Blue Chips Monthly Market Watch April 2021

Blue Chips Monthly Market Watch April 2021

20 Apr 2021 11:16

 
 

Key Takeaways:
  • Sentimen dari perkembangan vaksin di AS memicu perbaikan ekonomi yang lebih cepat dari ekspektasi awal, memicu peningkatan pada indeks saham S&P500 dan Dow Jones Industrial Average di bulan Maret kemarin.
  • Obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali mengalami peningkatan, naik 33 bps sepanjang bulan Maret kemarin, memicu pelemahan pada instrumen obligasi pemerintah Indonesia berbasis USD (ROI).
  • Pelaku pasar mengantisipasi pemulihan ekonomi di negara–negara maju (Developed Market / DM), terefleksi pada indeks Vanguard Developed Market Equity yang menguat +2.29% di bulan Maret 2021 dan sudah naik +4.02% sejak awal tahun 2021 (YTD).
  • Tersangkutnya kapal Ever Given milik perusahaan pelayaran Shoei Kisen di kanal Suez (Mesir) sempat mengkhawatirkan investor karena kanal tersebut berkontribusi sekitar 12% dari total perdagangan dunia per harinya.  Selama enam hari memblokir kanal Suez, di estimasi perdagangan dunia merugi sekitar USD 9.7 miliar.
  • Lembaga pemeringkat global, Fitch rating mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
  • Pemerintah Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 1Q21 berada dikisaran -1% hingga -0.1%, lebih baik dibandingkan 4Q20 yang berada di level -2.19%.
March Macro Perspective
Global Perspective
Progres dari vaksinasi dan kekhawatiran inflasi masih menjadi sentimen yang positif sekaligus mengkhawatirkan investor. Terefleksi pada pergerakan yield UST 10 tahun yang kembali naik di sepanjang bulan Maret kemarin sebesar 33 bps dan sudah naik 83 bps sejak awal tahun 2021 atau secara Year to Date (YTD).
Bulan Maret 2021 merupakan bulan yang penuh keemas an di AS karena mayoritas dana ekonomi menunjukan adanya pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari ekspektasi. Terefleksi pada data PMI manufaktur Maret yang berada di level 59.1 vs konsensus 59 dan data pekerja di sektor manufaktur naik ke level 59.6 dibandingkan di bulan sebelumnya di level 54.4 dan konsensus di level 53. Data nonfarm payroll di bulan Maret pun juga bertambah 916,000 vs konsensus 647,000 dan bulan sebelumnya yang hanya 468,000.
Disamping data ekonomi yang lebih baik di bulan Maret yang lalu, sentimen positif pun diwarnai oleh rencana presiden Joe Biden yang akan menggelontorkan dana sebesar USD 2.25 triliun untuk belanja infrastruktur (infrastructure spending). Biden menyebutkan rencananya sebagai “American Jobs Plan” merupakan program yang akan berjalan selama delapan tahun meliputi USD 620 miliar untuk transportasi dan USD 650 miliar untuk inisiatif terkait air bersih dan high–speed broadband. Rencana Biden pun juga akan mengalokasikan USD 580 miliar untuk sektor manufaktur – yang akan meliputi USD 180 miliar untuk program penelitian sektor non–pertahanan terbesar dan USD 400 miliar untuk perawatan masyarakat lanjut usia dan difabel. Pendanaan dari pengeluaran infrastruktur tersebut akan dibiayai oleh pajak korporasi yang akan dinaikan oleh Presiden Biden dari 21% menjadi 28% dimana yang akan permanen, sedangkan spending hanya temporary.
Data ekonomi dari Eropa pada bulan Maret pun juga membukukan hasil yang cukup memuaskan, dimana data PMI Manufaktur berada di level 62.4 vs konsensus 57.7, PMI jasa (services) di Maret juga membukukan hasil yang lebih baik dari konsensus (48.8 vs konsensus 46). Sebagai tambahan, pertumbuhan ekonomi di Eropa terkontraksi 4.9%, lebih baik dari konsensus yang memprediksi terkontraksi hingga 5%. Meski demikian, data pengangguran di Eropa tercatat lebih buruk dari ekspektasi pasar (8.3% vs konsensus 8.1%).
Perekonomian Tiongkok terus mengalami perbaikan di awal tahun 2021 ini, terefleksi pada data PMI Manufaktur yang berada di level 51.9 disaat pelaku pasar memprediksi di level 51.
Sentimen dari pemulihan ekonomi pun terlihat makin jelas jika memperhatikan angka vaksinasi per hari dengan jumlah kasus positif Covid–19 per hari di AS dimana keduanya memiliki korelasi yang negatif, peningkatan jumlah vaksinasi diiringi oleh penurunan jumlah kasus positif per harinya.
 
