ECONOMIC OUTLOOK 2020 #OPTIMISM

ECONOMIC OUTLOOK 2020 #OPTIMISM

30 Aug 2020 23:45

Pada awal Desember 2019, Bank Mandiri mengadakan acara Market Outlook 2020 dengan tema #optimism dimana Wakil Menteri Keuangan Bapak Suahasil Nazara menjadi keynote speaker. Tema yang diangkat menjadi pusat perhatian dimana Pemerintah Indonesia akan membuat beberapa kebijakan untuk dapat mempertahankan pertumbuhan perekonomian Indonesia di tahun 2020 di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global, misalnya Inggris yang belum menemukan solusi untuk keluar dari Eropa (Brexit), kemudian China yang diterpa krisis Hong Kong, reformasi struktural perekonomian, dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Ringkasan dan excerpt yang disampaikan oleh keynote speaker pada acara tersebut termaktub dalam tulisan ini.
 
 
TANTANGAN EKONOMI INDONESIA
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 diproyeksikan berada di level 3% atau turun 0.7 percentage point dari proyeksi sebelumnya. Pertumbuhan volume perdagangan pun diprediksi hanya tumbuh 1.1% di tahun 2019. Perlambatan tersebut tidak hanya terjadi pada negara berkembang dan/atau mitra dagang utama Indonesia, tetapi juga negara maju. Meski demikian, pada tahun 2020 diharapkan perekonomian dan perdagangan global dapat tumbuh lebih baik dari tahun 2019, dimana pertumbuhan ekonomi global tumbuh 3.4% dan perdagangan naik 3.2%. Penurunan dari volume perdagangan dipicu oleh kekhawatiran perang dagang yang masih belum terlihat ujungnya antara AS dan China, sehingga membuat pelaku pasar dan pelaku bisnis melakukan wait and see terhadap kebijakan kesepakatan dagang antara kedua negara tersebut.

Indonesia tentunya terkena dampak dari perang dagang dan ketidakpastian global di tahun 2019. Dari sisi penanaman modal asing cenderung melambat, namun investasi dari sisi pasar finansial terlihat tumbuh, terutama dari sisi Surat Utang Negara (SUN). Di tengah perlambatan ekonomi global, perekononomian Indonesia masih dapat tumbuh 5.02% pada 3Q19, hal tersebut didukung dengan indikator makro ekonomi yang masih cukup baik dimana inflasi masih terjaga di level 3%-an (3.00% per November 2019). Di sisi lain, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 100 bps di tahun 2019 dengan total empat kali penurunan dari 6% menjadi 5% untuk menopang perekonomian Indonesia dan juga merespons aksi penurunan suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve dan beberapa bank sentral di dunia.

Dari sisi kondisi neraca berjalan dan juga cadangan devisa Indonesia cenderung membaik, dimana defisit neraca berjalan (CAD) Indonesia menjadi 2.7% terhadap PDB pada 3Q19. Perbaikan tersebut didukung oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Cadangan devisa pun berada di posisi yang baik dan di atas kecukupan internasional serta menutupi 7.1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Hal lain yang dapat menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal Indonesia ke depan adalah perbaikan dari sisi daya saing dan juga penguatan sumber pembiayaan yang lebih sustainable, salah satu contohnya adalah penanaman modal asing yang terus diupayakan.

Adapun beberapa tantangan yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia adalah salah satunya peringkat ease of doing business (EODB) yang dalam dua tahun terakhir cenderung stagnan, meski skor terus membaik. Hal tersebut mengindikasikan bahwa perlunya implementasi reform yang lebih kuat untuk dapat mendorong peringkat EODB lebih baik lagi. Sebagai tambahan, skor Indonesia pada Global Competitiveness Index (GCI) 2019 berada di peringkat 50 dimana jika dibandingkan oleh GCI dunia, Indonesia masih tertinggal dari sisi sumber daya manusia (SDM) yang mencangkup kesehatan, skill atau keterampilan, pasar tenaga kerja, dan inovasi. Hal lain yang menghambat daya saing Indonesia, antara lain institusi, infrastruktur, dan sistem keuangan. Dengan begitu, reformasi ke depan harus
fokus pada hal-hal yang menghambat daya saing tersebut, terutama dari sisi SDM yang selama ini masih menjadi tantangan daya saing Indonesia.
 
 
INSIATIF BARU APBN 2020
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi unsur utama untuk meningkatkan daya saing dan menopang perekonomian Indonesia. Ada tiga fungsi utama kebijakan fiskal dan APBN, yang pertama adalah stabilitas makro ekonomi dengan terkendalinya tingkat defisit dan hutang, pembiayaan yang pruden, mitigasi risiko bencana, pengembangan sumber daya yang terbarukan, dan penguatan fiscal buffer. Kedua adalah alokasi sumber daya, dimana alokasi belanja yang berkualitas, produktif dan yang mendukung pembangunan, serta diprioritaskan pada belanja infrastruktur dan SDM. Yang ketiga, distribusi pendapatan dimana penerimaan dioptimalisasikan, kebijakan perpajakan yang adil, program bantuan sosial yang tepat sasaran, dan penguatan desentralisasi fiskal.

Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan untuk dapat menjaga stabilitas domestik di tengah ketidakpastian global, di antaranya adalah dengan menjaga konsumsi sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatkan daya saing ekonomi dengan menarik FDI (Foreign Direct Investment) dan mendorong ekspor, memperbaiki kualitas SDM dan keterampilan masyarakat, serta melaksanakan reformasi struktural perekonomian.

Pemerintah pun telah membuat inisiatif baru dan program strategis untuk APBN 2020. Tiga di antara insiatif baru tersebut adalah pertama insentif pajak, seperti super deduction untuk kegiatan vokasi dan litbang, mini tax holiday untuk investasi di bawah Rp500 miliar, dan investment allowance untuk industri padat karya. Kemudian ada peningkatan kualitas SDM dan perlindungan sosial melalui KIP kuliah, kartu prakerja, kartu sembako, dan penguatan neraca transaksi berjalan untuk mendukung penurunan defisit transaksi berjalan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Adapun omnibus law menjadi pusat perhatian pelaku pasar dan juga pelaku bisnis. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong perbaikan iklim investasi, mendorong daya saing, UKM, dan ketenagakerjaan. Sebagai tambahan, omnibus law juga termasuk reformasi ketenagakerjaan yang mempertimbangkan 6 aspek, yaitu upah minimum, outsourcing, tenaga kerja asing, pesangon, durasi kerja, dan sanksi. Aspek tersebut terkait dengan peraturan ketenagakerjaan lain, seperti Jaminan Sosial Tenaga Kerja, SJSN, dan lain-lain.
 
Secara keseluruhan, meski ekspektasi dari perekonomian global cenderung melambat di tahun 2020, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat mengeksekusi kebijakankebijakan tersebut untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan adanya insentif pajak dan omnibus law diharapkan dapat mengundang investasi ke Indonesia, tidak hanya melalui investasi portofolio tetapi juga melalui penanaman modal asing (FDI). Pengembangan SDM yang ke depannya dapat meningkatkan keterampilan masyarakat Indonesia dan meningkatkan daya saing serta percepatan pembangunan infrastruktur diharapkan dapat memperlancar flow atau arus perdagangan.

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190