Blue Chips Monthly Market Watch February 2021

Blue Chips Monthly Market Watch February 2021

11 Feb 2021 11:03

          
Key Takeaways:
  • Diawali oleh peningkatan market yang signifikan di awal Januari meski kongres menolak proposal stimulus fiskal yang diajukan oleh Joe Biden yang sebesar IDR 1.9 triliun di akhir bulan Desember lalu.
  • Kasus short–squeezed yang terjadi pada saham Gamestop, AMC, Blockbuster dan beberapa saham lainnya meningkatkan volatilitas dan kredibilitas pasar saham AS dan sempat meningktkan tensi antara wall street dan main street (retail) traders.
  • Sentimen pembangunan pabrik batre untuk mobil listrik mengerek saham–saham mining meningkat secara signifikan di pasar saham Indonesia, sentimen dari Sovereign Wealth Fund pun sempat menjadi driver untuk sektor infrastruktur.
  • Kekhawatiran dari peningkatan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi di AS membuat investor mencari safe haven untuk sesaat dan menekan mayoritas pasar saham dan juga obligasi di emerging market.
  • Ekpektasi dari data perekonomian menjadi perhatian di bulan Januari, namun Tiongkok membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 6.5%, lebih tinggi dari ekspektasi di 6.1%. Hal tersebut meningkatkan optimisme bahwa perekonomian Asia berpotensi akan pulih lebih dulu dibandingkan Eropa dan Amerika.
January Macro Perspective
 
Global Perspective
Asia, terutama Tiongkok terlihat mulai mendominasi economic recovery di tengah pandemi, terlihat dari ekonomi Tiongkok yang tumbuh 6.5% dimana ekspektasi analis hanya 6.1%. Didukung dengan data ekonomi dari sisi persediaan dan permintaan yang juga mengalami peningkatan, terefleksi pada data produksi industri yang meningkat 7.3% secara YoY di bulan Desember, dan data Caixin Manufacturing PMI di periode yang sama berada di level 53 yang mengindikasikan ekspansi pada sektor manufaktur. Dari sisi permintaan, data penjualan ritel tumbuh 4.6% di bulan Desember, sedikit di bawah ekspektasi yang berada di level 5.5%, namun inflasi Tiongkok secara YoY berada di level 0.2%, lebih tinggi dari ekspektasi (0.1%).

Dari Amerika Serikat (AS), negosiasi untuk peluncuran stimulus baru masih menjadi perdebatan, dimana Joe Biden dan partai Demokrat mengajukan proposal untuk tambahan stimulus sebesar USD1.9 Triliun, namun 10 orang dari partai Republik mengajukan untuk menguranginya menjadi USD618 miliar. Meski demikian, gedung putih tidak memberikan indikasi untuk menurunkan nilai awalnya, sebesar USD1.9 Triliun. Salah satu program yang akan dikedepankan dari proposal stimulus fiskal dari Biden adalah manfaat USD1,400 untuk masyarakatnya.

Jobs data AS sempat mengalami penurunan kembali di awal Januari dan data nonfarm payrolls yang menghitung pertumbuhan jumlah daftar gaji, hanya tumbuh 49,000 vs ekpektasi pelaku pasar di 50,000. Meski demikian, jumlah masyarakat yang mendaftar untuk mendapatkan unemployment benefit lebih rendah dari ekspektasi market, dimana di akhir bulan Januari hanya tumbuh 779,000 jiwa vs ekspektasi 830,000 jiwa, namun nilai tersebut masih jauh lebih tinggi dari rata–ratanya sebelum terjadinya pandemi Covid–19 yang berada di kisaran ±200,000 jiwa. Sama halnya dengan data continuing jobless claims yang mengukur jumlah masyarakat yang melanjutkan tunjangan pengangguran di akhir bulan Januari sebesar 4,59 juta, meski lebih rendah dari ekpektasi (4,7 juta), nilai tersebut pun masih lebih tinggi dari pre–covid level yang hanya di kisaran 1,6 jutaan jiwa.

