2021: Siap Menggeliat Lagi?

2021: Siap Menggeliat Lagi?

06 Jul 2021 16:21

 



Resilience is all about being able to overcome the unexpected. Sustainability is about survival. The goal of resilience is to thrive. -Jamais Cascio
 
 
Siapa sangka setelah hampir seratus tahun, dunia kembali mengalami pandemi yang mendisrupsi tatanan kehidupan global? Sejarah menorehkan dimana 1918-1919 merupakan momentum dari Flu Spanyol menjadi sebuah pandemi influenza yang menyebar ke seluruh dunia. Disebabkan oleh virus H1N1, diperkirakan sekitar 500 juta orang (atau sepertiga dari populasi dunia) telah terinfeksi virus ini dan bahkan merenggut setidaknya 50 juta jiwa di seluruh dunia.

Mulai dari 31 Desember 2019 ketika kasusnya pertama kali dilaporkan secara resmi di Wuhan hingga per tanggal 22 Januari 2021, virus SARS-CoV2 telah menjangkiti 96,2 juta manusia di dunia, dengan total kesembuhan 53,1 juta jiwa dan kematian sebanyak 2,06 juta jiwa. Tentunya angka ini dinamis, masih terus bergerak dari hari ke hari. Kita tidak mungkin menyingkirkan virus ini dalam waktu sekejap bagaikan kedipan mata, meski mungkin kita telah frustrasi akan dampaknya pada lini usaha kita.
Jauh sebelum frasa “new normal” digaungkan oleh pemerintah dan media, sebuah riset “The 30 Predictions of Consumer Behavior in ‘New Normal’ After Covid-19” yang diluncurkan pada Q2 2020, telah menyatakan prediksi-prediksi pergeseran gaya hidup ke depannya. Apa yang telah diprediksi pun nyata adanya hingga kini. Mobilitas luar rumah berkurang, kebutuhan akan berbagai platform produktivitas online meroket. 

Pandemi pernah dideskripsikan oleh salah satu influencer keuangan milenial sebagai sebuah zero sum game, sebuah permainan dimana keuntungan satu pihak sama dengan kerugian pihak lain. Pandemi melahirkan orang kaya baru, dan orang miskin baru. Benarkah kita hidup dalam situasi yang dikotomis semata? 
 

Mereka yang Beradaptasi
Mulai dari coffee shop, hotel, mall sempat mengalami kondisi kritis bahkan gulung tikar, karena minimnya transaksi yang terjadi. Karena terdesak nominal utang maupun overhead cost, tak sedikit hotel dari bintang 3 sampai 4 di Bali, Yogyakarta, hingga Jakarta terlampir pada situs jual beli properti. Bayangkan saja, bagaimana cara yang memungkinkan mendapatkan profit ketika sepi pengunjung, dan masih banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk maintenance, membiayai pegawai, serta membayar pajak? Bukan hal yang mudah bagi pengembang properti skala kecil untuk meyakinkan customer bahwa mereka akan terjamin kesehatannya 100% ketika awal pandemi terjadi dan masih banyak ketidakjelasan.

Ketika banyak tempat berwisata harus tutup dan masyarakat dianjurkan untuk tetap berada di rumah atau tidak bepergian keluar kota, jasa travel agency pun terkena imbas. Customer yang telah membayar DP maupun penuh untuk tiket perjalanan, tempat penginapan dan rencana tour, menuntut agar uang mereka kembali karena mereka tidak dapat menikmati wisata di saat pandemi. Tutupnya lokasi pariwisata dan akses untuk berwisata secara langsung di awal pandemi dikarenakan kebijakan pemerintah yang berlaku, berdampak pada industri pariwisata.

