Mencermati Godaan Cryptocurrency

Mencermati Godaan Cryptocurrency

06 Jul 2021 15:46

Memang masih terjadi perdebatan, tapi jenis instrumen investasi yang satu ini memiliki masa depan yang baik.
 

Dunia investasi semakin hari semakin menarik untuk diikuti, terutama sejak munculnya cryptocurrency pada tahun 2009 yang diawali oleh lahirnya bitcoin. Crypto menjadi aset yang penuh misteri karena dapat membuahkan imbal hasil yang signifikan, tidak hanya di tahun yang penuh ketidakpastian ini, tetapi juga di tahun 2017 saat bitcoin mencapai level tertingginya di USD19,650/BTC sebelum kemudian runtuh ke level USD3,183 di akhir 2018.
 
Apa itu cryptocurrency?
Pertanyaan yang paling mendasar adalah, barang apa, sih, ini? Cryptocurrency atau virtual currency berbeda dengan digital currency. Digital currency atau mata uang digital merupakan mata uang biasa yang didigitalisasikan, misalnya rupiah yang didigitalisasi menjadi E–money atau saldo di rekening LinkAja. Sementara cryptocurrency, menurut Investopedia.com adalah mata uang yang memiliki keamanan dengan menggunakan kriptografi sehingga akan sangat sulit untuk bisa dipalsukan atau digandakan.
Mayoritas cryptocurrency menggunakan jaringan terdesentralisasi dengan teknologi blockchain. Blockchain sendiri merupakan buku besar (ledger) yang terdistribusikan oleh jaringan komputer yang berbeda-beda. Yang membuat cryptocurrency sangat menarik dan unik adalah mata uang tersebut tidak dikeluarkan oleh pemerintahan, bank sentral, dan/atau otoritas lainnya sehingga membuat cryptocurrency ini kebal terhadap campur tangan maupun manipulasi pemerintah.
Saat ini ada lebih dari 2.000 jenis cryptocurrency yang beredar dengan kapitalisasi pasar sebesar USD1,5 triliun per 16 Februari 2021. Dari jenisnya, bitcoin mendominasi pasar dengan market cap sebesar 60.99%, diikuti dengan Ethereum (13.79%), Tether (2.15%), Polkadot (1.86%), dan Cardano (1.85%). Hal lain yang unik dari cryptocurrency, terutama dengan jenis bitcoin adalah cara mendapatkannya yang sangat mirip dengan emas dimana kita harus menambang dahulu untuk bisa mendapatkannya, atau beli dari yang sudah digali.
Bitcoin pun seperti itu, namun cara penggaliannya berbeda dimana untuk melakukan penggalian bitcoin seseorang harus paham ilmu kriptografi dan pemrograman komputer atau dapat membelinya melalui bursa. Berbeda dengan mata uang biasa dimana jumlah atau persediaan bisa dinaikkan atau diturunkan oleh bank sentral. Sedangkan untuk crypto, terutama bitcoin hanya ada 21 juta koin, dan sudah ada 18.5 juta yang berhasil didapatkan dan diperjualbelikan di bursa sehingga tersisa hanya 2,5 juta yang belum ditemukan.
Bitcoin secara spesifik dibangun pada tahun 2009 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto dengan cita–cita membangun Peer to Peer Electronic Cash System dengan menggunakan desentralisasi system. Dalam arti lain tidak ada administrator tunggal, melainkan menggunakan buku besar (ledger) publik yang dapat disimpan oleh siapa saja di komputernya masing–masing.
 
Kenapa diperjualbelikan?
Hal paling mendasar kenapa bitcoin dapat diperjualbelikan karena teknologi yang ditawarkan oleh crypto dan juga teknologi blockchain itu sendiri yang memiliki potensi untuk mengganggu industri keuangan ke depannya. Hal lainnya adalah karena terbatasnya jumlah crypto, terutama bitcoin sehingga teori dasar ekonomi pun berjalan dengan sendirinya, dimana persediaan yang terbatas dengan permintaan meningkat, maka harganya akan naik.
Secara mendasar, sangat sulit untuk dapat memprediksi pergerakan harga bitcoin karena tidak memiliki underlying atau tidak ada data yang mendasari harga bitcoin tersebut sehingga dapat diasumsikan bahwa pergerakannya hanya dipicu oleh supply and demand (teori dasar ekonomi). Chart di bawah merupakan indeks Bloomberg bitcoin index dengan pergerakan harga emas. Dengan melihat chart tersebut dapat disimpulkan bitcoin menjadi kelas aset yang dicari saat kekhawatiran ataupun banyak ketidakpastian dari sisi ekonomi dan politik yang berpotensi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Apakah bitcoin kemudian dapat dikategorikan sebagai safe haven asset karena pergerakannya menyerupai emas? Tentunya belum demikian karena meski teknologinya sangat menjanjikan di masa depan dan dapat men-disrupsi industri keuangan, namun ada hal–hal yang menjadi kritikan untuk kelas aset crypto tersebut.

Kelemahan dari cryptocurrency
Karena cryptocurrency ini berbentuk virtual dan tidak ada wujudnya seperti mata uang IDR ataupun USD, maka pemilik crypto harus sangat berhati–hati dengan hard drive komputernya. Jika hard drive nya terbakar, hilang, atau dicuri, maka cryptocurrency mereka pun akan hilang. Beda ceritanya jika membeli emas batangan, dimana emas tersebut dapat kita simpan di safe deposit box atau tempat lainnya yang aman.
Karena harga bitcoin hanya dipengaruhi oleh supply and demand dan kepastian dari kelangkaannya, maka spread dan pergerakan harganya pun bisa sangat volatile dan sulit untuk diprediksi. Sebagai contoh, bitcoin sempat mencapai USD19,000 di Desember 2017 dan rontok menjadi USD7,000 di bulan berikutnya. Ekonom menilai bahwa peningkatan pada cryptocurrency hanya sesaat atau speculative bubble. Bitcoin pun tidak memiliki dasar seperti halnya saham yang didasari oleh kinerja dari perusahaan tersebut.
Secara kesimpulan, cryptocurrency atau bitcoin memiliki masa depan yang cukup baik, ditopang oleh teknologi blockchain yang dapat memotong ongkos transfer antarbank dan mempermudah transaksi keuangan antarindividu tanpa tambahan biaya (wire transfer). Meski demikian, masih banyak perdebatan antara pelaku pasar dan juga ekonom mengenai crypto sebagai aset investasi yang layak. Namun karena jumlahnya yang sangat terbatas dan banyak masyarakat yang menginginkannya, maka harganya pun terkerek naik meski masa depan dari cryptocurrencies tersebut masih abu–abu.
 
Alternatif Aset Berisiko
Untuk kelas aset yang memiliki risiko setinggi bitcoin tentunya banyak di pasaran. Namun alangkah baiknya jika berinvestasi ke kelas aset yang memiliki underlying atau dasar terhadap pergerakan harganya sehingga investor yang membelinya dapat mengukur risikonya (calculated risk) dan tetap bisa mendapatkan return yang optimal.
Salah satu produk yang memiliki manageable risk adalah reksa dana saham. Produk tersebut dikelola oleh manajer investasi yang tentunya sudah melakukan perhitungan terhadap risiko dan juga potensi keuntungan ke depannya sehingga risikonya pun tetap terkalkulasi dan tidak berlebihan.
 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190