BLUE CHIPS MONTHLY MARKET WATCH JANUARY 2021

BLUE CHIPS MONTHLY MARKET WATCH JANUARY 2021

15 Jan 2021 13:41


Key Takeaways:
  • Rollout vaksin menjadi highlight di bulan Desember yang lalu dan sentimen risk on pun mulai terlihat.
  • Mayoritas emerging market currency menguat terhadap USD di bulan Desember 2020 dengan rata-rata penguatan 1.70% (mata uang mengacu ke grafik di atas).
  • Pasar saham pun menikmati peningkatan yang cukup signifikan menjelang akhir tahun dengan rata-rata peningkatan di 4.59% (indeks mengacu ke grafik diatas).
  • Varian baru Covid-19 menjadi kekhawatiran akan diberlakukannya lockdown kembali di beberapa negara Eropa dan juga Inggris.
  • Stimulus fiskal kedua dari Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen positif menjelang tutup tahun 2020 dimana kongres menyetujui paket sebesar USD900 miliar untuk menopang perekonomian AS.
  • Kelas aset rupiah menguat sepanjang bulan Desember lalu, IHSG naik +6.53%, Indeks Bloomberg Indonesia Bond Index (BINDO) menguat 1.81% dan rupiah menguat 0.50% terhadap USD.
  • Secara tahunan, IHSG ditutup di teritori negatif, turun -5.09%, namun penurunan tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan posisinya di bulan Maret/April 2020. BINDO menguat 14.54% dan rupiah terdepresiasi 1.33% terhadap USD di tahun 2020 yang lalu.
 
December Macro Perspective
Di bulan Desember, investor cenderung khawatir terkait Covid varian baru dari Inggris yang memicu pemberlakuan lockdown kembali dan berpotensi menghambat economic recovery di beberapa negara Eropa. Meski demikian, mayoritas indeks saham maupun mata uang emerging market (EM) cenderung menguat, angin segar berembus saat kongres AS memutuskan untuk menyetujui paket stimulus kedua sebesar USD900 miliar. Stimulus tersebut akan memberikan benefit USD600 per orang untuk orang dewasa dan anak-anak sehingga keluarga dengan dua anak akan menerima USD2,400 sampai batas pendapatan/gaji tertentu.
Nonfarm payrolls AS di bulan Desember kembali mengalami kontraksi sebesar -140,000 setelah konsisten mengalami pertumbuhan pada periode Mei hingga November 2020. Meski demikian, data pengangguran Desember di AS membukukan hasil yang lebih baik dari ekspektasi (6.7% vs est. 6.8%) sedangkan data initial jobless claims juga dibukukan lebih baik dari ekspektasi di minggu terakhir bulan Desember yang lalu, sebesar 787,000 vs ekspektasi di level 833,000 dan sama halnya dengan continuing jobless claims yang berada di level 5,219,000 vs forecast di level 5,390,000. Dari sisi production, data manufaktur PMI AS meningkat ke level 56.5 di bulan Desember, lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya di level 55.7 namun dari sisi jasa yang diwakilkan dengan data Services PMI mengalami sedikit penurunan dibandingkan ekspektasinya di 55.3 vs est. 55.9.
Di bulan Desember pun merupakan bulan yang amat penting di AS karena perhitungan electoral vote pemilihan presiden yang berlangsung pada bulan November dan Joe Biden secara resmi memenangkan electoral vote tersebut namun Presiden Trump tetap menentang hasilnya dan mengajukan banding dan memerintahkan beberapa negara bagian untuk melakukan perhitungan kembali. Meski demikian, wakil presiden Mike Pence telah mengumumkan kemenangan Joe Biden pada tanggal 7 Januari 2021 di depan Senat dan House of Representative.
Dari Asia, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, Tiongkok mengalami perbaikan dari sisi permintaan, dimana inflasi Desember berada pada level 0.2% YoY vs ekspektasi yang hanya 0.1% YoY. Dari sisi pengangguran cenderung stabil di level 5.2% dan penjualan ritel di bulan November sedikit lebih rendah dari ekspektasi, tumbuh 5% YoY vs ekspektasi di level 5.2% YoY, namun masih lebih baik dari bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 4.3% YoY. Kemudian dari sisi production cenderung sedikit lagging, terefleksi dari data Manufacturing PMI di bulan Desember yang cenderung lebih rendah dari bulan sebelumnya di level 51.9 vs data November di 52.1. Sama halnya dengan data Caixin Manufacturing PMI yang lebih rendah di bulan Desember (53.0) dibandingkan bulan sebelumnya (November: 54.9). Meski demikian, data PMI tersebut masih berada diatas level 50 sehingga masih merefleksikan optimisme dari sisi economic production.
Secara keseluruhan, IMF memprediksi perekonomian dunia di 2021 akan tumbuh 5.2%, sedangkan di AS diprediksi berada pada level 3.1% Uni Eropa di 5.2% dan Tiongkok di level 8.2%. Dari sisi inflasi cenderung flat atau kembali ke level pre-covid dimana ekspektasi inflasi di AS 2%, Uni Eropa 0.9% dan Tiongkok 1.6%. Vaksin roll-out, efektifitas dan juga jumlah masyarakat yang mendapatkan vaksin di berbagai negara masih akan menjadi highlight. Kebijakan yang akan diambil oleh Biden’s administration pun juga akan menjadi sorotan investor.
 
