Blue Chips Monthly Market Watch March 2021

Blue Chips Monthly Market Watch March 2021

26 Mar 2021 11:18

     

 
Key Takeaways:
  • Setelah mengalami tekanan di bulan Januari, pasar saham Indonesia ditutup menguat pada bulan Februari lalu.
  • US Treasury 10 tahun mengalami tekanan yang cukup dari sisi harga dalam pada bulan Februari setelah meningkatnya kekhawatiran dari peningkatan inflasi kedepannya, sehingga investor demanding yield yang lebih tinggi.
  • Saham Amerika Serikat (AS) dan Asia sempat mengalami volatilitas yang cukup tinggi di akhir bulan Februari setelah mayoritas investor melakukan profit taking setelah peningkatan yang cukup signifikan.
  • Distribusi vaksin kembali menjadi sorotan sepanjang bulan Februari lalu dan diharapkan dapat memulihkan ekonomi lebih cepat dari ekspektasi analis dan ekonom.
  • Meski ditutup menguat di bulan Februari, pasar saham cenderung tertekan menjelang akhir bulan Februari disaat yield UST 10 tahun mengalami peningkatan secara signifikan yang dipicu oleh peningkatan pada ekspektasi inflasi.
 
 

February Macro Perspective
Global Perspective
Mayoritas pasar saham global ditutup menguat di bulan Februari lalu setelah mengalami tekanan di bulan Januari dipicu oleh perilaku profit taking investor dan juga ketidakpastian dari stimulus fiskal yang diajukan oleh Presiden Joe Biden, yang sebesar USD 1.9 triliun. Meski demikian, House of Representative atau DPR AS telah menyetujui tambahan stimulus fiskal ketiga tersebut dengan hasil voting 219 – 209 dan selanjutnya akan dilakukan pemilihan di level Senat. Partai Demokrat mendorong untuk bisa meluncurkan stimulus tersebut sebelum 14 Maret 2021, saat dana tambahan untuk unemployment benefit sebesar USD 300 akan memasuki masa tenggatnya. Pada tanggal 6 Maret 2021, Senat AS sepakat untuk meloloskan stimulus jumbo yang diajukan oleh presiden Biden dengan hasil voting 50 – 49 dengan mayoritas Demokrat yang memilih “yes”. Di bulan Februari pun, lapangan pekerjaan AS terlihat meningkat dimana data nonfarm payroll di bulan tersebut tumbuh 379,000 vs ekspektasi yang hanya di 182,000 dan lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 166,000. Peningkatan tersebut pun didukung oleh optimism yang ada pada data ISM Purchasing Manager Index untuk sektor manufaktur yang berada di level 60.8 dan sektor jasa di level 55.3 di bulan Februari lalu.
Optimisme pada sektor manufaktur pun terlihat di mayoritas negara Eropa pada bulan Februari yang lalu. Meski demikian dari sisi permintaan atau demand side cenderung masih terkontraksi dimana penjualan ritel di Jerman terkontraksi sebesar -4.5% dan secara Eurozone turun -6.4%. Inflasi inti di Eurozone pun lebih rendah dari ekspektasi maupun periode sebelumnya yang hanya 1.1% YoY vs ekspektasi dan bulan sebelumnya di 1.4%. Dari sisi kebijakan moneter, European Central Bank atau ECB tidak merubah kebijakannya dimana bank sentral tersebut tetap menjalankan pembelian obligasi pemerintah sebesar EUR 1.85 triliun sebagai tamabahan dari yang sudah berjalan sebesar EUR 20 miliar per bulan.
 

Figure 1 - Europe Manufacturing PMI

Asia dan emerging market (EM) tidak se–optimis AS dan juga Eropa, dari sisi sektor manufaktur, India, Korea Selatan, Australia dan Taiwan terlihat membaik di bulan Februari yang lalu dan negara lainnya di Asia belum recover secara sepenuhnya di bulan lalu.
 

Figure 2 - APAC Manufacturing PMI

Asia dan emerging market (EM) tidak se–optimis AS dan juga Eropa, dari sisi sektor manufaktur, India, Korea Selatan, Australia dan Taiwan terlihat membaik di bulan Februari yang lalu dan negara lainnya di Asia belum recover secara sepenuhnya di bulan lalu.
Bulan Februari pun terlihat kelas aset ekuitas di EM menjadi pilihan investor, terefleksi pada indeks iShares MSCI Emerging Market Equity yang menguat +3.99% per Februari 2021 dan Developed Market (DM) hanya membukukan +1.69% pada periode yang sama. Kelas aset obligasi mengalami tekanan untuk kedua pasar (EM dan DM) seiring dengan peningkatan yield UST Treasury setelah meningkatnya kekhawatiran inflasi dimasa depan oleh investor, analis dan pelaku pasar. Dengan indeks volatilitas (VIX Index) berada di level 27 poin, maka wajar jika investor cenderung melakukan risk on dan mencari kelas aset yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
 