Snowball effect pun terjadi dengan PHK massal, pemotongan gaji ataupun kontrak kerja yang putus di tengah jalan, yang terjadi pada pekerja kantoran, pekerja lapangan maupun pekerja berbasis event. Dikarenakan pandemi, masyarakat Indonesia pun gagap untuk melanjutkan berbagai event yang telah jauh direncanakan. Mulai dari pameran, wedding, konser, ulang tahun, dan corporate event ditunda bahkan ditiadakan. Maka, tak sedikit pekerja seni, seperti event organizer, vendor dekorasi, make up artist, MC, pemain musik, dan fotografer harus rehat sejenak dari pekerjaannya.
Kami berbincang dengan salah seorang pelaku usaha yang mengalami dampak dari pandemi, Joehan Ardhiansyah. Ia adalah pemilik dari @joephotographie, penyedia jasa foto dan videografi yang berbasis di Surabaya. Melayani berbagai event, seperti wedding/prewedding, sweet seventeen, engagement, wisuda, hingga corporate event, masa pandemi menghadirkan tantangan tersendiri baginya.
“Pada 3-4 bulan pertama pandemi, berbagai event harus di-reschedule hingga waktu yang belum diketahui. Klien tentunya khawatir untuk mengadakan kegiatan dengan banyak hadirin. Sebagian dari mereka ada yang tetap mengadakan pernikahan secara sederhana, ada pula yang menunggu hingga kondisi pandemi relatif lebih kondusif,” kenang Joe. 

Telah satu dekade melayani kebutuhan berbagai event di dalam dan luar Surabaya, tentu hantaman gelombang pandemi menjadi disrupsi yang tak terduga baginya. Tidak berpasrah di hadapan pandemi, @joephotographie sempat mengikuti trend virtual photoshoot di awal-awal masa PSBB di Surabaya. “Sebagai penyalur hobi saja, karena job banyak yang ditunda,” tutur Joe. Kegiatan seperti ini, sangat baik menjaga brand tetap hidup selama pandemi sehingga tetap menjadi top-of-mind bagi customer. Tak sia-sia, beberapa bulan setelah pandemi merebak di Indonesia, @joephotographie pun mulai kembali menerima beberapa permintaan.
Namun, sebuah bisnis tidak bisa tidak melakukan penyesuaian setelah pandemi. “Tentu ada penyesuaian paket harga karena kebutuhan jumlah fotografer dan videografer disesuaikan dengan bentuk acara.” Selain menegaskan profesionalisme @joephotographie dalam berkarya, hal ini juga memberi peace of mind di benak customer, yang tentunya mengadakan event di tengah pandemi dengan segala kehati-hatian.
“Seluruh kru @joephotographie wajib mengikuti protokol kesehatan. Setiap event atau photoshoot di luar kota maupun setelah kembali, ditegaskan untuk melakukan cek Covid-19 Antigen,” pungkas Joehan. Kini dengan menghadirkan Paket Pemotretan New Normal, bisnis kembali menggeliat bagi @joephotographie, dan juga bagi para pelaku industri perhotelan, pariwisata, dan event organizer lainnya.

Mereka yang Pivot
Pergeseran behavior lain yang terjadi adalah pola berbelanja, yang dulunya berdasarkan keinginan, kini berdasarkan kebutuhan primer untuk bertahan hidup. Bayangkan betapa mudahnya dulu bagi kita untuk membeli tas ataupun sepatu fancy karena memang kita ingin barang-barang mewah tersebut melengkapi gaya kita saat bepergian. Namun dengan berada dalam fase pandemi ini, banyak orang akan jauh lebih berfokus akan kebutuhan sehari-hari, terlebih ketika harus dikurung di rumah dalam rangka kampanye #stayathome; pembelian hanya berputar pada bahan makanan, vitamin, alat-alat kesehatan dan produk pencegahan penyakit, serta kebutuhan sehari-hari.
Demikian pula dalam hal konsumsi pangan; dalam rangka mengurangi frekuensi makan bersama di luar rumah, customer kini banyak yang memasak sendiri di rumah dan menyimpan stok frozen food dalam jumlah besar di dapurnya agar tak perlu sering-sering berbelanja ke luar. Di bulan Maret hingga Agustus tahun lalu, kebiasaan masyarakat untuk mengolah masakan sendiri di rumah mengalami kenaikan pesat. Generasi boomer hingga generasi alpha pun kini mulai akrab menggunakan berbagai aplikasi online untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan mereka. Behavior ini terlihat sudah menjadi habit hingga kini, di Q1 2021. Kami berbincang dengan Roy Surya Wahana, salah satu pelaku bisnis yang sukses melakukan pivot—bergerak di bidang industri lain sebelum pandemi—ia kini banting setir ke bisnis frozen food online bernama Fresh Factory. Berbagai strategi dan taktik ia luncurkan untuk memastikan bisnis barunya dapat survive di tengah pertempuran pasar new normal.
 