Perekonomian AS tekontraksi -2.50% pada 3Q20 dan diprediksi masih akan tertekan -2.4% pada 4Q20 secara YoY dan di forecast terkontaksi -3.5% secara full year 2020. Data 4Q20 akan dirilis pada tanggal 25 Februari 2020 mendatang. Dari sisi permintaan, inflasi AS di bulan Desember yang lalu terjaga di level 1.4% dan inflasi Januari diprediksi berada di level 1.5%. Penjualan ritel di Desember tumbuh di bawah rata-rata (5%an) di level 2.90%. Meski demikian, dari sisi persediaan dan manufaktur terlihat mulai meningkat dimana data ISM Manufacturing PMI berada di level 58.7 pada bulan Januari lalu. Dari sektor jasa yang direfleksikan oleh US Services PMI berada di level 58.3, mengindikasikan adanya pemulihan di sektor jasa. Kebijakan moneter yang longgar masih dipertahankan oleh The Fed, dimana suku bunga acuan ditetapkan di level 0% - 0.25% dan akan melanjutkan quantitative easing (pembelian aset) sebesar USD120 miliar per bulannya dalam bentuk pembelian obligasi pemerintah. Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangung pada tanggal 27 Januari 2020, Jerome Powell pun menyatakan bahwa perekonomian AS masih jauh dari full employment dan target inflasinya sehingga the Fed akan melakukan “wait and see” untuk mengambil keputusan selanjutnya.

Sebagai kesimpulan, kebijakan dari sisi moneter dan fiskal akan lebih fokus untuk menopang perekonomian ke depannya.


Domestic Perspective
Secara resmi, perekonomian Indonesia sepanjang 2020 mengalami kontraksi sebesar -2.07%, terkontraksi -2.19% secara YoY di 4Q20. Nilai perekonomian YoY dibukukan lebih baik dari prediksi konsensus sebesar -2.30% YoY. Secara tahunan, perekonomian Indonesia mengalami kontraksi terburuknya sejak krisis keuangan Asia di 1998/1999 (-13.13% di 1998) di saat pandemi Covid-19 menghambat pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan dan persediaan. Dari komponen ekonomi Indonesia, mayoritas mengalami perbaikan meski masih terkontraksi. Konsumsi rumah tangga masih terkontraksi -3.61% namun lebih baik dari 3Q20 sebesar -4.05%. Perbaikan tersebut didorong oleh faktor musiman akhir tahun. Dari sisi investasi mengalami kontraksi sebesar -6.15% vs -6.48% secara YoY di 3Q20 dipicu oleh ketidakpastian dari bisnis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19, terutama dari sektor infrastruktur yang secara berlanjut menunda aktivitas investasinya. Meski demikian, secara QoQ investasi 4Q202 tumbuh 4.19%, melambat dibandingkan 3Q2020 yang tumbuh 8.45%. Ekspor dan impor masing-masing mengalami kontraksi sebesar -7.21% YoY dan -13.52% YoY, namun lebih baik dibandingkan 3Q20 dimana ekspor terkontraksi -11.66% dan impor turun -23%. Di sisi lain, belanja pemerintah tumbuh 1.76% seiring dengan pencairan stimulus ekonomi untuk memitigasi dampak dari Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Cadangan devisa (Cadev) Indonesia di bulan Januari 2021 mencapai USD138 miliar dari posisi di bulan sebelumnya yang hanya USD135.9 miliar. Cadev di bulan Januari 2021 merupakan level tertinggi dalam sejarah, nilai tersebut setara dengan 10.5 bulan impor atau 10 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah. Peningkatan dari cadev dipicu oleh penerbitan obligasi pemerintah berdenominasi USD (global bonds) sebesar USD3 miliar dan satu seri berdenominasi EUR sebesar EUR1 miliar (USD1.23 miliar) dan pendapatan pajak.

Dari sisi konsumsi, indeks harga konsumen Indonesia pada bulan Januari 2021 berada di level 1.55% secara YoY atau 0.26% MoM. Inflasi Januari didorong oleh peningkatan harga pangan di tengah musim hujan. Hal yang menghambat nilai inflasi lebih tinggi adalah dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena peningkatan jumlah kasus Covid-19. Peningkatan inflasi tertinggi masih terlihat dari perawatan pribadi dan lainnya, diikuti oleh makanan, minuman, rokok, dan biaya kesehatan dimana masing-masing naik 5.55% YoY, 2.81% YoY dan 2.55% YoY (vs. 5.80% YoY, 3.63% YoY dan 2.79% YoY di Desember 2020). Dari 11 kategori penguatalan, terdapat dua pos yang mengalami deflasi tahunan, yaitu pos informasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami penurunan -0.35% YoY (vs. -0.35% YoY di Desember 2020) dan pengeluaran transportasi yang turun -0.26% YoY (vs. -0.85% YoY di Desember 2020).

Secara garis besar, perekonomian masih sejalan dengan ekpektasi market dimana pertumbuhan perekonomiannya secara bertahap mengalami peningkatan, didorong dengan inisiatif pemerintah untuk membentuk Sovereign Wealth Fund untuk meningkatkan investasi dalam negeri dan pemberlakuan Omnibus Law yang diharapkan dapat berjalan pada 2H21 mendatang. Tentunya dengan demikian, perekonomian Indonesia tidak hanya dapat ditopang dari sisi permintaan (konsumer) tetapi juga peningkatan investasi.
 
