BERINVESTASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

BERINVESTASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

06 Jan 2021 11:43

Investasi merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk dapat mencapai tujuan keuangan kita di masa depan. Adapun sebelum berinvestasi, calon investor harus mengetahui profil risiko masing-masing dengan cara menyesuaikan antara tujuan investasi dengan produk investasi tersebut. Sebagai contoh, tujuan investasi adalah untuk persiapan pensiun dalam 20 tahun ke depan sehingga dapat diasumsikan profil risiko dari tujuan investasi tersebut adalah agresif. Semakin lama/panjang tujuan investasi seseorang maka sewajarnya semakin agresif profil risikonya.

SIKLUS INVESTASI
Tujuan investasi menjadi hal yang paling penting dalam berinvestasi karena akan menentukan langkah-langkah selanjutnya guna mencocokkan profil risiko calon investor dengan profil risiko dari produk investasi. Secara umum, untuk calon investor yang memiliki profil risiko konservatif (di bawah satu tahun) dapat berinvestasi pada kelas aset yang memiliki likuiditas tinggi, seperti reksa dana pasar uang atau deposito dan tabungan. Untuk profil moderat (3-5 tahun) dapat dipertimbangkan ke obligasi pemerintah, reksa dana pendapatan tetap dan/atau reksa dana campuran. Sementara untuk profil agresif (>5 tahun) dapat berinvestasi ke pasar saham melalui reksa dana saham. Semakin panjang jangka waktu investasi, semakin agresif profil risiko calon investor, maka semakin tinggi volatilitas dari produk investasi tersebut.

Meski demikian, berinvestasi akan selalu ada siklus— terutama pada kelas aset obligasi. Parameter yang dapat diperhatikan saat berinvestasi pada instrumen obligasi adalah inflasi suatu negara dan tren dari suku bunga acuan. Jika inflasi dan suku bunga cenderung turun, sewajarnya harga obligasi akan menguat. Hal tersebut terefleksi pada obligasi pemerintah di bulan Juli kemarin dimana yield obligasi pemerintah 10 tahun turun 48 bps. Seperti yang diketahui, di saat yield atau imbal hasil obligasi mengalami penurunan maka harga obligasi akan bergerak berlawanan arah dan akan naik. Figure 1 menggambarkan pergerakan dari suku bunga acuan 7-day reverse repo rate (7DRRR), inflasi, dan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun yang cenderung mengalami penurunan. Penurunan dari suku bunga acuan dan juga inflasi tentunya tidak hanya dialami oleh Indonesia namun hampir seluruh negara di dunia yang mayoritas terkena dampak negatif dari pandemi Covid–19.
 


Pada bulan Juli, mayoritas indeks saham global cenderung menguat. Harapan dari vaksin mewarnai pasar modal secara global. Wacana tambahan stimulus yang diajukan oleh partai Demokrat di Amerika Serikat (AS) pun menjadi pendorong pergerakan harga saham. Tiga indeks saham utama AS membukukan kinerja yang cukup signifikan dimana indeks dengan mayoritas saham teknologi, Nasdaq Composite membukukan return +6.83% pada bulan Juli dan sudah menguat +19.76% secara Year to Date (YTD). Sementara itu, Dow Jones dan S&P500 masing-masing menguat +2.38% dan +5.51% di bulan Juli, untuk Dow Jones masih negatif secara YTD (-7.39%) namun S&P500 mulai recover, menguat +1.25% secara YTD. Hal unik yang terjadi di pasar modal AS adalah UST 10 tahun juga mengalami peningkatan dari sisi harga (yield turun). Yield obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun turun 11 bps di bulan Juli lalu dan sudah turun 134 bps sejak awal tahun.

Pasar modal Indonesia berbeda dengan AS, IHSG di bulan Juli menguat +4.98%, namun sejak awal tahun masih jauh di area negatif (-18.25%). Dari pasar obligasi pemerintah Indonesia cukup menggembirakan dimana yield obligasi pemerintah 10 tahun pada Juli turun 48 bps dan sejak awal tahun sudah turun 27 bps. Hasil lelang obligasi pemerintah (sukuk dan konvensional) membuahkan hasil yang cukup baik di bulan Juli. Incoming bid untuk lelang obligasi pemerintah mencapai IDR133.94 triliun dan lelang sukuk mencapai IDR81.81 triliun. Meski cukup baik dari sisi lelang dan juga yield yang cenderung turun, asing belum kembali ke pasar obligasi Indonesia. Hal tersebut terefleksi pada data DJPPR per 3 Agustus, dimana kepemilikan asing hanya IDR916.36 triliun padahal di awal tahun (2 Januari) mencapai IDR1.035 triliun atau mengalami penurunan -11.46%. Untuk kepemilikan bank konvensional dan Bank Indonesia masingmasing mengalami peningkatan +61.87% dan +51.03%. Data tersebut merefleksikan bahwa pasar obligasi ditopang oleh pasar domestik sejak pandemi Covid-19 dan asing masih belum kembali 100% ke pasar obligasi Indonesia.
 

PERHATIAN TERTUJU PADA COVID-19
Perekonomian mengalami tekanan pada kuartal satu dan dua pada tahun ini. Perekonomian Indonesia masih cukup baik pada kuartal satu, dimana membukukan pertumbuhan 2.97% secara YoY, namun pada kuartal kedua akhirnya mengikuti negara-negara lainnya, mengalami kontraksi -5.32%. Penurunan tersebut seiring dengan penurunan ekonomi di Amerika Serikat yang terkontraksi -9.5% YoY, Singapura mengalami penurunan ekonomi sebesar -12.6%, dan zona Eropa yang juga mengalami penurunan terburuk pada ekonominya di kuartal kedua, yakni turun -15% YoY.

Terkontraksinya perekonomian Indonesia di kuartal kedua sudah diekspektasikan dari pelaku pasar maupun pemerintah dan kebijakan untuk dapat menopang menurunnya perekonomian Indonesia pun sudah diambil dari sisi fiskal maupun moneter. Dengan begitu diharapkan ekonomi dapat ternormalisasi pada kuartal ketiga dan keempat dimana ekspektasi pemerintah berada di level -0.4% hingga 1% pada akhir 2020. Aksi penurunan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia di bulan Juli kemarin menjadi salah satu aksi moneter untuk menanggapi angka inflasi Juni yang berada di bawah target (3% ± 1%) dimana inflasi Juni di level 1.96% YoY dan di bulan Juli melanjutkan perlambatannya ke level 1.54% YoY atau deflasi -0.10% secara MoM.

Investor akan mencermati perkembangan dari vaksin Covid-19 yang mayoritas sudah memasuki fase 3 pada clinical trial. Di sisi lain, investor juga memperhatikan pemilihan presiden AS yang akan berlangsung di bulan November dengan dua kandidat tetap yang akan maju adalah petahana Presiden Donald Trump dan mantan Wapres Joe Biden. Dari sisi domestik, investor akan mencermati dampak dari stimulus yang sudah dikucurkan oleh pemerintah maupun bank sentral. Tentunya jumlah kasus Covid-19 dan penanganannya oleh pemerintah akan menjadi pusat perhatian.

 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190