Figure 3

Bulan Februari pun terlihat kelas aset ekuitas di EM menjadi pilihan investor, terefleksi pada indeks iShares MSCI Emerging Market yang membukukan imbal hasil lebih tinggi dari proxy untuk DM yang menggunakan Vanguard FTSE Developed Market ETF sebagai acuan. Confidence tersebut dipicu oleh jumlah masyarakat AS yang sudah di vaksin mencapai 87,9 juta orang dengan rasio total vaksin terhadap jumlah kasus sebesar 303.64%. Total orang yang sudah di vaksin didunia telah mencapai 300 juta jiwa atau rasio total vaksinasi terhadap total kasus 257.67%. Sebagai tambahan, jumlah rata–rata kematian Covid–19 per harinya pun mengalami penurunan, dari yang sebelumnya mencapai 15,000, sejak Februari 2021 turun menjadi 10,000 jiwa.
Dengan demikian, harapan dari pemulihan ekonomi yang lebih cepat pun meningkat, ditambah dengan stimulus tambahan dari AS sebesar USD 1.9 triliun yang akan membanjiri perekonomian.

Domestic Perspective
Pasar modal Indonesia ditutup variatif di bulan Februari yang lalu, dimana Bloomberg Indonesia Sovereign Bond Index (BINDO) turun -1.48% di bulan Februari, namun IHSG menguat +6.47% setelah di bulan sebelumnya tertekan -1.95%. Sentimen global mewarnai pergerakan pasar di bulan Februari kemarin dimana terjadi peningkatan US Treasury yield, dan ketidakpastian dari stimulus tambahan AS. Rupiah terdepresiasi sebesar 1.46% di bulan Februari setelah sempat menguat di Januari.
Inflasi Indonesia di bulan Februari yang lalu kembali melambat di level 1.38% secara YoY vs. konsensus 1.40% YoY dan inflasi inti (Core inflation) sedikit diatas ekpektasi, sebesar 1.53% YoY vs 1.52% YoY. Perlambatan tersebut telah diantisipasi oleh Bank Indonesia (BI) pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) pada tanggal 18 Februari, dimana suku bunga acuan, 7–day reverse repo rate (7DRRR) diturunkan 25 bps ke level terendahnya sepanjang sejarah, sebesar 3.50% dari 3.75%. Tidak hanya suku bunga acuan, BI juga memotong lending facility menjadi 4.25% dan deposit facility ke level 2.75%. Gubernur BI, Perry Warjiyo pun menyatakan bahwa ruang untuk bank sentral memotong suku bunga lagi sudah terbatas, namun BI masih memiliki amunisi moneter lainnya yang bisa dimanfaatkan. Dari sisi perekonomian, BI melakukan adjustment pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dari range 4.8% - 5.8% diturunkan menjadi 4.3% - 5.3% di tahun 2021. Untuk inflasi dan current account deficit (CAD) dipertahankan dikisaran 2% - 4% untuk inflasi 2021 dan 1% - 2% untuk CAD pada tahun ini. Sebagai salah satu inisiatif untuk menopang perekonomian pada tahu ini, BI melakukan relaksasi loan to value untuk pembelian properti dan pembelian mobil baru per 1 Maret dan memberikan pandangan bahwa Rupiah masih undervalued sehingga diekspektasikan akan menguat.
Cadangan devisa atau FX Reserves Indonesia di bulan Februari kemarin mencatatkan level tertingginya sepanjang sejarah, naik USD 0.8 miliar menjadi USD 138.8 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan impor selama 10.5 bulan atau 10 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah, dimana standar kecukupan internasional hanya tiga bulan impor.
Penanganan pandemi covid–19 di Indonesia mulai terlihat lebih terkendali sejak dilakukannya vaksinanasi yang dilakukan oleh pemerintah sejak bulan Januari yang lalu. Mengkutip data dari ourworldindata.org dimana per tanggal 6 Maret sudah ada 3,528,152 masyarakat Indonesia yang sudah di vaksinasi dengan rate per harinya mencapai 363,003 orang dimana rata–rata jumlah kasus positif pun mengalami penurunan dimana rata–rata di awal bulan Februari mencapai 11,360 sedangkan di awal bulan Maret turun menjadi 6,534.
Confidence nasabah tercermin pada peningkatan IHSG yang menguat pada bulan Februari yang lalu, dan diawal Maret ini market cenderung variatif karena faktor kekhawatiran peningkatan inflasi dalam jangka pendek, sehingga pasar modal Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Dengan demikian, membaiknya pengendalian pandemi ditambah dengan peningkatan dana Pemulihan Ekonomi Nasional tahun 2021 yang ditambahkan menjadi IDR 688 triliun dari yang sebelumnya IDR 627.9 triliun, sewajarnya economic recovery di Indonesia bisa bergerak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar pada tahun ini.

