MARKET UPDATE: WHAT BEHOLD OF INDONESIA IN NEW NORMAL PHASE MELIHAT POTENSI INVESTASI  DI TAHUN PANDEMI

MARKET UPDATE: WHAT BEHOLD OF INDONESIA IN NEW NORMAL PHASE MELIHAT POTENSI INVESTASI DI TAHUN PANDEMI

05 Jan 2021 17:19

Bank Mandiri menggelar webinar Market Update dengan tema “What Behold Indonesia in New Normal Phase” yang disiarkan langsung via aplikasi Zoom dan akun YouTube Bank Mandiri pada Selasa, 16 Juni 2020 lalu. Acara yang dipandu oleh Wealth Specialist/Advisory Bank Mandiri Diaz Adritya ini menghadirkan dua narasumber, yakni Deni Ridwan, PhD, Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pembiayaan Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia (DJPPR Kemenkeu) RI dan Lilis Setiadi, Presdir PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen.
 


 
Elina Wirjakusuma, Senior Vice President Bank Mandiri, dalam sambutannya mengatakan bahwa pada saat ini, secara perlahan pemerintah melakukan pelonggaran PSBB dan negara-negara lain di dunia pun telah melonggarkan lockdown untuk dapat memutar kembali roda perekonomiannya. “Mayoritas negara-negara di dunia telah meluncurkan stimulus dalam bentuk ?skal dan juga moneter untuk dapat menopang perekonomian. Begitu juga di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan stimulus sebesar IDR677 triliun,” ungkap Elina. 
 
EKONOMI BARU TUMBUH TAHUN 2021
Deni Ridwan mengatakan, ketika ada second wave dari Covid-19 akan membuat pertumbuhan ekonomi turun hingga -7,2 persen untuk skala global. “Hasil pertumbuhan ekonomi kuartal satu sudah terkoreksi hingga 2,97 di kuartal I 2020. Investasi, konsumsi pemerintah, impor, dan ekspor juga turun,” ujarnya. Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi baru akan terjadi kemungkinan pada tahun 2021 dengan persentase 4,5 sampai dengan 5,5 persen. 
 

 
Meski ada penurunan ekonomi, menurut Deni, penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI017 justru malah mengalami kenaikan. Ia menyampaikan walaupun ORI017 ditawarkan di tengah kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian, animo masyarakat untuk berinvestasi di ORI017 ternyata sangat tinggi. Hal itu terbukti dari ORI017 yang memecahkan rekor penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel tertinggi sejak dijual secara online pada 2018, baik secara nominal, jumlah total investor maupun jumlah investor baru.
 

 
Deni Ridwan mengatakan dana hasil penjualan ORI017 akan dipergunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, termasuk untuk program penanggulangan dan pemulihan dampak pandemi Covid-19. Menurutnya, animo masyarakat yang tinggi tersebut dipengaruhi berbagai aspek, antara lain:
• Aspek keamanan karena ORI merupakan produk investasi yang diterbitkan pemerintah sehingga terjamin pembayaran pokok dan kuponnya serta ditawarkan dengan imbal hasil yang menarik.
•  Aspek kenyamanan karena di tengah kondisi pembatasan sosial, proses pemesanan ORI017 yang dapat dilakukan secara online.
• Aspek kepedulian sosial sebagai bentuk dukungan masyarakat untuk bergotong-royong bersama pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19.

MENUNGGU VAKSIN COVID-19
Sementara itu, terkait perkembangan Covid-19, Lilis Setiadi melihat pasar akan optimistis dengan perkembangan vaksin. Saat ini, vaksin Covid-19 masih dalam tahap uji coba dan mendapatkan izin produksi sehingga diprediksi mulai bisa didistribusikan pada kuartal IV-2020, seperti CanSino dan Moderna. “Ketika pasar mendengar perkembangan vaksin, ini bisa memulihkan ekonomi dan optimisme,” jelasnya.
 

 
Dengan perkembangan itu, konsensus memprediksi pemulihan global bakal terlaksana pada kuartal I-2021. Pada kondisi tersebut, ekonomi dunia akan kembali seperti pada tahun 2019. “Dengan asumsi tidak ada gelombang kedua di beberapa negara,” jelasnya. Dari dalam negeri, Lilis menjelaskan, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran -0,4% hingga 2,3% dari prediksi awal tahun yang sebesar 5,3%. Sementara itu de?sit APBN diprediksi bakal mencapai 6,3% dari GDP dari yang semula ditargetkan 2,2%. Di mana pemerintah memberi stimulus Covid-19 Rp677,2 triliun atau mencapai Rp767 triliun dengan kompensasi bagi BUMN.

Dengan kondisi tersebut, Lilis memprediksi Bank Indonesia (BI) masih memiliki peluang memangkas suku bunga hingga dua kali tahun ini dengan melihat  pergerakan rupiah. Sementara pertumbuhan ekonomi bakal di kisaran -0,5% hingga 0,5%. Sementara itu pertumbuhan EPS diprediksi terkontraksi -17% hingga -23% akibat terdampak Covid-19.
 

 
Atas dasar prediksi itu, Lilis menyarankan investor untuk tetap memperhatikan saham big caps dan bisa melihat saham dengan kapitalisasi kecil serta menengah yang memiliki kinerja solid. Selain itu, iajuga menyarankan beberapa sektor, seperti bahan  konsumsi pokok, toll, dan telekomunikasi. Apalagi saat ini IHSG rata-rata diperdagangkan dengan PER 13,7 kali dan masih berpotensi meningkat.

    

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190