    
 
 
Bond Market March Commentary & Outlook
 
Pasar obligasi Indonesia ditutup tertekan pada perdagangan bulan Januari yang lalu dimana Bloomberg Indonesian Sovereign Bond Index turun -1.95% dan yield obligasi pemerintah 10 tahun naik 32 bps sepanjang bulan Januari, dibuka pada level 5.886% dan ditutup di level 6.207%. Januari 2021 resmi tidak terjadi faktor musiman dimana pasar obligasi kecenderungan menguat. Meski demikian, ada beberapa faktor yang menekan pergerakan obligasi pemerintah di awal 2021 ini. Di antaranya adalah jumlah penerbitan yang lebih besar dari tahun sebelumnya. Total issuance di bulan Januari 2021 naik 105.45% dengan incoming bid yang -18.69% lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya sehingga hukum ekonomi paling dasar pun bergerak, dimana persediaan lebih besar dari permintaan, maka harga akan cenderung turun. Faktor lain yang menjadi perhatian investor obligasi adalah jumlah investor asing yang lebih sedikit dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Total kontribusi asing pada obligasi pemerintah Indonesia di Januari 2021 hanya 11.09 triliun, sedangkan pada periode yang sama di 2020 mencapai 29.40 triliun.

Meski demikian, potensi dari obligasi pemerintah Indonesia masih terlihat cukup menjanjikan meski potensi upsidenya tidak sefantastis di tahun 2019 dan 2020. Salah satu katalis yang menjadi faktor pendukung adalah nilai yield yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah Indonesia yang cenderung masih menarik dibandingkan dengan negara emerging market lainnya ditambah dengan peringkat kredit Indonesia yang masih stabil di level BBB oleh ketiga lembaga pemeringkat global. Sebagai tambahan, jumlah obligasi pemerintah di developed market yang menawarkan imbal hasil negatif sudah mencapai level tertingginya, hal tersebut mengindikasikan betapa besarnya likuiditas yang dikucurkan dari sisi moneter oleh bank sentral dari berbagai dunia. Likuiditas yang ample diharapkan dapat mengguyur kelas aset obligasi di emerging market yang menawarkan tingkat real yield yang menarik.

Untuk global bonds cenderung berbeda karena yield UST 10Yr cenderung naik dipicu oleh likuiditas yang besar dan perilaku investor yang cenderung risk on sehingga kelas aset safe haven pun ditinggal. Spread antara ROI 10Yr dengan UST 10Yr pun sudah berada di satu standar deviasi. Sedangkan, persepsi risiko Indonesia yang direfleksikan oleh credit default swap atau CDS lima tahun yang sempat melonjak ke level 257 di bulan April 2020, saat ini sudah ternormalisasi di level 77.348 saat penutupan Januari sehingga mengindikasikan risiko Indonesia sudah kembali normal. Minimnya sentimen positif terhadap instrumen ROI dan UST ditambah dengan kedua sentimen yang sudah disampaikan, ROI dengan tenor yang pendek hingga menengah dapat dipertimbangkan untuk sarana investasi pada global bond dengan membatasi downside yang berpotensi muncul di kemudian hari.
 
     
Ditulis oleh Asset Allocation & Research Source: Bloomberg, Mandiri Sekuritas & various news outlet
 
Mutual Funds   
 
Market Heat Map

 

 


 
Economic Calendar
 

Disclaimer

Dokumen ini hanya untuk informasi semata dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk melakukan pembelian pada produk reksa dana dan obligasi dimaksud. Analisa yang ada pada dokumen ini telah diperoleh dari sumber yang diyakini terpercaya. TIDAK ADA JAMINAN yang diberikan dalam hal kelengkapan dan ketepatan data. Dilarang menggandakan dokumen ini tanpa adanya permohonan tertulis kepada Bank Mandiri. Reksadana dan obligasi/bonds bukan merupakan produk Perbankan dan Reksadana maupun Obligasi tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk selaku Agen Penjual terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan setiap penawaran produk dilakukan oleh petugas yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Berinvestasi dalam instrumen finansial mengandung risiko yang tinggi, anda dapat kehilangan sebagian ataupun seluruh uang yang anda investasikan. Performa produk pada masa lalu, tidak dapat merefleksikan performa dimasa depan, oleh karena itu, investasi layaknya dilakukan dengan berhati-hati, terutama dalam pemilihan instrumen investasi. Pelajari investasi anda dan konsultasikan kepada penasihat investasi profesional sebelum berinvestasi. Investor harus menaggung segala risiko atas keputusan, dan langkah yang diambil dalam berinvestasi. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: [email protected]
About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190