustainable fashion dijabarkan Kate Fletcher pada bukunya, Sustainable Fashion and Textiles: Design Journeys, adalah sebuah konsep gerakan serta proses dalam mendorong perubahan terhadap sistem industri mode dan produk yang akhirnya menuju integritas ekologi yang lebih baik dan keadilan sosial. Artinya, sustainable fashion tidak hanya menilik pada tekstil atau produk akhir, melainkan terhadap seluruh sistem di industri mode yang juga saling berhubungan. Dari masalah sosial, kultur, ekologis, dan sistem finansial. Hal tersebut berarti mempertimbangkan segala aspek termasuk alam, keberlangsungan makhluk hidup di masa kini serta mendatang, bisnis model, produksi yang dapat bertanggung jawab atau beretika, kebudayaan, dan tak kalah pentingnya konsumen itu sendiri. Sustainable fashion bukan hanya berarti ramah lingkungan pada material semata tetapi perhatian seluruh sistem dari hulu ke hilir dan lebih holistis.
 
  
 Sustainable Fashion and Textiles : Design Journeys oleh Kate Fletcher

  
Sustainable windmill
                                    
Dikutip dari The Business of Fashion, Claire Bergkamp, global sustainability and innovation director dari Stella McCartney serta lulusan London College of Fashion yang berfokus pada berkelanjutan dan pendauran, membagi sustainable menjadi tiga bagian. Sustainability lingkungan yang berarti berhubungan pada lingkungan hidup, mencakup asal bahan, material mentah, proyek peternakan, dan sebagainya. Lalu, sustainability secara sosial yang mencakup hak asasi manusia dan berhubungan tentang manusia yang terlibat di dalamnya. Dan, ketiga adalah seputar inovasi yang berhubungan dengan praktik berkelanjutan. Sebagai contoh, tim inovasi pada perusahaan sepatu olahraga akan mulai berfokus pada penggunaan busa bantalan yang inovatif namun lebih ramah lingkungan. Ketiga pembagian dilakukan agar setiap brand atau desainer dapat memilih fokus yang lebih sesuai bagi mereka.

Pada Copenhagen Fashion Summit 2018, Global Fashion Agenda mengeluarkan CEO Agenda 2018 bagi para pemimpin di industri mode yang dapat dijadikan sebuah patokan dasar menjalani bisnis sustainable. Seperti dikutip dari sebuah artikel rangkuman The Business of Fashion, ada tujuh langkah prioritas praktik sustainability dalam industri mode, yaitu:
  • Transparansi pemasok material dari berbagai tingkatan.
  • Perhatian efisiensi penggunaan air, energi, dan cairan kimia saat produksi.
  • Lingkungan pekerjaan yang aman dan berintegritas.
  • Penggunaan material lebih ramah lingkungan lebih banyak.
  • Sistem mode yang lebih berkelanjutan atau dapat didaur ulang kembali setelah usai dikonsumsi.
  • Mempromosikan upah yang lebih baik hingga sektor rekanan.
  • Menganalisa kembali saat mengaplikasikan teknologi seperti penggantian pekerja dengan mesin. 
Meningkatnya wacana abstrak keberlanjutan hajat hidup tersebut membawa perubahan cukup signifikan pada label independen, brand internasional, rumah mode, desainer, dan bahkan para pemain fast fashion. Sebagai contoh, Chanel yang sangat tertutup tentang bisnisnya selama ratusan tahun pada tahun 2018 mempublikasikan “Report to Society”. Laporan setebal 76 halaman itu berisi informasi detail tentang transparansi rumah mode gagasan Coco Chanel itu.
 

Report to Society, laporan transparansi bisnis Chanel
 
Tentu tidak hanya Chanel, brand mode dunia yang lain pun melakukan praktik berkelanjutan. Sebut saja Stella McCartney, Angela Roi, Patagonia, Maiyet, Pamela Love, Everlane, dan Clare V. Sementara Maharishi serta Noah adalah contoh lain label streetwear yang turut serta menjalankan praktik sustainability. Sedangkan untuk desainer beserta label lokal kita bisa menyebut Sejauh Mata Memandang, Setali, Jalin, Sukkha Citta, dan Felicia Budi. Sejauh Mata Memandang beserta Sukkha Citta contoh label yang berfokus pada pembuatan yang lebih etis dan lebih memperhatikan lingkungan.
 
       

Sebuah konsep sustainability akan menjadi agenda ekologi semata jika bisnis model masih berkutat pada pertumbuhan produksi dan penjualan. Para pemain di industri mode perlu lebih sadar akan wacana keberlanjutan yang berkesinambungan antara lingkungan, sosial, dan ekonomi. Namun, perlu diingat pula kampanye gaya hidup sustainable ini lebih sitematis dan harus diubah dari susunan teratas para pelaku industri serta pihak regulator yang secara paralel menjalankan upaya membangun kesadaran dan kepedulian publik terhadap isu tersebut. Jadikan isu keberlanjutan populer dengan membuatnya lebih membumi dan berkenaan pada kehidupan sehari-hari.
 
SEJAUH KISAH KEBERLANJUTAN
Sejauh Mata Memandang merupakan label tekstil yang terinspirasi dari pakaian nasional Indonesia dan berfokus pada batik. Label ini dapat dikatakan slow fashion yang tidak mengikuti tren, tak lekang oleh waktu, namun produknya disesuaikan dengan zaman, sehingga daya terpakainya lebih tinggi dan masa pakainya dapat lebih panjang.

Chitra Subiyakto, sang pendiri yang sebelumnya merupakan fashion stylist ternama, sejak awal menciptakan label tersebut tidak berfokus pada konsep sustainability, ramah lingkungan, atau segala agenda ekologi. Penggunaan material katun, linen, dan Tencel alasannya terletak pada penyesuaian iklim tropis Indonesia serta faktor kenyamanan. Bahan kulit juga tidak digunakan atas kecintaannya pada binatang. “Kita dari awal tidak berfokus pada ramah lingkungan. Lebih mengambil inspirasi dari budaya pakaian nasional yang bahannya disesuaikan dengan iklim tropis. Kami berusaha menggunakan bahan yang punya masa akhir dan dapat terurai,” ungkap Chitra.

Dalam obrolannya dengan tim Mandiri Prioritas, Chitra Subiyakto menegaskan bahwa pada praktiknya proses produksi yang ia jalankan dilakukan secara mindfulness dan holistik. Dari sisi sosial ekonomi, Sejauh Mata Memandang menjalin kerja sama dengan usaha rumahan di luar kota dan ibu-ibu di Rumah Susun Marunda, Jakarta dalam memproduksi produk mereka. Sementara dari sisi ekologi dan model bisnis, label ini berusaha melakukan praktik circular fashion, yaitu upaya mendaur ulang sisa material dan produk pasca dikonsumsi. Sisa kain yang tidak terpakai dari pemotongan ‘diberi napas kembali’ pada koleksi Daur Ulang dan tahun ini dilakukan program Sejauh Daur Kembali.

Sebagai bentuk kepedulian akan lingkungan serta membangun solidaritas akan zero waste yang merupakan tujuan akhir dari wacana abstrak keberlangsungan hajat hidup menjadi lebih populis, Sejauh Mata Memandang melakukan kampanye yang bersifat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kampanye #sejauhmanakamupeduli tentang sampah plastik yang terdapat hubungannya dengan pencemaran lautan, mikroplastik yang dimakan oleh ikan di lautan yang kemudian kita makan, dan lebih luasnya iklim.
 
     

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190