BANGKIT SEKARANG UNTUK  MENGHEBAT KEMUDIAN

BANGKIT SEKARANG UNTUK MENGHEBAT KEMUDIAN

06 Jan 2021 15:23

Tak ada yang bisa mengelak dari dampak pandemi Covid-19. Bukan hanya di sektor kesehatan saja, tapi juga menyeluruh dari sosial, ekonomi, hingga  pariwisata. Dan gawatnya, kita tidak tahu sampai kapan kondisi ini bakal berlangsung. Bahkan Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus sudah memastikan bahwa dampak pandemi ini akan terasa hingga puluhan tahun ke depan!

Sektor ekonomi di berbagai dunia babak belur akibat kebijakan lockdown yang dimaksudkan untuk memutus penularan virus Corona. Termasuk, tentu saja di Indonesia yang menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), pergerakan perekonomian nasionalnya pun terdampak. Dan ketika new normal—di Indonesia disebut ‘adaptasi kebiasaan baru’—diberlakukan, sebagian kalangan mengkhawatirkan gelombang kedua serangan virus Corona akan muncul.

Ekonom senior Muhammad Chatib Basri mengungkapkan bahwa krisis sekarang ini dampaknya lebih parah ketimbang krisis keuangan global yang terjadi di tahun 2008 yang lebih mudah ditangani. Jika pada krisis tahun 2008 kinerja ekspor nasional terganggu, pada krisis kali ini permasalahan yang harus dihadapi adalah kombinasi antara permintaan dan suplai yang terganggu. Hal ini dikarenakan penyebaran virus Covid-19 terjadi di Tiongkok yang berperan besar pada demand produk di dunia. 

"Indonesia terpukul karena ekspor terbesar ke Tiongkok adalah batubara dan kelapa sawit. Jika negara itu tidak bisa melakukan ekspor, maka beberapa perusahaan tidak bisa produksi. Kondisi semakin rumit karena ada pembatasan gerakan manusia melalui lockdown atau PSBB yang tentunya memberikan dampak pada dunia usaha dan mengubah perilaku pasar," tandas mantan Menteri Keuangan RI dalam live streaming Market Update #DiRumahAja bersama Bank Mandiri beberapa waktu lalu.

JERITAN PARA PEBISNIS
Dan, para pelaku bisnis di Tanah Air pun menjerit dihantam pandemi. Diana Kartika Dewi yang menjalankan event organizer (EO) mengaku tidak menyangka bahwa bisnis yang dirintisnya bersama sang suami harus vakum selama pandemi Covid-19. Padahal sebelum pemerintah memberlakukan PSBB, dia mengaku beberapa kontrak proyek event sudah berada di genggamannya. "Satu untuk proyek pemerintah yang harusnya jalan di bulan Maret terpaksa diundur sampai masa yang belum ditentukan,” akunya. “Kemudian ada satu lagi untuk perayaan hari jadi salah satu kota di Jawa Barat, dan juga proyek di bulan Juni sampai persiapan SPK buat proyek di bulan puasa."

Ketika PSBB pertama kali diberlakukan, Diana mencoba untuk tenang. Di masa itu dia coba mengontak klien untuk mengetahui progress proyek yang sudah dijadwalkan. "Beberapa memutuskan diundur dan ada juga yang menunggu keputusan pemerintah. DP (down payment) nyaris di tangan, tapi kita tidak bisa apa-apa karena semua ini berdasarkan keputusan klien," ungkapnya.

Tapi untunglah manusia dikaruniai akal untuk menghadapi masalah dalam hidupnya. Ketika PSBB diperpanjang, Diana mulai berpikir untuk banting setir memulai bisnis baru dengan mencari peluang yang ada. Kebetulan dirinya suka memasak dan punya menu andalan siomay yang sudah diakui kelezatannya oleh teman-temannya. Berbekal rasa percaya diri ia pun menjajakan siomay secara daring, dan langsung booming. Bahkan, ia mengaku penjualan produk frozen food ini bisa diandalkan untuk menjaga dapurnya tetap ngebul. "Pokoknya kami banting setir jualan macam-macam. Mulai dari berinvestasi di usaha ayam goreng yang dikelola teman di Palu, terus jualan daging, sayur, dan akhirnya siomay yang jadi juaranya. Penjualannya di bulan puasa sangat amazing!" ungkapnya.

Bukan bermaksud untuk menjadi pesimistis, Diana mencoba realistis mengatakan bahwa bisnis EO-nya baru akan kick back di tahun 2024. Sembari menunggu masa itu, dia sementara terus menggeluti bisnis kulinernya dan mencoba peruntungan dengan berinvestasi di cryptocurrency. “Saya merasa senang di tengah badai pandemi masih bisa mendayung perahu dengan tenang dan tetap kompak dengan suami,” pungkasnya.
 
 
DANA CADANGAN
Banting setir menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh para  pelaku bisnis sebagai upaya untuk tetap bertahan, dan bahkan bangkit. Analis ekonomi Indra Suruadji menyatakan hal itu justru menjadi penting di masa krisis seperti sekarang ini. "Memang krisis ini berat sekali,” katanya. “Namun, saya yakin siapa pun yang berhasil keluar dan melewatinya bisa jadi lebih besar dan kuat. Banyak perusahaan yang menjadi besar sekarang ini karena telah survive dari krisis-krisis sebelumnya, seperti di tahun 1998 dan 2008.