 
Domestic Perspective
Pasar modal Indonesia cenderung bergejolak lebih tinggi dibandingkan dengan negara asia lainnya di tahun 2020. IHSG ditutup melemah -5.09% di tahun 2020 yang lalu, namun di Desember membukukan return sebesar +6.53% dan di November membukukan peningkatan tertingginya sepanjang 2020, sebesar +9.44% dan IHSG pun ditutup di level 5979.07 dan rupiah pun terdepresiasi 1.33% di 2020, ditutup di level 14,050. Tekanan global cenderung berkurang menjelang akhir tahun 2020 dan sentimen positif pun mewarnai pergerakan pasar saham EM. Rollout vaksin menjadi highlight investor di bulan Desember lalu dimana pemerintah Indonesia telah memesan sekitar 371 juta dosis vaksin untuk mengatasi pandemi Covid-19.
Inflasi Indonesia di bulan Desember mengalami peningkatan yang cukup sehat, berada di level 1.68% secara YoY vs ekspektasi di 1.61% YoY, namun inflasi inti cenderung lebih rendah dari ekspektasi, hanya 1.60% vs 1.70%. Inflasi inti yang lebih rendah mengindikasikan bahwa masyarakat masih belum melakukan pembelian atau belanja di tengah pandemi. Hal tersebut juga direfleksikan oleh data penjualan ritel di periode yang sama, turun -20.7% secara YoY. Meski demikian, data consumer  confidence cenderung lebih baik dari bulan sebelumnya, di bulan Desember data tersebut berada di level 96.5 vs bulan sebelumnya di 92. Dari sisi permintaan kredit pun, kredit konsumer menjadi salah satu yang mengalami penurunan terburuk di 2020.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan yang berada di level 3.75%. Cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan di bulan Desember menjadi USD 135.90 miliar dimana bulan sebelumnya hanya USD133.60 miliar. Posisi di bulan Desember tersebut setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Dari sisi neraca perdagangan di bulan November cukup terjaga, surplus USD 2.62 miliar dengan ekspor mengalami peningkatan +9.54% sedangkan impor masih terkontraksi -17.46%. Ekspor yang meningkat ditopang oleh pergerakan harga komoditas yang juga meningkat di akhir tahun, dimana ekspor batu bara di bulan November 2020 tumbuh 15.2% secara MoM atau menjadi 37 juta ton. Peningkatan yang cukup tinggi pada harga komoditas terutama batu bara sejalan dengan naiknya dari permintaan.
Menjelang akhir tahun 2020 pemerintah dengan tegas mengimbau masyarakat untuk tidak keluar kota demi memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 dengan memperketat mobilitas masyarakat melalui mewajibkan masyarakat yang melakukan travelling untuk menyertakan hasil swab test. Pada awal Januari saat kasus positif per hari mencapai 10,617 pada tanggal 8 Januari, pemerintah pun memutuskan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Namun pemberlakuan tersebut tidak terlalu memengaruhi pergerakan IHSG pada tanggal 11 Januari yang menugat 2%.
Perekonomian Indonesia diprediksi akan tumbuh 6.1% oleh IMF di tahun 2021 dan Bank Dunia serta OECD masing-masing memprediksi 4.4% dan 4% untuk periode yang sama. Sedangkan inflasi diharapkan berada di level yang sesuai dengan target pemerintah maupun Bank Indonesia, yaitu 3±1% di tahun 2021, dan konsensus Bloomberg memprediksi inflasi Indonesia berada di level 2.3% untuk tahun 2021 ini.
 