Bond Market February Commentary & Outlook
Pasar obligasi Indonesia ditutup melemah untuk dua bulan berturut–turut. Hal tersebut terefleksi pada kinerja dari BINDO yang melemah -1.48% di bulan Februari 2021 dan yield FR 10 tahun naik 40 bps sepanjang bulan Februari lalu. Seluruh tenor cenderung melemah, hanya tenor satu tahun yang menguat, dimana yieldnya turun 18 bps.
 

 
Tekanan tersebut dipicu oleh peningkatan obligasi pemerintah AS, US Treasury (UST). Yield dari UST 10 tahun naik 34 bps di bulan Februari 2021 dan sudah naik 50 bps sejak akhir tahun 2020 yang lalu.  Peningkatan dari UST 10 tahun dipicu pada kekhawatiran inflasi yang dapat melambung, hal tersebut didorong oleh stimulus tambahan yang diluncurkan oleh Joe Biden sebesar USD 1.9 triliun dan efektifitas vaksin yang dapat mengembalikan perekonomian ke pre–pandemic level. Tingginya ekspektasi inflasi di AS tercermin pada data US 5–year breakeven inflation rate yang mengukur ekpektasi inflasi dalam lima tahun kedepan secara rata–rata.

Dengan tingginya ekspektasi inflasi kedepan sehingga menurunkan potensi real yield dari UST 10 tahun itu sendiri, dengan demikian ada kekhawatiran peningkatan suku bunga acuan yang lebih cepat dari ekspektasi pelaku pasar. Meski demikian, gubernur the Fed, Jerome Powell pada press conference nya di awal Maret dan kesaksiannya di depan kongres pada bulan Februari yang lalu mengatakan bahwa perekonomian AS masih jauh hingga full employment dan meyakinkan market terkait iklim suku bunga rendah akan berlangsung hingga 2023 dan masih akan melanjutkan quantitative easingnya, namun pelaku pasar mengkhawatirkan taper tantrum 2012/2013 terjadi kembali.
Peningkatan yield tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun mayoritas obligasi pemerintah di berbagai negara.
 

Secara sentimen domesik masih sangat memadai, kebijakan front–loading­ yang dilakukan oleh pemerintah masih sesuai rencana, dimana ada rencana untuk menurunkan gross issuance obligasi dengan menggunakan kelebihan pembiayaan di tahun 2020, sebagai tambahan rata–rata volume perdagangan di pasar sekunder melanjutkan peningkatannya. Penurunan dari pasar obligasi Indonesia dipicu oleh dana asing yang mengalami outflows meski masih ditopang oleh bank konvensional dan Bank Indonesia dan juga peningkatan oleh US Treasury. Sebagai kesimpulan, potensi dari obligasi pemerintah Indonesia berbasis IDR akan mengalami gejolak secara jangka pendek, namun potensi masih menjanjikan hingga akhir tahun dimana target yield obligasi pemerintah 10 tahun dikisaran 6% - 5.5%.

Mutual Funds  

 
Market Heat Map

Economic Calendar


 

Disclaimer

Dokumen ini hanya untuk informasi semata dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk melakukan pembelian pada produk reksa dana dan obligasi dimaksud. Analisa yang ada pada dokumen ini telah diperoleh dari sumber yang diyakini terpercaya. TIDAK ADA JAMINAN yang diberikan dalam hal kelengkapan dan ketepatan data. Dilarang menggandakan dokumen ini tanpa adanya permohonan tertulis kepada Bank Mandiri.
Reksadana dan obligasi/bonds bukan merupakan produk Perbankan dan Reksadana maupun Obligasi tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk selaku Agen Penjual terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan setiap penawaran produk dilakukan oleh petugas yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Berinvestasi dalam instrumen finansial mengandung risiko yang tinggi, anda dapat kehilangan sebagian ataupun seluruh uang yang anda investasikan. Performa produk pada masa lalu, tidak dapat merefleksikan performa dimasa depan, oleh karena itu, investasi layaknya dilakukan dengan berhati-hati, terutama dalam pemilihan instrumen investasi. Pelajari investasi anda dan konsultasikan kepada penasihat investasi profesional sebelum berinvestasi. Investor harus menaggung segala risiko atas keputusan, dan langkah yang diambil dalam berinvestasi.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: [email protected]
 
About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190