MENCERMATI TREN NFT

MENCERMATI TREN NFT

24 May 2022 13:42

Memasuki tahun 2022, akun Ghozali Everyday seketika “mengguncang” jagad ruang media sosial Indonesia. Bagaimana tidak, akun yang terpampang di platform OpenSea ini viral lantaran meraih nilai hingga 12 miliar rupiah dari koleksi 930 foto selfie yang dijual dalam bentuk NFT (non fungible token). Tak ayal, sang pemilik akun, Sultan Gustaf Al Ghozali (22), sukses menjadi miliarder dengan meraup cuan sekitar 1,5 miliar rupiah—10% dari total nilai jual yang diperoleh—berkat unggahan foto dirinya tersebut. 

Aksi selfie Ghozali—sapaan akrabnya—yang berbuah miliaran rupiah tentu bukan datang dalam sekejapan mata. Ada konsistensi yang ditunjukkan oleh mahasiswa Program Studi Animasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang itu, yakni setiap hari melakukan swafoto dan mengunggahnya di marketplace sejak lima tahun lalu. Deretan foto selfie Ghozali yang mengusung tema time lapse tersebut kemudian dipromosikan oleh komunitas NFT Indonesia, dan… laku terjual seluruhnya. 

 

SEBUAH ASET DIGITAL

Tentu saja Ghozali bukan satu-satunya yang berhasil memanfaatkan NFT untuk mendulang kesuksesan finansial. Sejak kemunculannya pada tahun 2014, NFT sudah digunakan berbagai kalangan, terutama para seniman, untuk mengkonversi karyanya sebagai aset yang bernilai tinggi. Tahun lalu, CEO Twitter Jack Dorsey menjual cuitan pertamanya di Twitter melalui NFT dan laku dengan nilai sekitar 42 miliar rupiah. Boleh dibilang, sejak itulah NFT menjadi booming walaupun kemudian yang didaulat sebagai NFT termahal di dunia bukanlah tweet bersejarah milik Jack Dorsey, melainkan The Merge.

Ya, The Merge, sebuah karya seniman digital Pak, berhasil terjual di angka 1,3 triliun rupiah. Hal ini membuat The Merge menduduki tangga teratas NFT termahal di dunia sepanjang tahun 2021. The Merge disebut-sebut sebagai karya digital yang unik, sedangkan Pak merupakan sosok yang tidak asing lagi di dunia NFT. Banyak karya seni ikonik yang lahir dari tangan Pak dan bernilai jual tinggi sehingga ia dikenal sebagai salah satu penguasa NFT. Dan masih banyak lagi NFT bernilai jual hingga ratusan miliar di luar sana selain Pak.

Bila dibandingkan dengan Pak, Jack Dorsey, atau jawara NFT lainnya, Ghozali mungkin saja dianggap sebagai recehan. Namun tidak dipungkiri bahwa viralnya akun Ghozali Everyday yang mampu menjual foto selfie—yang sebagian orang menilainya biasa-biasa saja—hingga miliaran rupiah seolah membuka mata banyak orang di Tanah Air perihal NFT ini. Apalagi kemudian langkah Ghozali “menular” ke Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang membantu menjual hasil karya para seniman Jawa Barat melalui NFT. Bahkan Ketua MPR Bambang Soesatyo pun “ikut-ikutan” menjajal NFT dengan menawarkan satu video kecelakaan balap dirinya bersama pebalap nasional Sean Gelael di OpenSea, dan ada yang meliriknya dengan membeli seharga 300 juta rupiah. Wow…!

Maraknya transaksi lewat NFT dengan nilai jual seperti tidak masuk akal memantik pertanyaan mendasar bagi banyak orang, khususnya kalangan awam, “apa sebenarnya NFT itu?”, dan bermacam tanda tanya seputar NFT lainnya.
 

 


 

 


Disarikan dari berbagai sumber, definisi NFT adalah aset digital pada jaringan blockchain yang memiliki kode identifikasi serta metadata unik dan berbeda satu sama lain (one of the kind). Selain itu, NFT juga bisa diartikan sebagai aset computerized yang menggambarkan beragam barang berwujud maupun tak berwujud yang memiliki keunikan tertentu.

Secara sederhana, NFT aset digital yang mewakili barang berharga dengan nilai yang tak bisa ditukar atau digantikan, dan hanya dimiliki oleh Anda. Untuk merekam transaksi, sebagian besar NFT NFT diperdagangkan memakai ether (ETH), koin buatan Ethereum. 

 Apa saja yang bisa dijual dalam bentuk NFT? Biasanya berupa karya seni yang cukup beragam rupanya, seperti foto, video pendek, GIF, musik, game, dan lain sebagainya. Atau Anda ingin mengkonversi aset dokumen ke dalam bentuk NFT? Tentu saja bisa. Kok, nilai jualnya luar biasa tinggi? Hal ini sangat bersandar pada subyektivitas, misalnya soal kualitas, kreativitas, serta reputasi dari si pembuat karya.

 

TIDAK SAMA DENGAN CRYPTOCURRENCY 

Banyak yang mengira NFT layaknya aset yang serupa dengan cryptocurrency, padahal tidak sepenuhnya benar. Meski disebut-sebut sebagai “anak keturunan” dari cryptocurrency karena merupakan aset yang dikembangkan dari cryptocurrency, namun NFT memiliki tujuan, bentuk, dan cara penggunaan yang berbeda dengan cryptocurrency.