Belajar dari krisis yang muncul karena pandemi Covid-19, menurut Indra, setiap orang maupun perusahaan harus  memiliki dana cadangan untuk bertahan 6-12 bulan tanpa income. Jadi selain pembelian aset, penting untuk melakukan saving. Hal ini juga disampaikan oleh Wealth Specialist/Advisory Bank Mandiri Diaz Adritya dalam sebuah talkshow daring belum lama ini. Menurutnya, dana darurat sangat penting dalam pengelolaan keuangan untuk mengantisipasi ketika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan seperti pandemi Covid-19 ini. “Dana darurat harus dipersiapkan sedini mungkin, dan simpan dalam tabungan yang berbeda dengan yang digunakan setiap harinya. Atau bisa juga disimpan dalam reksa dana pasar uang yang bisa dengan mudah dicairkan,” kata Diaz.

Sebuah optimisme dinyatakan oleh Indra. Ia memprediksi, setelah pandemi berakhir, beberapa industri yang terdampak seperti traveling justru akan booming. Hal ini dikarenakan ada kebutuhan yang tinggi dari orang-orang yang mulai bosan di rumah saja selama pandemi. "Sekarang saja sudah mulai terasa, meski belum seoptimal sebelum pandemi. Jadi bagi industri yang terdampak, saat ini adalah masanya untuk survive, kemudian selanjutnya fokus mendapatkan profit," katanya.

Indra optimis tahun depan perekonomian global akan berjalan menuju normal. Berdasarkan pengamatannya pada fenomena pasar modal di Amerika Serikat, terlihat sudah ada kegairahan baru. Vaksin sudah dikembangkan, pasar modal sudah kembali bergairah, bahkan saham-saham teknologi seperti Apple sudah menembus harga tertingginya lagi. “Semoga itu semua akan memberikan harapan baru," katanya berharap.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIGITAL
Di balik lintang pukang keberlangsungan bisnis akibat pandemi Covid-19 sekarang ini, tetap ada sektor yang meraup keuntungan. Beberapa industri menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan tidak terpengaruh oleh pandemi. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, ada lima sektor yang masih tegak berdiri dan tumbuh semakin tinggi selama pandemi, yakni industri rokok dan tembakau, industri makanan pokok, industri batubara, industri farmasi dan alat kesehatan, dan industri minyak nabati. 
 

 
Industri makanan pokok diklaim tumbuh dari 7% menjadi 13% per 17 Juni 2020. Yang tidak kalah fantastis, komoditas batubara tercatat tumbuh dari 11% di Juni 2019 menjadi 36% pada Juni 2020. Begitu juga industri minyak nabati yang didominasi minyak sawit berhasil tumbuh 25% pada periode yang sama dibandingkan tahun lalu. Sementara sektor farmasi dan alat kesehatan naik 13% karena kebutuhannya tinggi baik itu domestik maupun global. “Saya memprediksi, kenaikan seluruh sektor ini akan berlanjut dalam tatanan normal baru," ujarnya dalam pernyataan resmi kepada pers.

Sementara itu, dalam virtual conference bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhir Juli lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkankunci bisnis agar bisa bertahan selama pandemi Covid-19. Menurutnya, pelaku usaha mesti mencari jalan keluar agar bisa bertahan, karena belum ada kepastian kapan pandemi akan berakhir. Dan kunci bertahannya adalah digitalisasi. "Pandemi Covid-19 membatasi interaksi, sehingga aktivitas ekonomi benar-benar terpukul. Kegiatan bisnis yang mampu pindah ke online dan digital yang akan mampu survive," ujarnya.

Senada dengan pernyataan Sri Mulyani, Andrew Seow, Regional GM for Southeast Asia and Greater China at Rimini Street juga menegaskan bahwa penggunaan teknologi diperlukan untuk membantu bisnis agar tetap bertahan. Dengan bertahan, bisnis bisa berkontribusi positif terhadap perekonomian. "Memang tantangannya cukup besar, namun dengan teknologi kita bisa sukses dalam memobilisasi bisnis. Dengan teknologi beberapa produk juga lebih sukses di lingkungan Indonesia," ungkapnya.

Andrew memprediksi, tren pertumbuhan e-commerce akan terlus berlanjut pada kuartal ketiga hingga keempat. Hal ini dikarenakan e-commerce menjadi salah satu alternatif untuk berjualan dalam memitigasi kondisi yang ada. 

Prediksi itu diperkuat dengan survei Facebook, Bain & The Company di Indonesia dan empat negara Asia Tenggara lainnya yang menunjukkan peningkatan konsumen baru sebesar 28% yang mencoba aplikasi e-commerce untuk pertama kalinya. Penggunaan ini melonjak dikarenakan adanya pembatasan gerak dan interaksi langsung yang menjadikan platform online sebagai solusi untuk berbelanja.

Sementara itu, berdasarkan WEF Youth Survey 2020 yang diselenggarakan World Economic Forum (WEF) terungkap bahwa pandemi Covid-19 mendorong penggunaan perangkat digital yang berkontribusi lebih dari 50% pembelian di e-commerce. Sebanyak 87% dari 70.000 orang berusia 16-35 tahun yang disurvei menyatakan bahwa mereka meningkatkan penggunaan setidaknya satu alat digital.

Adapun aplikasi digital yang digunakan paling banyak adalah media sosial, pendidikan online, belanja online, dan pertemuan virtual. Sedangkan untuk negara yang paling banyak mengadopsi teknologi digital adalah Singapura dan Indonesia yang diklaim paling banyak berbelanja online. Tentu fenomena digitalisasi ini tak boleh diabaikan. Krisis datang bukanlah untuk disesali, karena di dalam krisis tentu selalu akan ada jalan keluar. Dan hanya orang-orang yang berpikiran maju yang mampu memanfaatkan jalan keluar itu untuk kembali bangkit dan menghebat.
 

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190