Bond Market December Commentary & Outlook 
Pasar obligasi Indonesia kembali ditutup menguat pada tahun 2020 yang lalu, Indeks Bloomberg Indonesia Sovereign Bond (BINDO) menguat +14.54%. BINDO telah mengungguli IHSG tiga tahun berturut–turut. Peningkatan tertinggi BINDO terjadi di bulan Oktober, menguat +7.24% dan di bulan Desember ditutup naik +1.81%. Penguatan yang terjadi di pasar obligasi Indonesia dipicu dari penurunan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate (7DRRR), dimana Bank Indonesia (BI) telah menurunkannya ke level terendah sepanjang masa ke level 3,75% dari 5% saat baru memasuki tahun 2020. Hal tersebut setelah the Fed juga menurunkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate 150 bps ke range 0-0.25%.
Sepanjang 2020 FR dengan tenor pendek cenderung menguat lebih signifikan dibandingkan dengan tenor panjang. Chart di bawah menggambarkan pergerakan FR yield curve yang cenderung steepening dan memperlebar spread antara short tenor dengan long tenor. Penurunan yield pada tenor pendek dipicu oleh kepemilikan bank konvensional yang terus meningkat ditengah pandemi Covid-19.
 

 
Kepemilikan bank konvensional secara perlahan meningkat di April dan terus meningkat, kemudian mencapai level tertinggi di IDR1,153 triliun pada bulan November 2020. Peningkatan kepemilikan tersebut dipicu oleh penurunan loan growth namun Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat secara signifikan di masa pandemi.
 

 
Di sisi lain, investor asing justru membukukan outflow yang cukup besar saat pandemi terjadi di bulan Maret, kepemilikan asing turun -16.01% atau outflow IDR174.85 triliun dan saat tutup tahun, asing belum kembali keposisinya pre-covid dan baru membukukan inflow sebesar IDR60.48 triliun dari level terendahnya pada bulan Maret 2020.
Ada empat poin yang menjadi acuan all time low, (1) 7DRRR di 3.75%, (2) LPS rate di 4.5%, (3) inflasi di level 1.67%, (4) dan FR 10 tahun sempat menyentuh 5.86%, masih 81 bps lebih tinggi dari level terendahnya di 9 Februari 2012. Meski demikian, masih ada potensi yang baik pada obligasi pemerintah Indonesia di 2021, antara lain jumlah obligasi negara di dunia yang menawarkan negative yield mencapai all time high di USD18 triliun, ditambah konfirmasi dari the Fed yang telah memaparkan bahwa iklim suku bunga rendah akan berlangsung hingga 2023 sehingga risiko peningkatan suku bunga dalam jangka pendek cenderung minim. Secara keseluruhan, imbal hasil efektif yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah Indonesia masih cenderung lebih tinggi dibandingkan negara-negara EM lainnya. Dari sisi risiko, peningkatan jumlah kasus Covid-19 yang sulit dibendung dan lambatnya distribusi vaksin. Jika terjadi, keduanya berpotensi dapat menghambat economic recovery di dunia.
 
Mutual Funds  
 
Market HeatMap
 
Economic Calendar
 
 

 

Disclaimer

IMPORTANT DISCLAIMER: Dokumen ini hanya untuk informasi semata dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk melakukan pembelian pada produk reksa dana dan obligasi dimaksud. Analisa yang ada pada dokumen ini telah diperoleh dari sumber yang diyakini terpercaya. TIDAK ADA JAMINAN yang diberikan dalam hal kelengkapan dan ketepatan data. Dilarang menggandakan dokumen ini tanpa adanya permohonan tertulis kepada Bank Mandiri.
Reksadana dan obligasi/bonds bukan merupakan produk Perbankan dan Reksadana maupun Obligasi tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk selaku Agen Penjual terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan setiap penawaran produk dilakukan oleh petugas yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Berinvestasi dalam instrumen finansial mengandung risiko yang tinggi, anda dapat kehilangan sebagian ataupun seluruh uang yang anda investasikan. Performa produk pada masa lalu, tidak dapat merefleksikan performa dimasa depan, oleh karena itu, investasi layaknya dilakukan dengan berhati-hati, terutama dalam pemilihan instrumen investasi. Pelajari investasi anda dan konsultasikan kepada penasihat investasi profesional sebelum berinvestasi. Investor harus menaggung segala risiko atas keputusan, dan langkah yang diambil dalam berinvestasi.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: [email protected]
About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190