Dikutip dari laman Asia One, kata fungible menjadi kata kunci yang membedakan NFT dengan cryptocurrency. Maksudnya, istilah itu mengisyaratkan bahwa ia dapat ditukar dengan objek yang memiliki nilai serupa. Misalnya, aset seharga 10 dolar AS dapat dibayar dengan 2 aset seharga 5 dolar AS. Contoh lainnya, 1 Bitcoin dapat ditukar dengan objek seharga 1 Bitcoin.

Sesuai maknanya, NFT hanya dibuat satu kali dan tidak dapat ditukar dengan objek lainnya meski memiliki nilai serupa. Masing-masing NFT memiliki tanda tangan digital yang berbeda sehingga tidak mungkin tertukar dengan NFT lainnya. Itulah mengapa kepemilikan NFT bersifat mutlak. Di samping itu, yang membuat NFT terbilang unik ialah adanya informasi tentang aset digital itu sendiri.

 

CARA KERJA NFT

Seperti diketahui, NFT merupakan bagian dari blockchain. Oleh sebab itu, sang pemilik NFT memverifikasi bahwa ia merupakan pemilik tunggal dari aset yang dibelinya. Misalkan Anda sudah membeli suatu aset, maka tidak seorang pun yang mampu membatalkan hak kepemilikan NFT yang sudah Anda bayarkan tersebut.

Sifat unik dari NFT ditunjukkan dengan cara aset digitalnya tidak bisa direproduksi berulang kali. Contoh, siapa pun sangat bisa melakukan screen shot dan memiliki tweet CEO Jack Dorsey yang telah terjual lewat NFT senilai 42 miliar. Akan tetapi yang punya kuasa untuk menjual hanyalah Jack Dorsey dan yang membeli NFT.

Jika Anda atau siapa pun ingin melakukan jual beli NFT, maka harus melalui proses minting NFT terlebih dahulu. Yang dimaksud minting NFT adalah proses pengubahan file digital menjadi aset di blockchain. Semua informasi mengenai aset tersebut termaktub di dalam blockchain.

Nah, untuk menjual aset digital, pemegang NFT wajib membuat akun di marketplace NFT atau yang disebut sebagai agen minting. Yang perlu menjadi perhatian Anda, tiap-tiap marketplace NFT mempunyai regulasi yang tidak sama satu sama lain. Selain itu, sebagai orang yang ingin menjual NFT, Anda harus memiliki cryptocurrency yang mendukung aktivitas jual beli di marketplace pilihan Anda.

Beberapa marketplace NFT yang cukup populer dan bisa menjadi referensi bagi Anda, antara lain Open Sea, Rarible, CryptoPunks/Larva Labs, NBA Top Shot, dan MakersPlace. Sementara marketplace NFT asal Indonesia, di antaranya adalah Toko Mall, Baliola, Paras.id, Enevti, Kolektibel, dan Artsky. 
 

 
 
 


ANTARA KETIDAKPASTIAN DAN MENJANJIKAN

Sebagai “barang baru” yang kemudian melejit dan menjadi perhatian banyak kalangan, tentu NFT tidak lepas dari pro dan kontra. Istilah non fungible atau ketidaksepadanan berujung pada kritik dari sejumlah orang. Mereka menganggap harga setinggi langit yang digelontorkan untuk item yang seyogyanya tidak terlalu berharga hanyalah suatu tindakan yang menghambur-hamburkan uang. Namun bagi mereka yang pro, NFT dipandang bukan sekadar berinvestasi secara digital tapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap sebuah karya.

Di antara pro dan kontra, ada yang berpendapat bahwa pemanfaatan blockchain sebagai tempat untuk mencatat bukti kepemilikan suatu aset berpotensi menciptakan revolusi cara berpikir khalayak mengenai kepemilikan barang. Ya, tentunya setiap kita memiliki pandangan masing-masing terkait instrumen investasi yang satu ini.

Pasar NFT memang masih tergolong baru, meskipun sejatinya sudah berkibar sejak 2014 lalu. Hal inilah yang kemudian dinilai oleh sebagian kalangan bahwa jual beli NFT tidak luput dari risiko yang mengintai. Malah ada juga yang menggarisbawahi pasar NFT masih penuh ketidakpastian atau spekulatif.

Dikutip dari Kompas, nilai transaksi digital yang berbasis NFT menurut Financial Times (2021), diperkirakan mencapai 40 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 570 triliun (dengan kurs Rp 14.250 per dollar AS) sejak 2014 sampai dengan akhir Desember 2021 lalu. Angka yang fantastis, bukan?

Di Indonesia sendiri, selain fenomena Ghozali yang melecut kesadaran sebagian masyarakat perihal NFT, Pemerintah pun mulai mengakui eksistensi pasar NFT. Bukan tidak mungkin ke depannya NFT akan bertransformasi menjadi instrumen investasi yang menjanjikan. Prospek cerah NFT setidaknya bisa dilihat dari penggunaannya yang borderless. Suatu karya yang diperjualbelikan melalui NFT bisa diakses secara global. Pangsa pasar yang begitu luas! 
 

 

 


Jika Anda tertarik dan melirik NFT untuk menambah portofolio investasi, pastikan Anda bukan sekadar ikut-ikutan tren. Kenali NFT secara cermat, mulai dari risiko, peluang, hingga tantangannya. 

About Us

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Wealth Management Group
Menara Mandiri 1 Lantai 22-23
Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55
Senayan, Jakarta
12190