Figure 1
 
Tambahan dana infrastuktur, ditambah dengan perbaikan dari sisi pandemi dimana jumlah kasus positif Covid-19 cenderung menurun dan semakin banyak masyarakat yang divaksinasi meningkatkan optimisme pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari ekspektasi awal. Awal dari pemulihan yang juga terlihat pada data ekonomi AS pada bulan Maret yang mayoritas lebih baik dari ekspektasi dan sinyal the The Fed mengkonfirmasi iklim suku bunga rendah hingga 2023, meningkatkan confidence investor bahwa perekonomian bergerak kearah yang baik.
Domestic Perspective
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun -4.11% di bulan Maret yang lalu namun secara Year to date (YTD) masih positif 0.11%. Sebaliknya untuk pasar obligasi pemerintah cenderung mengalami tekanan di bulan Maret maupun secara YTD. Bloomberg Indonesia Sovereign Bond Index atau yang biasa disebut dengan indeks BINDO turun -0.19% di bulan Maret dan terkontraksi -2.38% pada 1Q21. Tekanan yang terjadi pada saham dan obligasi Indonesia didorong oleh peningkatan tingkat imbal hasil UST 10 tahun yang disebabkan oleh peningkatan pada ekspektasi inflasi dimasa depan.
Data perekonomian Indonesia masih cenderung lambat dibandingkan dengan perekonomian di negara maju. Terefleksi pada data inflasi di bulan Maret yang lebih rendah dari konsensus (1.37% YoY vs 1.40% YoY) sedangkan data inflasi inti berada di level 1.21% secara YoY vs konsensus 1.44% YoY. Disisi lain, cadangan devisa (Cadev) Indonesia mengalami penurunan di bulan Maret kemarin dari posisi tertingginya di Februari sebesar USD 138.8 miliar menjadi USD 137.1 miliar di bulan Maret. Cadev tersebut cukup untuk impor 10.1 bulan atau 9.7 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah. Meski turun dari bulan sebelumnya, nilai tersebut masih sangat sehat dimana level kesehatan cadangan devisa internasional sebesar 3 bulan impor.
Neraca perdagangan Indonesia di bulan Februari dibukukan surplus USD 2.01 miliar vs konsensus USD 2.21 miliar (vs USD 1.96 miliar di Jan-’21). Ekspor mengalami peningkatan 8.56% secara YoY di bulan Februari 2021 didorong oleh peningkatan harga komoditas secara global, namun secara volume cenderung menurun. Secara bulanan (MoM), ekspor terkontaksi -0.19% (vs -7.48% MoM di Jan-’21). Penurunan secara bulanan dipicu oleh turunnya permintaan dari Tiongkok yang merupakan destinasi utama untuk ekspor Indonesia, namun hal tersebut disebabkan oleh faktor musiman, libur tahun baru Cina. Impor pada periode yang sama juga mengalami surplus sebesar USD 13.26 miliar atau tumbuh 14.86% secara YoY, terkontraksi -0.49% secara MoM (vs -6.49% YoY; -7.59% MoM di Jan-’21). Peningkatan impor dipicu oleh naiknya hampir seluruh barang impor dari barang konsumsi, bahan mentah dan capital goods yang masing–masing mengalami peningkatan sebesar 43.59% YoY, 11.53% YoY dan 17.68% YoY.
Perkembangan dari vaksinasi Covid-19 di Indonesia memberikan harapan yang cukup baik untuk outlook perekonomian Indonesia kedepannya, dimana rata–rata orang yang sudah di vaksin minimal satu kali mencapai 324,966 orang per harinya, naik 309.7% dari rata–rata per hari di bulan Februari. Dari jumlah kasus positif pun mengalami penurunan 37.60% pada rerata per hari di bulan Maret dibandingkan bulan Februari, hal yang sama juga dialami oleh jumlah kematian dari Covid-19 yang mengalami penurunan sebesar -31.29%. Figure 2 merupakan data dari ourworldindata.org per 8 April 2021 dimana garis biru merupakan jumlah kasus baru per hari, merah kematian per hari dan hijau jumlah vaksinasi per hari.
 
Figure 2
 
Dengan membaiknya penanganan Covid-19 ditambah dengan peningkatan pada impor memberikan indikasi adanya pemulihan dari sisi permintaan (peningkatan belanja masyarakat), sehingga diharapkan ekonomi Indonesia pada 2Q21 dapat membukukan pertumbuhan yang baik dan memulai pemulihan secara bertahap.
 