Business online yang pertama dibuat itu Freezy Fresh; di sana kami cuma jualan online untuk belajar gimana painful-nya ketika buka usaha online, tapi ternyata sekarang sudah bisa berkembang cukup baik dan Freezy Fresh sudah bermitra bersama Rezeki Grocery Store,” ujar Roy. “Ke depannya, Freezy Fresh akan dikembangkan sebagai platform digital bersama Rezeki untuk menunjang kebutuhan grocery secara hyperlocal.”
Setelah berhasil menyerap ilmu dari bisnisnya yang pertama, ia segera meluncurkan brand kedua, yaitu Fresh Factory.
“Fresh Factory adalah bisnis yang dibangun karena melihat kebutuhan online seller (khususnya OS yang berjualan produk frozen). Mereka mempunyai kebutuhan akan permodalan awal, seperti tempat, freezer, chiller, manpower, dan lain-lain. Belum lagi, umumnya mereka pelaku UMKM yang tidak memiliki sistem inventory yang memadai,” tutur Roy. Dengan itikad menggandeng para pelaku UMKM untuk maju bersama, Roy dan timnya merancangkan sistem  untuk mengecek inventory, produk terjual, produk mana yang paling laku, dan lain-lain, dalam layanan Fresh Factory. UMKM di bidang frozen food pun dapat dengan mudah melajukan bisnisnya dengan tata kelola yang profesional.
“Kedua, di Fresh Factory, kami juga memberikan kemudahan untuk operating system, agar mereka bisa mendekatkan produknya ke customer dan memberikan ongkir yang murah dan juga kesempatan membuka target pasar yang baru; karena mereka bisa membuka cabang-cabang baru di berbagai kota, dimana terdapat gudang cabang Fresh Factory.” Para pelaku UMKM ini dapat merambah dan memperluas daya jangkaunya, tanpa harus melakukan investasi awal.
Roy meyakini skema bisnisnya dapat meraih sustainability di pasar new normal saat ini. “Kami melihat niche market di sini, dan masih belum banyak persaingan di bidang cold chain fulfilment. Kami juga senang dapat memberikan benefit kepada para online seller untuk bisa berkembang lebih cepat dan mengembangkan pasar lebih luas,” lanjut Roy. Fresh Factory menyadari, tantangan akan silih berganti di dunia bisnis saat ini. “Pemain full enabler seperti kami akan semakin menjamur, maka kami bekerja agar after sales service Fresh Factory lebih tanggap dan selalu siap memberikan layanan berkualitas,” ujarnya. Menurut Roy, untuk dapat survive & sustain di ranah bisnis pascapandemi, meningkatkan layanan ke customer dan loyalitas para partner adalah keharusan. “Kami juga selalu berupaya mempermudah sistem agar nilai tambah kepada tenant kami juga semakin meningkat dan menciptakan stickiness dalam bentuk long term partnership,” tambah Roy. Dalam visinya, Fresh Factory akan merentangkan sayap, mengembangkan bisnisnya sampai ke logistic delivery, dan bukan hanya perusahaan yang mengelola warehouse management system.

Tahun 2021 adalah momen untuk kembali menggeliatkan bisnis dan karier kita, baik kita berada di bidang yang terdampak secara langsung maupun tidak. Industri yang menawarkan pemenuhan kebutuhan primer tentunya mengalami keuntungan. Kebutuhan untuk hidup sehat pun memantik berbagai kesempatan lahan usaha baru.
Contoh sederhananya saja, di industri sepeda. Di awal pandemi, tren sepeda melanda seluruh kalangan masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia. Pilihan bersepeda juga menjadi opsi untuk bisa bertemu dengan teman-teman lainnya, dengan anggapan bahwa bersepeda memungkinkan penggunanya untuk tidak berdekatan satu sama lain serta meningkatkan imunitas tubuh. Permintaan sepeda pun meroket di berbagai aplikasi penjualan online.
Berbagai contoh dari para praktisi di atas dapat menjadi bahan refleksi awal tahun kita. Sudah siapkah kita beradaptasi atau bahkan melakukan pivot? Tahun 2021 hadir dengan segala kesempatan dan tantangannya, mari kita raih yang terbaik!

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190