Bond Market March Commentary & Outlook
Pasar obligasi pemerintah secara global mengalami tekanan, dimana indeks iShares JP Morga USD Emerging Market Bond ETF sebagai proxy untuk obligasi pemerintah di negara berkembang turun    -1.57%, hal yang sama juga terjadi pada indeks FTSE World Government Bond (ex. EM) yang turun sebesar -2.07% di bulan Maret. Penurunan yang terjadi secara merata dipicu oleh naiknya US Treasury 10 tahun sebesar 34 bps. Indeks Bloomberg Indonesia Sovereign Bond (BINDO) ditutup melemah -0.19% di bulan Maret yang lalu, sehingga membukukan penurunan -2.38% pada 1Q21 yang lalu. Hal yang sama dialami oleh Indeks Bloomberg Indonesia Sovereign Bond (BEMSID) yang mengalami penurunan -0.31% di bulan Maret dan terkontraksi -4.23% di kuartal satu 2021 kemarin. Spread antara UST10 tahun dengan obligasi pemerintah Indonesia USD 10 tahun (ROI10 tahun) berada diposisi terendahnya dalam lima tahun terakhir. Terlihat pada figure 3 dimana pergerakan yield UST 10 tahun cenderung naik namun ROI 10 tahun justru sedikit turun di bulan Maret (-31 bps). Figure 3 memberikan dua probabilitas, yang pertama adalah potensi peningkatan yield pada ROI10 tahun dan/atau penurunan yield UST10 tahun, sehingga spread antara keduanya dapat kembali ke nilai rata–ratanya.
Dari sisi obligasi pemerintah berbasis rupiah (FR) masih cenderung menarik meski volatilitasnya masih cukup tinggi dan didorong oleh perbaikan ekonomi yang lebih cepat di DM, sehingga memicu investor asing untuk mencari kelas aset yang memiliki potensi yang sama namun risiko yang lebih kecil dan sentimen positif untuk FR masih sangat baik. Berbeda dengan ROI, spread antara FR10Y dengan UST10Y masih berada di rata–rata lima tahunnya, di level 5% (vs rerata lima tahun di 5.23%) sehingga posisi yieldnya masih tergolong sehat. Sentimen positif lainnya untuk FR adalah, adanya potensi penurunan jumlah target penerbitan obligasi di tahun 2021 ini karena adanya kelebihan dari pembiayaan di 2020 yang mencapai IDR 100 triliun yang dapat mengurangi taget penerbitan obligasi pada tahun ini.
 
Figure 3
 
Dengan sentimen pemulihan ekonomi yang sangat kuat, dan Jerome Powell pun memberikan indikasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari ekspektasi awal, sehingga investor pun akan cenderung berinvestasi ke instrumen yang memiliki eksposur ke bisnis yang menunjang pemulihan ekonomi tersebut. Untuk FR masih cenderung menarik, ditambah dengan inflasi yang cenderung rendah membuat real yield masih lebih menarik dibanding negara Emerging Market (EM) lainnya. Namun disaat pemulihan ekonomi di DM masih berlangsung, pergerakan FR akan volatile atau cenderung sideways secara jangka pendek.
 # Ditulis oleh Asset Allocation & Research Bank Mandiri     Source: Mandiri Sekuritas, Office of Chief Economics Bank Mandiri, various news outlet                                                                                                                                                                                                                              
Mutual Funds  

Market Heat Map



 
Economic Calendar

Disclaimer

Dokumen ini hanya untuk informasi semata dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk melakukan pembelian pada produk reksa dana dan obligasi dimaksud. Analisa yang ada pada dokumen ini telah diperoleh dari sumber yang diyakini terpercaya. TIDAK ADA JAMINAN yang diberikan dalam hal kelengkapan dan ketepatan data. Dilarang menggandakan dokumen ini tanpa adanya permohonan tertulis kepada Bank Mandiri.
Reksadana dan obligasi/bonds bukan merupakan produk Perbankan dan Reksadana maupun Obligasi tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk selaku Agen Penjual terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan setiap penawaran produk dilakukan oleh petugas yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Berinvestasi dalam instrumen finansial mengandung risiko yang tinggi, anda dapat kehilangan sebagian ataupun seluruh uang yang anda investasikan. Performa produk pada masa lalu, tidak dapat merefleksikan performa dimasa depan, oleh karena itu, investasi layaknya dilakukan dengan berhati-hati, terutama dalam pemilihan instrumen investasi. Pelajari investasi anda dan konsultasikan kepada penasihat investasi profesional sebelum berinvestasi. Investor harus menaggung segala risiko atas keputusan, dan langkah yang diambil dalam berinvestasi.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: [email protected]

 
About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190